Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Nomophobia, Apakah Aku Salah Satunya?

Ali Sodiqin • Kamis, 30 Juni 2022 | 22:36 WIB
Desi Trianita, Ketua Prodi Sarjana Kebidanan dan Pendidikan Profesi Bidan, Stikes Banyuwangi.
Desi Trianita, Ketua Prodi Sarjana Kebidanan dan Pendidikan Profesi Bidan, Stikes Banyuwangi.
SEIRING dengan perkembangan teknologi, kehidupan manusia telah banyak difasilitasi oleh adanya smartphone atau ponsel. Beragam fitur yang ditawarkan, memberikan sejuta manfaat dan keberuntungan bagi penggunanya, termasuk dalam memfasilitasi kebutuhan manusia. Kemudahan akses yang dirasakan, tidak sedikit mengakibatkan manusia menjadi ketergantungan dengan penggunaan ponsel.

Kini marak sekali, bahwa ponsel merupakan salah satu benda yang wajib dibawa ke mana pun bagi sebagian orang. Khususnya bagi mereka yang termasuk dalam generasi milenial. Ada pula yang menjadikan ponsel sebagai bagian dari hidupnya, merasa khawatir apabila terlepas dari ponsel. Kondisi ini sering disebut dengan Nomophobia atau NO MObile PHOne phoBIA.

Nomophobia menggambarkan suatu kondisi psikologi ketika seseorang begitu takut terlepas dari konektivitas ponsel. Kondisinya ditandai dengan ketergantungan atau adiksi terhadap ponsel yang dimiliki. Biasanya cenderung terjadi pada remaja generasi Z karena mereka hidup di era digital, dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat. Teknologi sudah menjadi bagian dari hidup mereka. Apa pun yang dilakukan kebanyakan berhubungan dengan dunia maya. Sehingga mereka terlalu asyik dengan perangkat ponsel atau smartphone.

Di era kemajuan teknologi seperti sekarang, memang tidak dapat dipungkiri, bahwa peran ponsel begitu penting. Sebagian besar anak-anak juga sudah memiliki ponsel pribadi masing-masing.

Mereka yang terserang Nomophobia jika tidak memegang smartphone selama beberapa menit saja misalnya, sudah muncul rasa cemas, khawatir, bingung, atau bahkan gelisah tanpa diketahui sebabnya. Tidak jarang pula, kondisi tersebut menyebabkan seseorang dengan mudah tersulut amarah apabila dilarang menggunakan ponsel.

 Tanda Gejala Nomophobia


Kejadian Nomophobia ini ditandai dengan gejala:

1) munculnya gejala emosional seperti khawatir, takut atau panik ketika berpikir tidak memiliki ponsel atau tidak dapat menggunakannya. Bahkan bisa meningkat hingga muncul rasa stress apabila tidak dapat menggunakan ponsel atau kehilangan ponsel.

2) muncul gejala fisik, meliputi sesak didada atau kesulitan bernafas, gemetar, berkeringan, merasa akan pingsan, pusing, bingung hingga muncul juga detak jantung menjadi cepat.

Selain gejala di atas, sebagai orang lain kita juga bisa melihat ciri-ciri orang yang terkena Nomophobia. Di antaranya yaitu selalu membawa smartphone ke mana pun pergi. Termasuk ke tempat lainnya yang dirasa tidak lazim seharusnya membawa ponsel, kecuali dalam kondisi darurat atau kondisi tertentu. Terkadang orang yang terkena Nomophobia bisa saja melawan kodratnya sebagai makhluk sosial. Dengan kata lain, mereka menjadi kurang bersosialisasi di dunia nyata. Ciri lain yang muncul yakni lebih memilih mengutak-atik ponsel dibanding memilih makan.

Contoh kebiasaan lainnya misalnya pada waktu belajar lebih mengutamakan smartphone daripada buku pelajaran. Sebentar-sebentar melihat ke layar smartphone. Kapan dan ke mana pun pergi selalu membawa charger atau powerbank, karena takut gawainya mati. Ketika smartphone-nya mati, pecandu akan tergesa-gesa mengisi baterai smartphone-nya. Ciri terakhir adalah pecandu akut mengakibatkan bungkuk pada punggung, dan sakit mata.

 Cara Mendiagnosis


Selama ini belum ada klinik atau panti rehabilitasi terhadap pengidap nomophobia. Karena dari ­berbagai ciri, dan dampak nomophobia hampir mirip dengan ­pecandu narkoba, yang hanya dia sendiri yang mampu mengobatinya. Lalu, bagaimana cara mendiagnosis seseorang terkena Nomophobia?

Jika sudah merasakan adanya tanda gejala dan ciri yang dialami, alangkah baiknya untuk segera mengunjungi dokter terapi. Kunci yang perlu diingat adalah sering menggunakan ponsel atau merasa khawatir apabila terlepas dengan ponsel bukan secara langsung menjadikan seseorang tersebut terkena Nomophobia.

Ada beberapa gejala-gejala utama yang apabila dialami selama enam bulan atau lebih yang sangat mengganggu pada aktivitas serta kualitas hidup yang menentukan, apakah seseorang tersebut mengalami Nomophobia atau tidak. Dan tentunya, didukung dengan hasil konsultasi dengan pakar kesehatan yang berkaitan.

Telah banyak penelitian yang dilakukan oleh masyarakat terkait Nomophobia. Seperti penelitian yang dilakukan oleh YouGov di Inggris, menemukan hampir 53 persen pengguna ponsel akan cemas apabila merasakan dalam tiga kondisi (kehilangan ponsel, habis baterai, dan kuota internet di luar jangkauan). Sedangkan peneliti lain TechJuri mengemukakan data 40 persen remaja kecanduan ponsel.

 Dampak Nomophobia


Kondisi Nomophobia tentunya juga akan memberikan dampak yang kurang baik terhadap kesehatan. Gangguan kesehatan yang biasa ditemui adalah gangguan tulang belakang akibat adanya tekanan pada tengkuk ketika menatap layar ponsel dalam waktu lama.

Rasa kaku atau mati rasa pada siku (cubital tunnel syndrome) juga biasa ditemui akibat terlalu lama menggunakan ponsel. Selain itu, mata yang tegang sehingga mengakibatkan sakit kepala juga sering terjadi. Pendengaran bisa juga bermasalah sebagai akibat mendengarkan music terlalu lama dengan volume kencang.

Yang jarang terdengar namun bisa juga terjadi adalah cedera jempol (radang sendi ibu jari) akibat sering menulis di layar ponsel. Jika hal ini dibiarkan, bisa menyebabkan tendonitis yaitu rasa ngilu terus menerus. Bahkan sperma pria pun bisa terganggu. Hal itu akibat penggunaan WiFi lebih dari empat jam sehingga radiasi elektromagnetik berpengaruh terhadap jumlah sperma (menurut sebuah penelitian di tahun 2011).

Untuk menghindari terjadinya gangguan Nomophobia, setiap orang harus mampu mengendalikan diri sendiri dalam menggunakan ponsel. Meskipun kebutuhan atau tuntutan kerja atau dunia pendidikan terhadap kecanggihan teknologi dirasa tinggi, namun mengatur penggunaan ponsel dalam kehidupan sehari-hari tetap dapat dikendalikan.

Semuanya tergantung bagaimana kepedulian pengguna ponsel itu sendiri. Khususnya para remaja atau generasi milenial. Peran orang tua di rumah, dan guru di sekolah, juga menjadi salah satu factor yang dapat berpengaruh terhadap pencegahan kejadian Nomophobia. (*) Editor : Ali Sodiqin
#kolom #artikel #refleksi #opini #persfektif