SRONO – Meski sedang memasuki musim hujan, tanaman buah jambu kristal tidak terpengaruh. Komoditas ini menjadi pilihan budi daya yang menjanjikan dibandingkan dengan tanaman lainnya. Biaya operasional yang murah dan perawatan yang terbilang mudah, membuat petani beralih menanam buah jambu kristal.
Salah seorang petani jambu kristal, asal Dusun Sumberwangi, Desa Wonosobo, Kecamatan Srono, Pranoto mengatakan, bertani jambu kristal sangat menguntungkan. Dia mempunyai sekitar 400 pohon jambu yang sudah berusia delapan tahun, ditanam pada lahan seluas 4.000 meter persegi. ”Modalnya tidak banyak asal sudah punya lahan, biaya operasional juga murah. Dari hasil panen jambu kristal, Alhamdulillah, bisa untuk menghidupi keluarga,” ujarnya.
Pranoto menyebut dalam setahun jambu kristal dapat dipanen selama dua kali. Biasanya waktu panen terjadi pada bulan Februari–Mei dan Juli–Oktober. ”Setelah panen, batang yang ujung harus dipotong. Agar segera berbunga kembali dan cepat berbuah,” katanya.
Menurut Pranoto, harga buah jambu kristal tidak menentu. Ketika belum memasuki panen raya harganya mencapai Rp 6.000 per kilogram. Sedangkan saat panen raya bisa turun setengah harga menjadi Rp 3.000 per kilogram. ”Kemarin harga terendah, biasanya meskipun panen raya paling rendah itu Rp 4.000. Banyak pasar yang tutup sehingga produksi buah menumpuk,” jelas pria berusia 55 tahun itu.
Satu pohon jambu kristal dapat menghasilkan buah sebanyak 10–40 kilogram. Waktu panen jambu kristal tidak serentak, pemanenan dilakukan secara bertahap yaitu satu minggu sekali. Selama satu minggu Pranoto dapat memanen buah jambu kristal sebanyak tiga kuintal sampai empat kuintal. Jika diakumulasi selama satu masa panen, buah jambu kristal dapat mencapai 12 ton.
Penyakit yang sering menyerang jambu kristal adalah lalat buah. Namun, Pranoto sudah terbiasa menghadapinya. Dia menyiapkan jebakan dari botol plastik yang dilumuri minyak. Tidak hanya itu dia juga selalu membungkus buahnya menggunakan plastik atau kresek. Hal itu dia lakukan untuk menjaga kualitas buah dan terhindar dari gagal panen. Pranoto rutin melakukan pemupukan selama 4 bulan sekali. Biaya yang dikeluarkan untuk pemupukan sebesar Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta. (mg2)
Editor : Ali Sodiqin