Radarbanyuwangi.id – Kasus kematian kematian Bintang Bilqis Maulana, 14, santri di salah satu pesantren di ponpes Desa Kranding, Mojo, Kediri Kota, menemui babak baru.
Penyidik Polresta Kota Kediri yang menangani perkara ini menetapkan empat tersangka atas kematian remaja asal Glenmore Banyuwangi tersebut.
Empat tersangka tersebut adalah teman korban di pondokan yakni MN, 18, warga Sidoarjo, MM, 18, warga Nganjuk, MF, 18, warga Bali, dan AK, warga Surabaya.
Mereka kini sudah diamankan di Polres Kota Kediri untuk proses hukum lebih lanjut.
Seperti dilaporkan Radar Kediri, penetapan tersangka kepada empat pelaku terduga penganiayaan terhadap Bintang Bilqis Maulana disampaikan Kapolres Kediri Kota AKBP Bramastyo Priaji Senin (26/2).
Dia menyatakan empat tersangka dalam kasus penganiayaan dan pengeroyokkan tersebut telah diamankan.
“Dari hasil koordinasi kami dengan Polresta Banyuwangi, kami melaksanakan tindak lanjut berupa olah TKP dan pemeriksaan saksi. Minggu malam, kami amankan 4 orang dan kita tetapkan tersangka, dan kita lakukan penahanan,” ujar AKBP Bramastyo.
Masih kata Kapolres, motif para pelaku menganiaya korban hingga tewas karena salah paham.
Kini pihaknya masih mendalami kasus ini untuk mengungkap penyebab kematian santri muda asal Dusun Kendenglembu RT 002 RW 005 Desa Karangharjo Kecamatan Glenmore Kabupatem Banyuwangi.
“Penyebab kematian korban masih dalami dari saksi-saksi yang ada di Kediri, di lingkup pesantren maupun dokter yang menerima jenazah di Banyuwangi,” tegasnya.
Keempat pelaku kini harus mendekam di sel tahanan Polres Kediri Kota.
Mereka terancam pasal 80 ayat 2 tentang perubahan Undang-Undang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman selama 15 tahun penjara.
Sekedar diketahui saja. dugaan pengeroyokan atas Bintang Bilqis Maulana terjadi pada Rabu (21/2) malam.
Saat itu, Bintang yang ada di pesantren didatangi oleh dua pelaku. Mereka menyoal sikap siswa MTs itu yang sering melapor ke orang tuanya terkait kondisi di pondok.
“Beberapa hari sebelumnya memang korban sudah bilang ke ibunya kalau tidak kerasan di pondok. Pingin pulang,” kata sumber koran ini.
Melihat korban sering sambat kepada ibunya, salah satu pelaku yang juga kerabat korban lantas menegur. Puncaknya, dua pelaku diduga langsung memukuli Bintang.
Tak berselang lama, datang dua pelaku yang diduga juga melakukan pemukulan. Aksi mereka baru berhenti setelah Bintang ditolong oleh para santri lainnya.
Akibat pengeroyokan tersebut, Bintang menderita luka lebam di beberapa bagian tubuhnya. Salah satu yang terlihat adalah di pipi kanan dan kiri.
“Awalnya diobati sendiri di pondok. Baru dibawa ke RS Jumat (23/2) pagi setelah kondisinya melemah,” lanjut sumber tersebut.
Meski sempat dirawat di RS Arga Husada Ngadiluwih, Bintang tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia Jumat pagi. Jenazahnya dibawa ke pesantren sekitar pukul 09.00 sebelum kemudian dipulangkan ke Banyuwangi.
Adalah pihak keluarga yang langsung histeris melihat anaknya pulang menjadi mayat. Mereka semakin syok melihat luka lebam di beberapa bagian tubuh Bintang.
Saat itu juga keluarga melapor ke Polsek Glenmore. Laporan lantas ditindaklanjuti oleh Polres Banyuwangi hingga dilakukan visum.
Dalam perkembangannya, laporan ditangani Polres Kediri Kota karena kejadian dugaan pengeroyokan terjadi di Kediri.
Sementara itu, pengasuh pesantren tempat santri tersebut menimba ilmu di Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Fatihunada mengaku, tidak tahu kejadian itu.
Pada Jumat (23/2), dia tiba-tiba diberi laporan jika santrinya itu sudah meninggal dunia.
”Saat itu saya capai dan dibangunkan. Saya dapat laporan anak itu jatuh terpeleset di kamar mandi. Saat itu juga tidak muncul dugaan dan saya tidak sempat melihat karena mengurus ambulans dan keperluan untuk berangkat ke sana (Banyuwangi),” kata Gus Fatih, sapaan akrabnya.
Dia kemudian mencari nomor telepon keluarga santri tersebut dan menghubungi. Keluarga berencana memakamkan di Banyuwangi, sehingga dia mencari mobil ambulans untuk membawa jenazah.
Hingga kemudian di rumah duka ada kejadian viral itu (video keluarga tidak terima dengan kematian santri tersebut).
Fatihunada mengaku tidak tega saat melihat kondisi tubuh santri tersebut saat dibuka di rumah duka, Banyuwangi. Ada memar dan wajahnya bengkak.(*)
Editor : Niklaas Andries