Yang jelas, masyarakat Banyuwangi memaknai kiling tersebut bermacam-macam. Masyarakat agraris memiliki ketergantungan sangat tinggi dengan alam atau dengan kekuatan adi-kodrati. Nah, kiling bisa berbunyi tergantung tiupan angin yang notabene merupakan kekuatan alam semesta. Maka, ada yang memaknai kiling sebagai pengiling-iling atau media untuk mengingat kepada Tuhan Yang Mahakuasa, Sang Pencipta Alam Semesta.
Sedangkan dari unsur filosofi, kiling terdiri dari dua bagian. Sebelah kanan dan sebelah kiri. Dua sisi tersebut masing-masing merupakan bagian lanang (laki-laki) dan bagian wadon (perempuan).
Artinya, kepercayaan kuno masih melekat di situ. Kepercayaan bahwa asal mula kejadian alam atau manusia tidak bisa dimungkiri ada unsur laki-laki dan perempuan. Seperti bumi yang dilambangkan sebagai ibu (perempuan) dan langit sebagai perlambang laki-laki. Maka, kiling juga sebagai ekspresi ketuhanan atau paham religiusitas masyarakat Banyuwangi.
Sementara itu, dari sisi tempat pemasangannya, kiling selalu ditempatkan atau dipanjer di tempat yang tinggi. Membuat panjer kiling harus susah payah, memasangnya pun harus susah payah. Ini menjadi simbol bahwa mengingat-ingat Tuhan Yang Mahakuasa adalah sesuatu yang diperjuangkan. Rasa ketuhanan tidak bisa hadir secara sendiri. Harus melalui ibadah, seperti puasa, dan lain sebagainya.
Di samping makna filosofis tersebut, dahulu kiling juga menjadi salah satu simbol status sosial seseorang. Seseorang yang memiliki kiling yang panjang dan besar serta ditempatkan di tempat yang bagus, maka status sosial petani atau pemilik kiling tersebut akan meningkat. (sgt/bay/c1) Editor : Rahman Bayu Saksono