Selain fakta yang menggembirakan, ada pula fakta lain yang hingga kini masih terlihat jelas di tengah masyarakat. Kelesuan ekonomi, misalnya, hingga kini masih bisa dirasakan oleh banyak orang. Bahkan, bisa dirasakan dengan sangat kentara oleh siapa pun. Meskipun perekonomian dunia, termasuk Indonesia, bisa dikatakan mulai menggeliat, tapi belum cukup mampu mengembalikan kondisi ekonomi seperti sebelum covid-19 melanda.
Dalam ruang lingkup yang lebih sempit, selama pandemi melanda, diketahui banyak masyarakat dan pengusaha Banyuwangi yang terkena imbas, dan banyak program pemerintah _selain program kesehatan_ yang terpaksa di- refocusing. Nah, apakah setelah masa pandemi berlalu seperti sekarang ini, persoalan-persoalan tersebut telah teratasi?
Apakah warga dan pelaku usaha yang terkena imbas itu kini telah mampu membuka usaha lagi?
Mungkin saja ada sebagian dari mereka kini telah aktif kembali berkarya dan membuka usaha lagi. Itulah yang dimaksud dalam tulisan ini bahwa sebetulnya masa-masa sulit akibat serangan Covid-19 itu hingga kini belum lenyap.
Pemulihan
Mengembalikan kondisi perekonomian ke kondisi seperti sebelum pandemi, bahkan lebih baik lagi, bukanlah hal mudah. Dan, tugas itu tidak bisa dibebankan kepada pihak pemerintah semata. Terkait tugas berat itu, dibutuhkan kerja sama yang baik dan goodwill yang tulus dari segenap elemen masyarakat. Tidak terkecuali dari kalangan pengusaha, baik pengusaha besar, kecil, maupun mikro.
Meski demikian, secara umum upaya Indonesia dalam menjaga keadaan ekonomi pasca pandemi tergolong berhasil. Tercatat terjadi kenaikan sebesar 5,01% pada triwulan I 2022 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Keberhasilan itu tidak terlepas dari andil sektor UMKM. Lima lapangan usaha di dalam UMKM berkontribusi sebesar 65% terhadap Product Domestic Bruto (PDB) Indonesia.
Diketahui bersama, salah satu penggerak ekonomi nasional adalah konsumsi dalam negeri. Jika ingin perekonomian bergerak, maka tingkat konsumsi harus ditingkatkan. Dengan kata lain, semakin tinggi konsumsi dalam negeri, maka ekonomi dalam negeri akan semakin bergeliat. Namun, pandemi yang melanda telah mengubah pola konsumsi masyarakat dalam berbelanja. Dulu masyarakat suka berbelanja ke pasar, tapi saat ini masyarakat lebih suka berbelanja secara daring atau online.
Di sini peran serta kalangan pengusaha diperlukan. Pengusaha harus mampu menjawab perubahan pola berbelanja yang terjadi di tengah masyarakat tersebut dengan cara terus meng-upgrade diri. Meng-upgrade diri merupakan salah satu upaya dalam menjaga tingkat konsumsi masyarakat dalam negeri. Selain itu, juga merupakan bagian dari upaya meningkatkan daya saing. Upaya peningkatan daya saing pengusaha di masa pemulihan pasca pandemi ini dapat dilakukan melalui percepatan transformasi digital.
Digitalisasi Sebagai Kunci
Mengubah pola berbisnis dari model klasik ke model modern, yakni digital adalah kuncinya. Selain meng-upgrade diri sendiri, kalangan pengusaha yang telah melek digital diharapkan juga bersedia mendorong rekan-rekannya, terutama pelaku usaha retail tradisional yang belum melek digital, agar mampu beradaptasi dan mengadopsi perkembangan teknologi di era digital ini.
Dengan makin banyaknya pelaku usaha yang melek digital dan memasarkan produk-produknya secara online, perekonomian Indonesia diharapkan akan semakin meningkat. Selain itu, diharapkan pula akan semakin banyak orang-orang yang akibat pandemi menganggur kemudian menjadi berpenghasilan lagi dan orang-orang yang gulung tikar kembali membuka usahanya.
Dapat disimpulkan, dalam membantu pemulihan ekonomi pasca pandemi, pengusaha harus semakin berdaya saing dan adaptif serta inovatif dalam menghadapi perubahan yang terjadi.
Kini sudah bukan zamannya sukses sendirian. Kini adalah zaman sukses bersama-sama, dan bersinergi dalam membangun perekonomian bangsa. Hal ini selaras dengan prinsip sistem ekonomi Indonesia yang sebenarnya, sistem ekonomi gotong royong. Oleh karena itu, meng-upgrade diri dan membantu rekan-rekan sesama pengusaha untuk melek digital adalah perbuatan yang sudah selayaknya dilakukan sebagai bentuk kepedulian akan kesejahteraan. (*) Editor : Ali Sodiqin