Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Milenial Menolak Gamon Tanpa Tapi

Gerda Sukarno Prayudha • Senin, 17 Oktober 2022 | 16:38 WIB
Photo
Photo
ISTILAH gamon sering kali muncul di media sosial dan dalam percakapan anak muda masa kini. Selain itu, istilah gamon sering kali dipakai sebagai bahan candaan atau ledekan di kalangan anak muda. Khususnya mereka yang berteman dekat dan tahu kisah cinta temannya.

Sebenarnya apakah itu gamon? Secara garis besar, arti gamon merupakan bentuk akronim dari Gagal Move On. Oleh karena itu, di kalangan anak muda, istilah ini sering dipakai untuk menggambarkan sosok yang gagal move on alias tak bisa melupakan mantan kekasih. Sebenarnya istilah gamon tidak hanya dapat digunakan untuk mengungkapkan perasaan kecewa tentang mantan pacar.

Salah satu yang kita bahas yaitu gamon tentang “Mengapa kita harus gamon atas keburukan seseorang?” Seperti teman saya yang habis di-bully oleh temannya sendiri. Memang mungkin awal dia tidak terima diperlakukan seperti itu, tetapi jika diingat terus apa gunanya? Malah dia tersiksa dengan batinnya sendiri dan jadi seorang pendendam.

Nah, gamon yang seperti ini harus kita cari solusinya agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Banyak solusi agar hati kita menjadi tenang ibaratnya banyak jalan menuju Roma, tapi karena Tuhan lebih tahu Roma mana yang terbaik untuk kita, jadi kita ikuti saja mana yang terbaik (Jerome Polin).

Banyak solusi untuk kita terhindar dari sikap tersebut caranya dengan menenangkan diri, alihkan fokus untuk berpikir hal-hal positif, belajar untuk ikhlas. Nah itu sedikit tips supaya kita bisa terhindar dari sikap tersebut. Memang sih, susah untuk melakukan hal tersebut tapi kalau kita punya sifat seperti itu bukankah itu menyusahkan diri kita sendiri? Bukankah itu juga merugikan diri kita sendiri?

Sekarang apakah manfaat dari kita gamon atas keburukan seseorang?  Menurut saya tidak ada manfaatnya sama sekali. Yang ada malah membuat kita kepikiran, kena mental, sakit fisik, bahkan bisa jadi menjadi seorang pendendam.

Coba dipikirkan lagi dengan kepala dingin. Misalnya, kita menjadi seorang pendendam yang ada malah kita ikut dipandang buruk oleh orang lain. Lebih baik kita memperbaiki diri supaya menjadi pribadi yang lebih baik. Daripada kita mengingat keburukan seseorang mending kita mengingat kebaikannya saja. Karena sejahat-jahatnya lupa adalah melupakan kebaikan seseorang.

Mengapa kita harus mengingat kebaikan seseorang? Nah, ada beberapa alasan mengapa kita tidak boleh melupakan kebaikannya.

Yang pertama, menjauhkan diri dari sifat sombong. Dengan mengingat kembali kebaikan dari orang lain, kita menjadi sadar bahwa kita bukanlah siapa-siapa. Kita pun akan sadar bahwa ke depannya, sewaktu-waktu, kita akan tetap membutuhkan bantuan orang lain. Dengan pikiran seperti itu, kita pun akan terhindar dari sifat sombong yang merugikan diri sendiri.

Yang kedua, sebagai pengingat untuk selalu bersyukur. Mengingat kebaikan orang lain juga akan membuat kita lebih mudah bersyukur. Karena kita akan menyadari bahwa ternyata masih ada orang baik yang mau berbuat baik kepada kita.

Yang ketiga, Sebagai motivasi untuk tetap mempertahankan silaturahmi atau hubungan baik dengan orang tersebut. Karena sering kali kita renggang untuk silaturahim karena alasan sibuk atau yang lainnya. Dengan mengingat kebaikan orang lain, kita akan termotivasi untuk tetap mempertahankan silaturahim.

Yang keempat, Sebagai pengingat di saat kita sedang memiliki masalah atau konflik dengan orang tersebut. dalam hidup ini kita tidak bisa terlepas dari yang namanya masalah atau konflik. Bahkan, bisa jadi kita akan memiliki masalah atau konflik dengan orang yang dulunya pernah berbuat kebaikan kepada kita. Nah, bila kita mau mengingat kembali kebaikan apa saja yang pernah dilakukan orang yang sedang berkonflik dengan kita, kita akan lebih mudah minta maaf atau memaafkan orang tersebut.

Yang kelima, menginspirasi kita untuk berbuat baik juga ke orang lain. Dengan selalu mengingat kebaikan orang lain, kita akan lebih mudah termotivasi untuk memberi kebaikan pula terhadapnya, meskipun ia mungkin tidak pernah mengharapkan. Selain itu, kebaikan orang lain juga mungkin akan menginspirasi kita untuk berbuat kebaikan juga ke orang lain. Karena sebagai makhluk sosial, memang ada masanya di mana kita perlu ditolong, namun ada juga waktu di mana kita yang harus menolong.

Maka dari itu, janganlah Anda melihat dari sisi buruk. Sebenarnya sisi baik masih banyak kita ambil. Kebanyakan orang tidak melihat hal tersebut, karena mereka langsung tertuju kepada sisi buruk. Melihat sisi buruk mereka pun akan merugikan diri kita sendiri. (*)

 

*) Siswa kelas XII IPA 3, MAN 1 Banyuwangi.

  Editor : Gerda Sukarno Prayudha
#artikel #opini #Gamon