JawaPos.com - Satu lagi alternatif sumber vitamin C yang layak dijajal adalah buah wadung. Sekilas, bentuk buah ini mirip jeruk. Warna kulit dan daging buahnya relatif sama, yakni oranye. Hanya saja, warna daging buah yang tipis dan menempel pada biji cenderung lebih cerah dibandingkan dengan warna kulitnya.
Oleh masyarakat Banyuwangi, kulit buah wadung biasanya dikeringkan dan kemudian dijadikan bumbu dapur. Tepatnya untuk perasa asam pada masakan. Termasuk untuk bumbu sayur asem.
Bahkan, sebagian orang lebih suka menggunakan kulit wadung untuk memasak sayur. Khususnya jenis sayur asem. Sebab, dengan memanfaatkan kulit wadung untuk perasa asam, kuah sayuran tersebut jadi lebih bening dibandingkan jika menggunakan asam Jawa.
Jamiyah, warga Desa Pendarungan, Kecamatan Kabat, Banyuwangi, mengaku suka memasak sayur asem menggunakan wadung. ”Rasanya segar. Enak. Kuahnya tidak butek (keruh),” ujarnya.
Usut punya usut, selain dimanfaatkan untuk bumbu dapur, banyak pula warga yang suka mengonsumsi buah wadung. Mereka memakan daging buah yang menempel di biji dengan cara dikulum seperti permen.
Irham, 34, warga yang tinggal Kelurahan/Kecamatan Kalipuro mengatakan, saat masih sekolah dahulu, dirinya sering mengonsumsi buah wadung. ”Rasanya kombinasi asam dan manis,” akunya.
Sementara itu, sejumlah sumber menyebut buah wadung mengandung vitamin C. Selain bermanfaat menjaga daya tahan tubuh, mengonsumsi buah yang satu ini juga dapat menyembuhkan sariawan.
Selain itu, wadung juga mengandung zat besi yang bermanfaat mencegah atau meminimalkan anemia dan sakit kepala. Bukan itu saja, buah wadung juga mengandung vitamin A dan Beta Karoten yang dibutuhkan untuk menyehatkan mata. (sgt/bay/c1)