SEKOLAH Ilmu Kesehatan dan Ilmu Alam (SIKIA) Unair terus melakukan dan mendukung inovasi dalam realisasi tri dharma perguruan tinggi di Banyuwangi. Salah satunya, melanjutkan program penelitian dengan fokus konservasi satwa liar yang menjadi ikon Banyuwangi yaitu penyu.
Program penelitian bidang konservasi tersebut dilakukan atas dasar berbagai problem yang terjadi di sarang alami maupun semi alami. Misalnya cemaran mikroorganisme pada pasir sarang yang berpengaruh terhadap kegagalan telur penyu menetas. Serta dampak langsung pemanasan global yang mengakibatkan mayoritas anak penyu (tukik) menetas dengan jenis kelamin betina.
Pada tahun 2021, Banyuwangi Sea Turtle Foundation (BSTF) menggagas ide pembuatan inkubator penetasan telur penyu tanpa media pasir. Dengan menggandeng Prodi Kedokteran Hewan SIKIA Unair, akhirnya tim berhasil merealisasikan sebuah terobosan alat mutakhir yang bernama Intan Box.
Dengan alat Intan Box yang tercatat sebagai inkubator tanpa pasir pertama di dunia tersebut, jenis kelamin penyu bisa dikendalikan sesuai dengan rasio yang seimbang. Karena parameter suhu dan kelembapan dapat diatur secara otomatis, optimal, dan terpantau detail melalui data logger. Selain itu, persentase keberhasilan menetas melalui alat tersebut bisa mencapai 100% dengan kondisi tukik yang sehat dan aktif.
Data keberhasilan menetas dan kondisi tukik yang sehat tersebut terbukti pada acara pelepasliaran pertama 35 ekor tukik pada 5 Desember 2021 bersama Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Selanjutnya, disusul pelepasliaran kedua dengan jumlah empat ekor tukik hasil pemeliharaan selama 97 hari pada 7 Maret 2022, bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Konservasi V Banyuwangi, Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar.
Keberhasilan alat Intan Box tak membuat BSTF berhenti melakukan inovasi. Kali ini, BSTF kembali menggagas ide dan merealisasikan alat yang berdampak signifikan terhadap upaya konservasi penyu. Dengan dukungan tim peneliti Prodi Kedokteran Hewan SIKIA Unair, alat baru tersebut diberi nama Yosi Box.
Kalau Intan yang merupakan singkatan INkubator buaTAN, maka nama YOSI ini juga merupakan singkatan dari YOlk berSIh. Kenapa harus “yolk?” Bagaimana fungsi utama alat tersebut serta dampaknya terhadap konservasi penyu? Beragam pertanyaan tersebut akan menarik jika kita uraikan detail satu per satu.
Yosi Box merupakan ruang (box) terapi yang mampu mengoptimalkan fungsi penyerapan kuning telur (yolk) yang masih tersisa pada saat tukik, saat pertama kali menetas dan keluar dari sarang. Konsep box terapi ini juga berangkat dari permasalahan yang sering terjadi di lapangan. Yaitu tidak semua tukik yang telah menetas kondisinya sehat dan normal.
Sering kita temui, selalu saja ada tukik yang masih tertinggal di bagian dalam sarang dan tidak mampu memanjat keluar dari pasir. Biasanya tukik-tukik yang masih tertinggal di bagian dalam tersebut merupakan tukik dengan kondisi yolk yang belum terserap sempurna. Sehingga secara alami masih menunggu proses penyerapan selesai. Masalahnya, jika kita biarkan tukik tersebut menunggu di dalam sarang, maka akan rentan terjadi kematian. Bisa saja tukik kehabisan oksigen, kondisi lemas, sampai rentan dimangsa predator alami di sekitar sarang.
Berangkat dari fenomena kasus tersebut, diperlukan tindakan yang bisa menyelamatkan tukik-tukik dengan kondisi abnormal tersebut. Salah satunya, dengan melakukan terapi yang bisa mempercepat proses penyerapan yolk yang masih tersisa pada bagian plastron tukik tersebut. Fitur pada alat Yosi Box memungkinkan proses penyerapan yolk secara cepat dan optimal. Ini karena suhu dan kelembapan bisa diatur secara otomatis. Yang paling penting, bebas dari ancaman predator alami.
