Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Filosofi Kaya dan Miskin: Memaknai Fenomena Crazy Rich

Ali Sodiqin • Minggu, 3 April 2022 | 02:00 WIB
filosofi-kaya-dan-miskin-memaknai-fenomena-crazy-rich
filosofi-kaya-dan-miskin-memaknai-fenomena-crazy-rich


BARU-BARU ini masyarakat kita dikejutkan dengan fenomena crazy rich, yaitu saat orang-orang super kaya dengan usia rata-rata masih muda mengekspos bahkan pamer kekayaan di berbagai media, seperti Instagram, YouTube, bahkan di televisi. Konten-konten mereka di berbagai media sering menampilkan beragam aset mewah yang dimiliki, mulai rumah, mobil, baju-baju mewah, dan berbagai jenis perhiasan. Selain itu, mereka juga menampilkan gaya hidup dan gaya berpakaian yang glamor.



Ekspos tersebut menjadikan masyarakat ngiler dengan kekayaan dan gaya hidup mewah para crazy rich tersebut. Bahkan, tidak jarang masyarakat ikut-ikutan dalam hal gaya hidup dan gaya berbusana.



Setelah terdapat dua orang crazy rich yang tersandung kasus dugaan investasi bodong, yakni Indra Kenz dan Doni Salmanan, baru masyarakat kita terperanjat sadar. Bahwa ternyata gaya hidup crazy rich yang dielu-elukan selama ini salah. Kasus investasi bodong tersebut masih mungkin akan menyeret figur crazy rich yang lain. Celakanya, banyak juga masyarakat yang sudah berinvestasi dan merugi jutaan bahkan ratusan juta.



Oleh karena itu, untuk mencerna fenomena-fenomena kehidupan masa modern sekarang, orang harus benar-benar punya kearifan, sebagaimana filosofi Jawa pernah bertutur,”Ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan, ojo aleman, ojo geleman”.



Artinya, jangan mudah terkagum, jangan mudah kecewa, jangan mudah terkejut, jangan mudah disanjung, jangan mudah tergiur. Orang harus bisa berpikir, merenung, dan menyikapi dengan hati yang jernih serta tidak tergesa-gesa asal ngikut saja. 



Kembali ke pembahasan kaya dan miskin yang mutlak ada dalam kehidupan manusia, kita harus bisa menemukan kejernihan makna di antara keduanya; karena fenomena ini adalah bagian dari penciptaan Tuhan. Dengan menemukan makna atas kekayaan, manusia tidak akan sombong dengan kekayaan dan dapat menggunakan kekayaannya untuk kebaikan sebanyak-banyak makhluk. Sebaliknya, dengan menemukan makna miskin, manusia tidak akan putus asa, minder, dan menyalahkan keadaan.



Terkait dengan kaya dan miskin ini, saya teringat quote Emha Ainun Nadjib,”Jika kekayaan membuatmu makin dekat pada Allah, berjuanglah untuk kaya. Jika kemiskinan membuatmu lebih dekat pada Allah, pilihlah kemiskinan.” Dari pesan tersebut, Cak Nun ingin menyampaikan bahwa kaya dan miskin harus dilekatkan dengan hubungan antara manusia dan Allah. Tiap orang bisa kaya atau miskin yang penting tetap sambung dengan Allah. Buat apa kaya jika kekayaan itu bisa menjauhkan dari Allah, dan kemiskinan semakin parah jika seorang tidak bisa menggunakannya untuk dekat dengan Allah.



Contoh yang baik dari pemanfaatan kekayaan untuk digunakan dalam mendekatkan diri pada Tuhan adalah kisah Nabi Sulaiman. Dengan kekayaan yang melimpah dan kekuasaan, yang tidak hanya meliputi pemerintahan tingkat manusia, tetapi juga bangsa jin dan hewan, Nabi Sulaiman bisa memanfaatkannya untuk menolong sebanyak-banyaknya makhluk. Tidak seperti Firaun dan Qorun yang gagal memanfaatkan kekayaannya untuk mendekatkan diri dengan Tuhan. Malah, kekayaan dapat menjadi musibah bagi mereka karena kekayaan membuat mereka melalaikan Tuhan dan menjadikan mereka besar kepala. Contoh yang baik dalam memaknai kemiskinan ada pula pada diri utusan Tuhan, Nabi Isa. Ia tidak tertarik dengan harta, karena ia lebih fokus menjalin hubungan dengan pemilik sejati harta dan kekayaan, yaitu Tuhan. Tidak ada sesuatu yang dapat membahayakan dan menyedihkan ketika dekat dengan Tuhan.



Dari contoh tersebut, ada pesan dari Sunan Gunung Jati yang relevan,”Sugih bli rerawat, mlarat bli gegulat”. Artinya, menjadi kaya bukan untuk pribadi, menjadi miskin bukan untuk menjadi beban bagi orang lain.



Dari sini bisa dimaknai bahwa kaya dan miskin sama-sama dapat memberikan risiko bagi manusia. Kaya bisa lebih mendekatkan dengan Tuhan, kaya juga bisa menjauhkan manusia dari Tuhan, karena dengan kekayaan manusia menjadi sibuk dengan harta dan lupa dengan siapa sejatinya pemberi rezeki.



Miskin pun demikian, bisa mendekatkan si miskin dengan Tuhan; karena seratus persen dia hanya menyandarkan hidup dari pemberian Tuhan. Miskin juga punya risiko untuk menjauhkan manusia dari Tuhan, karena keputusasaannya dari pemberian Tuhan dan ketergantungannya pada makhluk lain yang bisa memberinya makan. Oleh karena itu, seseorang yang kaya tidak berarti dimuliakan oleh Tuhan dan miskin bukan berarti dihinakan oleh-Nya. (*)



 *) Wakil Dekan FISIP Untag Banyuwangi.



Editor : Ali Sodiqin
#artikel #refleksi #catatan #opini