SAAT Banyuwangi memasuki musim panen durian dan manggis, ada satu jenis buah lain yang juga meramaikan ”bursa” buah lokal musiman. Bentuknya bulat. Ukurannya relatif kecil. Satu tangkai bisa berisi sepuluh hingga belasan butir buah sumber vitamin C.
Ciri lain, kulit buahnya berwarna putih kekuningan dan mengilap. Sedangkan daging buahnya berwarna putih atau merah. Buah tersebut disebut kepundung.
Memang, dibandingkan durian dan manggis, jenis buah yang satu ini relatif kalah pamor. Harganya juga lebih terjangkau. Bisa dibilang cukup ramah di kantong. Di pasaran, satu kilogram (kg) kepundung dijual seharga kurang lebih Rp 5 ribu.
Meski demikian, buah kepundung punya tempat tersendiri di hati penikmatnya. Rasanya yang asam manis dinilai mampu menyuguhkan sensasi segar. Apalagi, tidak sedikit warga yang mengaku suka kepundung karena ”nostalgia” masa kecil dahulu.
Ya, di era 1980-an atau 1990-an, di kalangan anak-anak buah kepundung bukan hanya dimanfaatkan untuk konsumsi. Lebih dari itu, mereka juga memanfaatkan buah tersebut untuk bermain.
Hari, warga Kecamatan Giri mengatakan, saat kecil dahulu, dia bersama teman-temannya kerap makan buah kepundung ramai-ramai. Dikatakan, sudah menjadi tren di kalangan anak-anak kala itu bahwa saat makan buah kepundung, mereka akan mengupas kulit buah tersebut pelan-pelan agar kulit ari yang melapisi daging buahnya tidak sampai terkelupas.
Biasanya, dalam satu buah kepundung terdapat dua sampai empat biji. Masing-masing biji buah tersebut dibatasi semacam tangkai yang terdapat di dalam buah tersebut. Setelah semua kulit terkelupas, daging buah yang menempel pada biji akan dipisahkan namun tidak sampai terlepas dari tangkai di dalam buah tersebut. ”Setelah itu, kami akan bernyanyi mak ucu mak. Baru kemudian melahap buah kepundung tersebut,” ujarnya sembari terkekeh.
Sementara itu, salah satu pedagang buah kepundung di sekitar Jembatan Cawan, Desa Jelun, Kecamatan Licin, Bu Basri mengaku, rata-rata pembeli buah kepundung adalah warga lokal Banyuwangi. Namun demikian, tidak sedikit pula warga luar Banyuwangi yang kebetulan melintas di jalan jurusan Ijen itu yang membeli buah kepundung kepada dirinya. ”Mungkin mereka penasaran dengan buah kepundung ini,” ujarnya.
Menurut Bu Basri, buah kepundung yang daging buahnya berwarna putih atau merah sama-sama memiliki rasa asam manis. ”Tidak bisa ditentukan mana yang lebih manis. Apakah kepundung yang daging buahnya berwarna putih atau merah,” pungkasnya.
Editor : Ali Sodiqin