Dalam kata lain, derby adalah pertandingan yang menyajikan dua kesebelasan dalam satu wilayah. Tidak terlepas di negara kita, ada Derby Indonesia atay El Clasicco Indonesia yang mana menyajikan antara Persib Bandung dengan Persija Jakarta. Di Jawa Tengah ada PSIS Semarang dengan Persis Solo. Di Jawa Timur ada Arema FC tim asal Kabupaten Malang dengan Persebaya Surabaya.
Sabtu, 1 Oktober 2022 menjadi sejarah besar dalam dunia sepak bola Indonesia, laga lanjutan Liga 1 di tanah air itu menyajikan antara Arema FC dengan Persebaya Surabaya. Pertandingan yang digelar pada malam hari di Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang tersebut menghasilkan skore akhir 2-3 untuk kemenangan tim Persebaya.
Dari hasil ini terlihat dari raut wajah para pemain, pelatih, serta staf Arema sangat lelah dan kecewa terhadap capaian selama 90 menit. Bahkan jika ditotal untuk tambahan waktu dari kedua babak bisa mencapai 13 menit. Sungguh disayangkan karena terlihat beberapa menit setelah babak kedua usai, ada sebagian suporter turun menuju lapangan. Entah apa yang dibicarakan ketika lari menuju beberapa pemain Arema FC masih di tengah lapangan.
Tidak sampai mendekat atau berkomunikasi dengan pemain, beberapa aparat sudah siaga menjaga dan menghalangi suporter agar tidak mendekati tim. Dari pandangan jarak jauh inilah, membuat ribuan suporter akhirnya turun.
Versi turunnya suporter ke lapangan ini berbeda-beda. Ada yang mengatakan suporter kecewa sehingga ingin menyerang tim lawan dan merusak fasilitas stadion. Versi kedua mengatakan, suporter turun untuk memprotes manajer dan staf dengan hasil yang selalu tumbang di kandang. Sebelumnya, Persija Jakarta dan Persib Bandung telah meraih kemenangan di Kanjuruhan.
Menurut versi lain lagi, mereka hanya ingin memberikan dukungan kepada seluruh pemain agar main ngeyel, main semangat, dan main dengan kerja keras. Dengan membeludaknya suporter turun ke lapangan, tentu jajaran aparat bergegas menenangkan dan mengusahakan supaya stadion dalam keadaan kondusif. Tetapi karena kalah jumlah, petugas kewalahan dan terpaksa menggunakan tembakan gas air mata yang berujung kerusuhan dan kegaduhan.
Menurut beberapa info di medsos, panitia pelaksana diduga telah memaksakan jumlah suporter melebihi kapasitas stadion. Sehingga ketika kerusuhan terjadi, banyak penonton kesulitan keluar stadion lantaran pintu keluar yang minim. Banyak orang kehilangan teman, saudara, dan keluarga, karena panik, sesak napas, berdesakan, dan kondisi gelap di stadion.
Jika dilihat secara hukum dan peraturan, suporter Persebaya sudah patuh peraturan dengan tidak hadir di Malang. Mereka menonton melalui layar kaca di rumah masing-masing atau layar lebar di tempat ramai atau warung kopi.
Sementara itu, kejadian ini mengingatkan kita pada 24 Mei 1964 di Estadio Nacional, Peru. Saat itu menewaskan 328 korban meninggal dunia. Tentu sangat disayangkan jika hanya karena sebuah pertandingan sepak bola, membuat ratusan orang kehilangan nyawa.
Dalam sebuah pertandingan, menang atau kalah adalah hal yang wajar. Mungkin malam ini kalah, tapi bisa jadi next match meraih kemenangan. Dewasa untuk mendukung sebuah tim tentu juga harus dipikir dan ditanamkan. Kalah hari ini, bisa menang esok hari. Tetapi mati hari inil, tak akan pernah hidup kembali dan tentu seumur hidup. Ibu dan keluarga yang ditinggalkan akan membenci sepak bola.
Semoga hal ini menjadi yang terakhir di Indonesia dan dunia. Untuk keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan ketabahan. Almarhum diampuni segala dosa, menempati tempat yang terbaik di sisi-Nya. Dan untuk yang terluka semoga segera diberikan kesembuhan. Amin. (*)
*) Guru MAN 1 Banyuwangi. Editor : Ali Sodiqin