Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Eksistensi ”Bahagia Itu Sederhana”

Ali Sodiqin • Rabu, 29 Juni 2022 | 01:05 WIB
Muh. Slamet Hariyadi, Siswa SMA Ibrahimy, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo.
Muh. Slamet Hariyadi, Siswa SMA Ibrahimy, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo.
HIDUP memang tidak selamanya berjalan dengan baik dan lancar. Ada kala, setiap orang mengalami kondisi sulit. Ditambah adanya pandemi Covid-19, tentu menambah list kesulitan selama dua tahun terakhir. Imbas pandemi berdampak pada seluruh aspek kehidupan, yang dapat menghambat kebahagiaan hidup seseorang.

Banyak orang mengeluhkan berbagai macam hal saat sedang berada pada kondisi ini. Mengeluh memang menjadi hal wajar bagi manusia. Namun hal ini perlu segera diatasi, agar tidak larut dan bisa cepat bangkit kembali. Di tengah kondisi sulit, setiap orang berhak mendapatkan kebahagiaan. Jika kita berbicara tentang kebahagiaan, tentu akan sedikit menarik perhatian. Sebab kebahagiaan merupakan hal urgent yang ingin dirasakan setiap orang.

Menurut Daniel Kahneman ahli psikologi, kebahagiaan adalah perasaan senang sementara yang didapatkan ketika melakukan suatu hal yang menurut kita menyenangkan. Efek perasaan ini tidak berlangsung lama, dan akan hilang seiring berakhirnya faktor penyebabnya. Seperti mendengarkan musik, memainkan game, atau pun membaca novel kesayangan terasa sangat menghibur diri saat sedang bosan menjalani masa-masa work from home (WFH).

Menurut perspektif agama Islam, makna kebahagiaan dikaitkan dengan sesuatu yang sifatnya spiritual seperti adanya perasaan tenang dan damai, ridha, dan puas, terhadap ketentuan Tuhan, dan lain sebagainya. Seperti membaca Alquran, salat di sepertiga malam (tahajjud), atau melakukan amal-amal sunah yang dikehendaki oleh Tuhan. Sehingga dari sini, bisa disimpulkan bahwa, kebahagiaan dapat kita rasakan dengan melakukan hal-hal sederhana. Sesederhana melakukan sesuatu yang ingin kita lakukan pada saat itu juga. Tanpa masih menunggu waktu yang cukup lama untuk dilakukan.

Mungkin di antara kita pernah mendengar ungkapan “Bahagia itu sederhana.” Tapi, apa benar bahagia sesederhana kata-kata yang kita ucapkan? Sering juga kita dengar ungkapan, ”Bahagia itu sederhana, sesederhana kamu mengucapkan bahagia.” Atau ungkapan lain; “Bahagia itu mudah. Semudah membalikkan kedua telapak tangan.”

Bahkan untuk sekelas pemuka Agama pun ada yang mengungkapkan, “Bahagia itu sederhana, cukup jauhi larangan-Nya, dan jalankan perintah-Nya.”

Dari berbagai macam ungkapan bahagia ini, merupakan salah satu bentuk atau cara seseorang agar dapat membuat hidup lebih bersyukur. Melalui kata-kata bahagia itu pula, setidaknya seseorang akan mengingat satu hal baik yang bisa diperoleh, sekalipun sedang menghadapi masa-masa yang sulit.

Namun apakah kebahagiaan seperti itu yang kita cari dalam hidup? Jika iya, untuk apa kita harus berjuang susah payah meraih cita-cita jika sebenarnya kebahagiaan sudah di depan mata? Karena itu, jika merujuk pada definisi kebahagiaan di atas bisa ditarik kesimpulan, sebenarnya bukan kebahagiaan yang menjadi tujuan utama dalam kehidupan. Akan tetapi sebuah kepuasan hidup.

Kepuasan hidup merupakan kemampuan seseorang untuk menikmati pengalaman-pengalamannya yang disertai dengan tingkat kesenangan. Dari definisi di atas, maka secara sederhana, antara kebahagiaan dengan kepuasan hidup dapat dibedakan dari tingkat waktu yang dirasakan.