Selain itu, Yosi Box juga dilengkapi CCTV yang terkoneksi secara online. Sehingga kita bisa memantau perkembangan kondisi tukik yang diterapi secara real time melalui aplikasi pada smartphone. Tukik dengan kondisi yolk yang masih belum terserap tersebut, berbanding lurus dengan aktivitasnya. Semakin besar ukuran yolk yang belum terserap, maka semakin lemah aktivitas tukik tersebut.
Selain untuk penyerapan yolk, alat ini juga bisa digunakan untuk tukik yang menetas dengan kondisi belum sepenuhnya keluar dari cangkang. Di sinilah efek terapi dari Yosi Box muncul sebagai solusi. Karena tidak hanya bisa mempercepat proses penyerapan yolk, tetapi juga bisa mengembalikan aktivitas tukik secara normal, sehat, dan siap dilepasliarkan kembali ke laut.
Tim peneliti telah melakukan fase trial pertama box terapi ini. Ternyata hasilnya sangat di luar dugaan. Yosi Box mampu menimbulkan efek terapi terhadap tukik pada hitungan jam. Data yang masuk catatan ti8m peneliti, dalam durasi tiga jam, cangkang telur yang tersisa bisa langsung terlepas. Dalam waktu delapan jam, seluruh yolk yang masih tersisa telah terserap dengan sempurna.
Selain itu, kondisi tukik terpantau semakin banyak pergerakan yang mengindikasikan bahwa tukik tersebut telah sehat dan siap untuk dilepasliarkan ke habitat alami.
Wiyanto Haditanojo, founder BSTF telah menyaksikan secara langsung efek terapi yang terbilang sangat cepat tersebut. Selama ini, tindakan terapi manual yang dilakukan oleh para relawan BSTF memakan waktu selama tiga hari sampai empat hari agar yolk bisa terserap sempurna. Tak jarang, banyak tukik dengan kondisi tersebut yang tidak bertahan ketika dilakukan relokasi.
Sangat jauh berbeda dengan hasil terapi Yosi Box yang memang terbilang lebih efektif dan efisien. Menurut perspektif kami sebagai tim peneliti juga dokter hewan, hadirnya inovasi alat yang dapat mengoptimalkan kesehatan satwa liar seperti ini sangat dibutuhkan. Terlebih lagi penyu termasuk kategori satwa yang dilindungi oleh Undang-Undang Konservasi.
Melalui pemeriksaan dan diagnosa dari dokter hewan, kita dapat menentukan secara akurat kondisi tukik-tukik yang harus segera dilakukan terapi. Berlaku juga terhadap tukik yang telah berhasil diterapi dengan Yosi Box. Maka akan dilakukan pemeriksaan kembali oleh dokter hewan, untuk menentukan kondisi tukik siap atau belum untuk dilepasliarkan. Karena kami berhadapan dengan tukik yang mayoritas kondisinya lemas akibat proses penyerapan yolk yang tidak sempurna, sehingga harus berusaha semaksimal mungkin mengembalikan kondisi satwa akuatik tersebut menjadi sehat.
Dengan Yosi Box sangat membantu para dokter hewan yang khususnya bergerak di bidang konservasi penyu, yang selama ini menghadapi permasalahan tersebut. Selain itu, penggunaan inovasi box terapi ini nanti juga bisa diterapkan secara meluas dalam skala nasional. Karena bisa bermanfaat untuk para penggiat konservasi penyu di seluruh Indonesia. Dengan semakin banyaknya tukik yang bisa kita optimalkan status kesehatannya, maka semakin besar peluang mereka untuk bertahan hidup.
Tentu pengembangan penelitian akan tetap kami lanjutkan. Supaya bisa menghasilkan sebuah inovasi yang berdampak signifikan terhadap kelestarian satwa liar, khususnya penyu di seluruh perairan Indonesia. Dukungan serta kolaborasi seluruh pihak sangat kami harapkan. Karena memang pada prinsipnya dibutuhkan berbagai multidisiplin ilmu untuk mampu menguatkan program pelestarian yang sudah dijalankan.
Sudah menjadi kewajiban manusia untuk mendedikasikan seluruh pengetahuan dan apa yang dimilikinya, untuk kelestarian alam dan kesejahteraan makhluk hidup lainnya. (*)
*) Akademisi & Peneliti Prodi Kedokteran Hewan, Sekolah Ilmu Kesehatan dan Ilmu Alam (SIKIA) Universitas Airlangga.
Editor : Ali Sodiqin