BANYUWANGI telah sukses meng-Sukowatikan Pasar Sobo. Kini telah berubah nama menjadi Terminal Wisata Terpadu. Seperti yang kita tahu, Sukowati adalah nama pasar seni yang mendunia di Gianyar, Bali. Konsep inilah yang diusung untuk diterapkan di Banyuwangi. Dengan jargon one step service. Semua tersedia di sini. Semua bisa dibeli di sini. Terutama pernak-pernik ornamen wisata khas Banyuwangi.
Terminal Wisata Terpadu ini dibangun sejak awal 2015. Lokasinya mepet dengan Hotel Santika Banyuwangi. Menempati lahan seluas satu hektare. Menggunakan anggaran APBD Rp 27 miliar. Bentuk bangunan terdiri dari dua bangunan utama. Membentuk siku huruf L. Masing-masing terdapat empat lantai. Lantai dasar untuk parkir dan kuliner. Lantai dua untuk kios lapak pedagang souvenir, kaus, batik, lukisan, buah-buahan, oleh-oleh khas Banyuwangi, serta ekspedisi dan travel agent. Lantai tiga untuk penginapan wisata (dormitory tourism) disediakan 50 kamar. Sedangkan lantai empat untuk dormitory tourism dan convention hall. Didukung juga dengan halaman parkir yang bisa menampung 200 kendaraan.
Selain itu, ada fasilitas lain sebagai penunjang ikon destinasi wisata belanja keluarga ini. Antara lain, sebagai pusat kegiatan pertunjukan seni Banyuwangi, sebagai pendukung realisasi agenda Banyuwangi Festival (B-Fest) selama ini, juga diproyeksikan untuk memfasilitasi kegiatan anak-anak muda unjuk kreasi di jalur seni, nyanyi, atau tari.
Sementara itu, koran Jawa Pos Radar Banyuwangi mencatat pertumbuhan ekonomi Banyuwangi meroket sejak 2016 hingga 2019. Menurut data dari Badan Pusat Statistik di tahun 2016, ekonomi Banyuwangi tumbuh di angka 5,38 persen. Stabil hingga 2019 sebesar 5,55 persen. Selanjutnya, terseok saat di masa pandemi. Terjerembap di angka minus 3,58 persen pada tahun 2020. Tapi, diyakini akan kembali tinggi pada tren positif tahun ini. Seiring menggeliatnya kembali roda perekonomian Banyuwangi.
Jika pandemi berlalu, tak sulit bagi Banyuwangi memasang target tinggi. Inovasi pariwisata telah merebak masif bak ”geliat lenggok gadis remaja”. Tumbuh bermekaran beragam kuliner. Investasi akomodasi berupa hotel, vila, homestay, dan lain-lain menjamur tak terbendung lagi. Inilah sektor pariwisata yang sejalan dengan hadirnya Terminal Wisata Terpadu di Banyuwangi.
Profil Banyuwangi memang mentereng. Baik nasional, maupun global. Sudah diganjar bejibun plakat penghargaaan. Bahkan, Banyuwangi patut bangga. Sebab, menjadi jujugan pejabat daerah lain se-Indonesia. Terutama untuk studi banding atau studi tiru. Setidaknya ada 58 ribu orang studi banding di tahun lalu. Bahkan, di tahun 2022 ini Pemkab Banyuwangi melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menargetkan tiga juta wisatawan domestik dan mancanegara datang ke Banyuwangi. Hal ini tak lepas dari pengaruh tahun lalu, ketika Banyuwangi sukses dikunjungi dua juta pelancong.
Yang menjadi pertanyaan, sanggupkah Pemkab Banyuwangi menggiring mereka mampir ke Terminal Wisata Terpadu? Jika saja bisa menjaring separo saja dari kunjungan pelancong itu ke tempat ini, niscaya putaran roda ekonomi Banyuwangi akan terjaga stabil. Sebab, di sinilah pusat dari beberapa komunitas UMKM. Di dalamnya digawangi oleh Asosiasi Kuliner, Kaos, Kerajinan, Aksesori, dan Batik Banyuwangi (AKRAB). Didukung pula oleh 13 komunitas dunia usaha di dalamnya, yakni Plasma (makanan dan minuman), Assawangi (assesoris), Asppoba (makanan dan minuman), Akawangi (kaus), Banyuwangi Craft (kerajinan), Pakar Wangi (kerajinan), Kulkhas Wangi (kuliner), Umami (makanan dan minuman), Kokawangi (kopi), Sekar Jagad (batik), APROP (mesin industri), ETNIC (makanan dan minuman), dan Mekar Wangi (disabilitas).
Sementara itu, sejak di-launching awal 2022, memang belum sempat diresmikan oleh Bupati Banyuwangi. Bahkan, belum pernah dilakukan serah terima dari pihak developer ke Pemkab Banyuwangi. Nasib 54 pedagang yang telah menempati kios dari total 90 unit tersebut kini menjadi tanda tanya.
Ada sejumlah kendala di lokasi yang belum tersentuh kebijakan. Justru menjadi esensi tersendiri untuk Terminal Wisata Terpadu atas nama relokasi dan ikon kota Banyuwangi? Ada beberapa input yang perlu didandani. Misal, soal atap yang masih bocor saat hujan. Air tidak saja menjadi pemicu rusaknya barang dagangan. Tapi, juga menggenang di lantai dan membuat lapak menjadi licin. Di basement, ada pula genangan air dari rembesan bangunan. Perlu untuk dibuatkan awning di atas kios bagian luar agar tidak ketampon air hujan.
Selain itu, sarana keran air belum berfungsi maksimal. Terdapat pula masalah lain, seperti lampu penerangan sering mati, masalah ketersediaan tempat pembuangan sampah, petugas kebersihan, tidak ada petugas keamanan malam, dan lain-lain. Bahkan, pernah sejumlah lapak pedagang disatroni pencuri pada malam hari.
Mengoperasikan CCTV jadi salah satu opsi. Juga memasang beberapa layar TV untuk media promo dan informasi. Sekaligus, untuk sarana ramen-ramen hiburan para pedagang.
Kios kuliner di lantai dasar, ada baiknya dipindah di lantai dua. Yakni, di bangunan yang mepet dengan hotel Santika dan diperuntukkan khusus sebagai ruang kuliner.
Ada opsi dan solusi untuk meningkatkan sirkulasi ekonomi Terminal Wisata antara lain:
Pertama, membuat atraksi dan pentas seni seminggu sekali. Bisa bekerja sama dengan Dewan Kesenian Blambangan (DKB). Atraksi Banyuwangi Culture Every Week (BCE) di awal Januari 2022 lalu, juga bisa meningkatkan gengsi. Mobilisasi SKPD bisa menjadi atensi. Senam sehat dan lomba antar instansi bisa pula digelar di sini.
Kedua, akan makin semarak jika bisa mengoptimalkan 36 kios yang tersisa untuk dibuka lapaknya. Lebih penting lagi untuk merealisasikan konsep utama. Yakni, mewajibkan wisatawan dan tamu Pemkab Banyuwangi mengunjungi Terminal Wisata Terpadu. Tujuannya, agar makin menggelindingkan roda ekonomi Banyuwangi. (*)
*) Mantan Ketua Paguyuban Pasar Sobo, Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin