Islam Masih Menjadi Fobia di Prancis

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Senin, 2 Mei 2022 | 13:00 WIB
islam-masih-menjadi-fobia-di-prancis
islam-masih-menjadi-fobia-di-prancis


SEMPAT tersiar kabar, bahwa Islam masih menjadi fobia di Prancis. Ini merupakan bukti bahwa kekerasan ”berbaju” Islam di masa silam, masih mengendap dan tak pernah terlupakan. Sebagaimana mengutip kabar akun Instagram @suarasurabayamedia, bahwa Capres (Calon Presiden) Prancis, Marine Le Pen akan mengeluarkan aturan larangan mengenakan hijab, apabila ia terpilih menjadi presiden Prancis.



Jika berhasil terpilih sebagai presiden, dapat dipastikan bahwa pendukung Islamofobia di negara tersebut berarti masih cukup tinggi. Maka dari itu pula, semangat moderasi serta berakhlakul karimah harus tetap digaungkan, khususnya di mancanegara. Agar watak Islam yang sebenarnya tidak tertutupi oleh segelintir orang berparas Islam yang menakutkan yang mendominasi keseluruhan paras Islam.



Para pengamat mencatat bahwa sejarah awal Islamofobia di Prancis dimulai setelah tragedi WTC di New York pada 11 September 2001 silam. Peristiwa yang mengagetkan ini bukan hanya dirasakan oleh masyarakat Eropa, tetapi di kalangan umat Islam moderat juga, bahkan masyarakat dunia. Namun guratan rasa sakit yang mendalam dirasakan masyarakat Eropa dan menimbulkan ketakutan yang berlebih kepada setiap orang Islam, sehingga menimbulkan alienasi pada kaum muslim dalam segala bidang pekerjaan, pendidikan, dan rumah tangga (Ismoyo, 2016: 223).



Sebelum merebaknya fenomena Islamofobia, xenofobia lebih dahulu menjangkiti masyarakat pribumi Prancis. Fenomena ini terjadi ketika jumlah imigran semakin banyak dan menetap tinggal di negara tersebut. Seiring waktu berjalan, para imigran menjadi persoalan utama yang memengaruhi aspek-aspek krusial di Prancis, seperti sosial, politik, dan budaya. Hingga pada akhirnya, menimbulkan permasalahan akibat benturan kebudayaan Prancis dengan imigran.



Kembali ke permasalahan Islamofobia, bahwa sebenarnya masyarakat Prancis telah keliru memilah antara teroris berkedok agama dan watak Islam yang sebenarnya. Memang sulit untuk membedakan kedua hal tersebut, sebab mereka tidak mempelajari hal itu. Akhirnya, Islam dan teroris menjadi satu kesatuan dalam prasangka mereka. Dengan kata lain, mereka telah membuat keputusan sebelum mengetahui fakta yang sebenarnya tentang Islam.



Menurut Emile Durkheim (1858–1917), seorang berkebangsaan Prancis dan seorang pencetus sosiolog modern, dalam penelitiannya mengenai totemisme (suatu kepercayaan; agama) di kalangan suku Aborigin Australia, membuktikan bahwa agama memiliki fungsi menginteraksikan masyarakat dalam suatu tatanan moral. Selain itu, agama juga mampu dalam mengendalikan perilaku menyimpang masyarakat di satu sisi dan pada sisi yang lain juga dapat meningkatkan harmoni dan solidaritas masyarakat. Hingga pada akhirnya, Durkheim berkesimpulan bahwa agama merupakan refleksi perhatian masyarakat (Haryanto, 2016: 58-59).



Dengan demikian, berarti pula menjadi tanggung jawab kita sebagai masyarakat muslim untuk membantu memahamkan watak Islam yang sebenarnya kepada mereka, yaitu cinta dan kasih terhadap kemanusiaan sebagaimana perjuangan Gus Dur. Kenapa harus Gus Dur? Sebab Gus Dur adalah simbol nyata bukan karena memiliki suatu kekuasaan dan keleluasaan bisa pergi ke sana kemari. Akan tetapi, pemikiran serta ucapannya sejalan dengan tindakannya. Inilah yang menjadi suatu teladan bagi bangsa ini.



Agama cinta, sebagaimana yang digagas oleh Talcott Parsons, seorang sosiolog terkemuka di Amerika, menilai agama sebagai contoh solidaritas sosial asli yang tecermin dari ritual dan nilai sosial (Haryanto, 2016: 76). Sebagai contoh, Elizabeth Gillbert, seorang penulis buku asal Amerika Serikat, adalah salah satu yang men-tasdiq Islam sebagai agama cinta kasih, bukan sebagai agama teroris yang menjadi fobia di sana.



Dalam unggahan video di akun Instagram @nu.channels, Gilbert menceritakan pengalamannya ketika berada di Indonesia. Lantaran perceraian yang mengerikan pada usia 31, ia memutuskan untuk menenangkan dirinya ke sebuah pulau kecil dan miskin di Lombok. Namun ketika itu, ia sempat mengalami keracunan makanan dan ditolong oleh seorang perempuan muslim, yang akhirnya menjadi penilaiannya terhadap Islam.



Dari sebuah perwujudan keberagamaan cinta kasih dan penuh dengan nilai sosial tersebut, merupakan watak Islam yang berhasil terealisasikan dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat. Agama bukan hanya untuk ranah privat, tetapi ajaran serta kandungannya sebenarnya untuk berperikemanusiaan dan menegakkan nilai-nilai kemanusiaan.



Agama tidaklah seperti yang dibayangkan oleh para Islamofobia sebagai perusak kemanusiaan. Terorisme bukan lahir dari agama, tetapi murni dari tindak kejahatan dan kekerasan dari kesalahan penafsiran atas ajaran agama.



Ludwig Wittgenstein dalam pemikirannya tentang ”Permainan Bahasa” (language games), menemukan bahwa ternyata bahasa memiliki ”aneka kemiripan keluarga” (Wittgenstein, 1988: 32). Dan, hal ini dapat terjadi termasuk bahasa agama. Kesalahan penafsiran terhadap suatu bahasa dapat menjadi kesalahan yang berakibat fatal. Contoh paling sederhananya adalah sayur sawen dan sayur sawi.



Kedua jenis sayuran ini dalam bahasa kedaerahannya sudah berbeda. Sayur sawi jika disampaikan kepada penjual di pasar Krian, Sidoarjo, maka akan diberi sayur sawen dalam bahasa daerah Banyuwangi. Akan tetapi, bila disampaikan ke penjual yang ada di pasar Banyuwangi, maka akan di beri sayur telo (ketela). Maka dari itu, dalam berbahasa ada suatu tata permainan yang harus tunduk di dalamnya. Jika tidak, maka akan mengalami kesalahan-kesalahan dari yang sederhana, sampai yang paling fatal.



Kemudian jika meninjau antara masyarakat Indonesia dan Prancis adalah sama-sama negara yang berpotensi memiliki konflik terbesar, dan dapat mengalami perpecahan bagi negaranya, karena multikultural serta multireligi. Dan seharusnya, kedua bangsa tersebut saling mencontoh satu sama lain. Misalnya, Prancis mencontoh toleransi yang berkembang di Indonesia dan Indonesia sendiri mencontoh timnas Prancis tentang pesepakbolanya yang pernah menjuarai Piala Dunia pada 2018 silam, di Rusia.



Sebenarnya, perjalanan karir Merine Le Pen dalam gerakan nasionalisme ekstrem kanannya, memang sudah dari dahulu anti terhadap imigran yang kemudian Islam sejak tragedi (11/9) hingga sekarang pada pemilihan presiden. Fobianya tersebut tak berbeda dari ayahnya, Jean-Merie Le Pen, yang mendirikan partai Front Nasional pada 1972.



Namun, akankah Le Pen dapat merebut suara terbanyak pada pilpres kali ini yang sebelumnya tidak pernah menang karena anti-imigrannya?



Andai saja menang, fenomena Islamofobia tidak akan pernah selesai di negara tersebut. Dan justru akan memicu masalah lain dan mungkin saja akan menimbulkan reaksi lebih keras oleh para terorisme berbaju Islam di kemudian hari. Pasalnya, menurut Louis Aliot yang merupakan salah satu sekutu Le Pen, menyatakan bahwa larangan hijab ini menjadi salah satu cara Le Pen dalam melawan ”Islamisme”. Ia juga menyampaikan larangan ini akan diterapkan secara progresif di negara tersebut. (*)



 *) Tinggal di Dusun Tugung, Desa/Kecamatan Sempu, Banyuwangi. Sedang menempuh S-1 di UIN Sunan Ampel Surabaya.



Editor : Ali Sodiqin
budaya kolom artikel pendapat opini persfektif