Pada dasarnya, keberagaman di Indonesia bisa menjadi sumber atau pun peluang dalam proses pembangunan bangsa. Sebab Negara kita, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, yang bisa dikembangkan dan diolah menjadi sumber penghasilan negara. Namun, karena keterbatasan pola pikir dan semangat juang yang kecil serta kurangnya kesadaran diri dari setiap masyarakat Indonesia, yang tak bisa memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Sehingga membuat negara tidak dapat merasakan lebih jauh dampak dari melimpahnya sumber daya yang ada. Malah tergantikan oleh kerugian yang ditimbulkan dari kebodohan yang tidak kita sadari sebelumnya.
Saat ini, perlu kiranya kita memikirkan pembangunan bangsa untuk peningkatan kualitas dan mutu masyarakat Indonesia, yang juga harus didasari dengan rasa persatuan dan kesatuan yang tertanam di setiap jiwa masyarakat Indonesia. Agar tidak ada lagi konflik yang bisa mengancam persatuan bangsa. Melalui Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan bangsa Indonesia, yang harus kita terapkan makna yang terkandung di dalamnya. Namun, seiring berkembangnya zaman makna yang terkandung dalam Bhinneka Tunggal Ika seakan tak ada artinya. Luntur perlahan demi perlahan, dalam jiwa masyarakat Indonesia. Sehingga saat ini banyak sekali peristiwa yang merugikan bangsa.
Misalnya, peristiwa berdarah yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, yang terjadi lantaran sikap fanatik yang terlalu tinggi dan berlebih. Sehingga, membuat ratusan nyawa tak berdosa melayang begitu saja. Perlu kiranya kita ketahui, sikap fanatik ini muncul akibat dari adanya keegoisan yang membelenggu diri kita.
Seharusnya, sikap fanatik ini harus kita imbangi dengan sikap semangat toleransi dan sikap saling menghargai yang tinggi. Agar tidak menjadi pemicu timbulnya perpecahan, yang dapat membahayakan nyawa manusia. Selain itu, sikap fanatik terhadap sesuatu juga bisa menjauhkan diri kita dari makna luhur Bhinneka Tunggal Ika, yang menjadi pedoman sekaligus pandangan hidup kita dalam berbangsa dan bernegara.
Serta, dampak yang akan diterima oleh seseorang yang memiliki sikap fanatisme yang tinggi, bisa mengantarkan dirinya menuju pada kematian yang tidak kita duga. Seperti, yang kita saksikan bersama pada peristiwa Stadion Kanjuruhan berdarah, setelah laga Arema versus Persebaya. Siapa yang menyangka, jika laga tersebut akan berakhir dengan begitu tragis dan akan menelan korban jiwa. Bahkan pihak keamanan yang semestinya bertugas menjaga dan meminimalkan ketegangan, malah menjadi pemicu meledaknya peristiwa Kanjuruhan berdarah melalui sikap yang bisa dikatakan terlalu tergesa-gesa dengan menyemprotkan gas air mata yang efek sampingnya sangat berbahaya.
Peristiwa menyedihkan ini membuat dunia sepak bola Indonesia berduka untuk yang kesekian-kalinya. Sungguh memilukan bukan? Sepak bola yang semestinya menjadi tontonan dan hiburan masyarakat untuk refresh sejenak dari pekerjaan, kini malah menjadi tempat berdarah yang membuat siapa saja merasa iba.
Hal ini merupakan cerminan dari merosotnya nilai moral dan etika dalam bermasyarakat dan bernegara. Sehingga karena hal kecil saja, kita bisa terpecah belah. Bahkan kehilangan saudara-saudara kita sebangsa Indonesia. Hal ini juga merupakan dampak dari tidak adanya rasa peduli dan cinta terhadap perkembangan bangsanya.
Dalam kehidupan, setiap manusia tidak akan pernah terlepas dari rasa salah dan cinta. Sebab, sejatinya manusia diciptakan dengan dibekali perasaan yang menjadikan manusia tersebut bisa peka dan sadar, dengan apa yang ada di sekitarnya. Terutama rasa cinta terhadap negaranya.
Namun dalam realita, tak jarang kita jumpai orang-orang yang tak peka dan tak peduli terhadap perkembangan negaranya. Bahkan, ada yang sampai merusak citra negaranya dengan sikap yang tak seharusnya dilakukan. Misalnya, sikap fanatisme terhadap sesuatu seperti yang terjadi pada peristiwa berdarah di Stadion Kanjuruhan.
Kita sadar, Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai macam unsur perbedaan. Entah, itu ras, suku, agama, dan lain sebagainya. Sehingga, tak dapat dihindari adanya sikap fanatik dari setiap orang terhadap berbagai macam perbedaan yang ada. Tapi, apakah tidak bisa jika kita juga menerapkan sikap saling menghargai antar sesama? Hal ini merupakan salah satu dari sekian banyak bukti nyata, yang menunjukkan bahwa masih minimnya rasa cinta tanah air, dan kesadaran diri setiap orang terhadap negaranya.
Indonesia umpama sebuah keluarga, di dalamnya terdapat banyak perbedaan dan karakter. Serta hal-hal yang terkadang terjadi di luar prediksi pada umumnya. Jika ini tidak diselaraskan, akan mengakibatkan terjadinya berbagai macam masalah yang mengancam keutuhan serta keharmonisan yang terjalin di dalamnya.
Namun, semua itu bisa kita atasi dengan sikap saling menghargai dan mengerti. Layaknya sebuah anggota tubuh yang ada, guna saling melengkapi dan saling bekerja sama, untuk mencapai bahagia. Misalnya ketika mata menangis, ada tangan yang bersedia menghapus tetesan air mata yang mengalir. Ada mulut yang senantiasa memberikan semangat untuk tidak putus asa, serta berani melangkah. Ada pula hati yang menjadi pembimbing dalam meniti jalan kehidupan di depan mata. Semuanya saling bahu-membahu, mendukung satu dengan lainnya, agar tak ada peristiwa yang menelan korban jiwa. (*)
*) Siswa Aktif SMA Ibrahimy, Ponpes Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo.
Editor : Gerda Sukarno Prayudha