BANYUWANGI tak hanya dikenal dengan pariwisata. Bumi Blambangan juga populer sebagai sentra penghasil buah durian.
Hampir daerah kecamatan yang berada di ketinggian atau di lereng gunung memiliki jenis buah durian yang istimewa. Kecamatan Songgon merupakan salah satu kecamatan yang terletak di kaki Gunung Raung. Sebagian besar desa di Kecamatan Songgon ini terkenal dengan buah durian yang memiliki cita rasa unik. Sebut saja durian pelangi, durian merah, durian cappuccino, durian bajul, hingga durian oranye. Bahkan, kini sudah ada durian nonbiji yang jadi buruan para penikmat raja buah.
Varietas durian nonbiji ini dimiliki oleh Slamet Hariadi atau sering disebut dengan Pak Boneng. Julukan nama ini disebut karena ialah yang memiliki varietas pohon durian boneng. Durian nonbiji ini memiliki rasa legit, pahit, sekaligus manis. Ukurannya cukup besar dengan daging yang lebih tebal.
Selain Kecamatan Songgon, sentra penghasil buah durian lainnya yakni berada di Kecamatan Glenmore dan Kalibaru yang juga sama-sama berada di lereng Gunung Raung. Sayangnya, durian di kawasan sebelah barat Banyuwangi ini jarang terekspos. Praktis, durian asal Glenmore dan Kalibaru jarang dikenal masyarakat. Padahal, durian di kawasan ini juga tidak kalah lezatnya dengan durian di Kecamatan Songgon dan kecamatan lainnya di Banyuwangi.
Sentra penghasil buah durian lainnya terletak di lereng Gunung Ijen, yakni berada Kecamatan Licin, Glagah, dan Kalipuro. Durian yang berada di tiga kecamatan ini juga memiliki cita rasa yang berbeda dengan kecamatan Songgon. Varietasnya juga berbeda, ada jenis si bajul dan si kasur. Ada juga durian oranye dan durian merah.
Meski nama varietasnya hampir sama, bagi penikmat buah durian cita rasa buah durian di lereng Gunung Ijen ini juga dinilai memiliki rasa yang berbeda dengan daerah Kecamatan Songgon. ”Karena dari sisi ketinggian, jenis kontur tanah, dan kawasan tanaman sekitarnya juga berpengaruh terhadap rasa buah durian ini,” ungkap Zaenal Abidin, petani buah asal Desa Segobang.
Menurut Bidin, buah durian yang biasanya memiliki cita rasa legit, terkadang rasanya juga bisa berubah saat dipanen. Hal itu diduga karena dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk faktor buah yang ada di sekeliling pohon durian. ”Curah hujan, kelembapan udara, dan suhu udara juga berpengaruh,” katanya.
Pria muda yang berkecimpung di dunia durian sejak tahun 2015 ini mengaku, sebagian besar pohon buah durian beradaptasi dengan tanaman lain. Terutama yang jaraknya berdekatan. Rasa durian bisa ”bertransformasi” mengikuti rasa tanaman yang ada di sebelahnya. Seperti petai, rambutan, hingga alpukat. ”Ada durian yang rasa aslinya manis saja. Tapi, karena berdekatan dengan pohon petai, jadi ada pahitnya,” katanya.
Sebagian besar petani yang memiliki kebun buah durian lebih suka menjualnya sendiri. Ada juga yang dijual dengan sistem tebasan per pohon. Jika kualitas bagus dan pohon durian berbuah lebat, pada satu musim pemilik bisa mendapatkan untung antara Rp 30 hingga Rp 50 juta. ”Tergantung jenis durian dan lebatnya buah di pohon. Kalau kualitasnya bagus dan lebat bisa tembus puluhan juta,” tandasnya.
Editor : Ali Sodiqin