Jika kebahagiaan bersifat jangka pendek, artinya hanya sebentar dirasakan. Sedangkan kepuasan hidup bersifat jangka panjang, sehingga orang yang memiliki kepuasan hidup sudah pasti merasakan kebahagiaan. Sedangkan orang yang bahagia, belum tentu puas saat melihat ke belakang perjalanan hidupnya.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menentukan tujuan hidup. Hal ini setidaknya dapat mengingatkan kita untuk tidak menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan utama dalam hidup. Sebab, jika kita terjebak dalam kebahagiaan, kita akan lupa bahwa hal itu hanya bersifat sementara, dan tidak bisa menjadi jaminan kepuasan hidup di masa depan.

Ingat, kebahagiaan bersifat sementara. Sedangkan memori atas perjalanan hidup kita dan hal-hal penting yang telah kita raih, akan bertahan selamanya.

Dalam mencapai kepuasan hidup, tujuan hidup merupakan fondasi utama. Dengan menentukan tujuan hidup, baik jangka pendek, menengah, dan panjang, kita akan lebih selektif dalam memilih aktivitas yang mendorong kita menuju tujuan yang diharapkan. Selain itu, dengan tujuan hidup, rintangan yang dilalui terasa tidak akan berarti, karena adanya kepuasan yang lebih besar didapatkan setelahnya. Sebab adanya kesadaran akan kepuasan yang lebih besar yang sudah menanti setelah tercapainya tujuan.

Bahkan, rintangan-rintangan tersebut akan menjadi kenangan manis saat tujuan yang diharapkan tercapai. Oleh karena itu dalam hidup, memori manusia akan lebih ingat pada momen-momen sulit dibandingkan kebahagiaan sementara.

Kebahagiaan itu ada batasnya. Ada titik jenuhnya dan setiap manusia berbeda tingkat kebahagiaannya. Misalnya, bahagia karena memakan makanan yang enak, akan ada batasnya saat perut manusia kenyang. Dia tak bisa makan lagi, tak bisa merasakan lagi nikmatnya makan enak, sebagaimana kesenangan saat awal pertama kali makan enak. Karena perut sudah tidak bisa menerima makanan lantaran terlalu kenyang.

Coba renungkan nikmat makan hingga kenyang di kala masih banyak orang yang tidak mampu membelinya untuk tetap hidup dalam keterbatasan. Nikmat minum dengan lancar di kala banyak orang sakit yang tidak mampu melakukannya di tengah perjuangannya untuk tetap bertahan. Juga nikmat lainnya yang dapat membuat kita setidaknya berpikir, bahwa eksistensi dari bahagia itu tidak cukup jika kebahagiaan yang  kita rasakan masih belum dirasakan juga oleh orang lain.

Namun, tidak juga dengan demikian menjadikan kebahagiaan sebagai fokus utama dalam menjalani kehidupan. Meskipun fokus pada tujuan hidup merupakan hal yang baik, akan tetapi terlalu fokus juga merupakan hal yang tidak disarankan untuk dilakukan.

Mengapa demikian? Sebab, dengan kita terlalu fokus pada tujuan hidup, kebahagiaan-kebahagiaan kecil dalam menjalani kehidupan bisa saja akan banyak terlewatkan. Sehingga bisa juga berujung pada ketidakpuasan. Hal itu tidak baik juga untuk kehidupan yang kita harapkan.

Karena itu, ketika menjalani hidup, sempatkan waktu menikmati masa kini dengan selalu bersyukur atas apa yang kita miliki. Tentu dengan tetap melihat ke sekeliling kita, apakah masih ada orang yang bahagia atau malah sebaliknya. Agar eksistensi bahagia yang kita rasakan, dapat orang lain rasakan juga. Jadi dengan ini, kita dapat bahagia dalam jangka panjang dan mengalami kepuasan hidup dalam jangka panjang pula. (*) Editor : Ali Sodiqin
#kolom #artikel #refleksi #opini #persfektif