DALAM setiap peperangan memperebutkan kekuasaan, kalah atau pun menang pasti akan membawa dampak yang mengerikan bagi setiap pihak. Sejak zaman Hitler di Jerman atau pun Kaisar Hirohito di Jepang, dan begitu juga hari ini antara Vladimir Putin di Rusia dan Volodymyr Zelensky di Ukraina yang mana semua perang akan selalu mengakibatkan banyak korban menderita.
Kita sebagai generasi muda yang telah merdeka dalam kenyataannya ternyata masih terjajah oleh nafsu diri sendiri. Tak ada yang dapat memastikan bahwa semakin tinggi status dan jabatan seseorang dapat meminimalisasi nafsu, justru mungkin nafsu yang ada semakin tinggi pula keinginannya. Apalagi generasi muda yang dapat dikatakan sebagai generasi pada masa gedi-gedine howo nafsu, nafsu yang masih belum stabil, mudah bosan, dan menyukai hal yang berbau instan, sehingga jika tidak memiliki self control yang baik dapat terjerumus ke dalam hal-hal yang buruk atau mungkin tanpa sadar melanggar batas yang telah disyariatkan agama. Oleh karena itu, latihan dalam pengendalian diri sangat erat kaitannya dengan penanaman nilai-nilai yang bersifat spiritualitas.
Mirisnya perihal Pendidikan Agama Islam di sekolah formal yang ada di Indonesia masih menjadi hal yang sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak, dengan bentuk jam pelajaran yang hanya memberikan proporsi waktu yang sangat sedikit, ditambah lagi dengan ketentuan kurikulum pendidikan nasional yang selalu berubah-ubah setiap ganti menteri, menjadikan wajah pendidikan agama yang sudah terkenal dengan pelajaran yang membosankan menjadi semakin bertambah membosankan.
Upaya dalam pelatihan tentang pengembangan media pembelajaran yang menarik atau pun strategi dan metode pembelajaran yang mengasyikkan bagi pendidikan agama hanya sebatas teori atau pun sebatas formalitas dalam menyelesaikan ketuntasan tugas praktik mengajar belaka. Kenyataan praktiknya di sekolah formal masih belum memberikan perubahan yang signifikan alias masih begitu-begitu saja.
Beruntung, Pendidikan Agama di Indonesia tidak hanya sebatas pendidikan di sekolah formal yang hanya memberikan nilai-nilai agama ala kadarnya, namun masih lestari akan budaya nyantri di pondok pesantren yang notabene dengan pembelajaran kitab-kitab klasik dan juga ditambah dengan adanya kurikulum pendidikan pesantren yang telah menentukan kitab apa yang akan dipakai sesuai jenjang pendidikannya baik di ula, wustho, dan ulya.
Bagi pondok pesantren yang benar-benar menerapkan kurikulum pendidikan pesantren tersebut dan juga memberikan tambahan kepada santri untuk mengaji kitab-kitab klasik yang fenomenal sepanjang masa, maka Indonesia tidak hanya dapat mengaung membanggakan diri memiliki penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia, namun juga dapat memberikan representasi nyata akan generasi muda sebagai intelektual muslim sejati yang memiliki pemahaman agama yang luas. Karena dapat terlihat bahwa Pendidikan Agama yang dikaji sumber dan sanad keilmuannya tidaklah main-main. Sebut saja kitab Fathul Qorib karangan Ibnu Qosim Al-Ghazi yang pengarangnya berasal dari Ghaza Palestina, kitab Ihya’ ’Ulumuddin karangan Imam Al-Ghazali yang mana Imam Al-Ghazali berasal dari Irak, atau kitab Alfiyah Ibnu Malik yang sangat fenomenal di kalangan santri bahkan pengarangnya sendiri yakni Ibnu Malik berasal dari Andalusia, Spanyol.
Contoh dari kitab-kitab yang telah disebutkan merupakan bagian kecil dari banyaknya kitab-kitab klasik yang dipelajari di pondok pesantren yang dapat memberi pengertian betapa keren santri. Yang siang dan malamnya disibukkan dengan menelaah dan menghafalkan bait-bait syair nadzom sambil minum kopi yang pembahasannya dapat menjadi renungan untuk menghadapi dinamika perubahan zaman di era ini.
Tentu saja, lagi-lagi hanya mereka yang bersungguh-sungguh yang dapat merasakan kenikmatan mempelajari ilmu-ilmu tersebut. Padahal seharusnya umat Islam khususnya generasi mudanya selain memiliki kecenderungan untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, juga harus berimbang dalam penguasaan literatur tentang agama Islam, seperti Alquran, hadis, dan juga kitab-kitab klasik yang membahas terkait syariat Islam seperti ilmu fiqh, ushul fiqh, tassawuf, aqidah, akhlak, atau pun grammatical bahasa Arab. Hal ini menjadi tanggung jawab dan amanah bagi seorang muslim sejati.
Perlunya peningkatan terhadap minat akan literatur agama tampaknya dapat dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Dosen IAIN Jember yaitu Abdul Muhith yang menunjukkan mayoritas lulusan pesantren masih banyak yang belum mencapai kompetensi minimal pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Menurut Adbul Muhith, seharusnya santri yang telah dinyatakan lulus dari pondok pesantren setidaknya tuntas dalam hal-hal dasar. Dalam hal ini yang dikategorikan sebagai hal dasar atau standar minimal adalah mampu membaca kitab, apalagi bagi santri yang sudah mondok tiga tahun.
Lain daripada itu, ada beberapa cara untuk meningkatkan semangat dalam menguasai literatur agama Islam. Seperti halnya semarak lomba Robitahah Ma’ahid Islamiyah (RMI) yang diselenggarakan dua tahun sekali, telah memberikan warna tersendiri dalam meningkatkan semangat bagi para santri untuk bersaing dalam pemahaman terhadap ilmu agama, Alquran, seni dan juga dakwah. Tercatat sebanyak 2.680 santri dari 83 pondok pesantren di Banyuwangi ikut berpartisipasi dalam venue di Pondok Pesantren Darussalam, Kajaharjo, Kecamatan Kalibaru, akhir Februari lalu.
Lomba tersebut antara lain seperti lomba baca kitab kuning (kitab Ta’limul Muta’alim, kitab Mukhtasor Jiddan, kitab Safinatun Najah, kitab Sulamut Taufiq, kitab Fathul Qorib, kitab Bulughul Marom, kitab Tafsir Jalalain, kitab Fathul Mu’in, Dan Kitab Ihya’ ’Ulumuddin), Muhafadzoh (Nadzom ’Imrithy dan Nadzom Alfiyah), pidato 3 bahasa (bahasa Arab, Inggris, dan Indonesia), tahfidzul Quran (mulai dari cabang 5 juz, 10 juz, dan 20 juz), cerdas cermat, qiroah, kaligrafi, selawat Al Banjari, dan tari jafin.
Memang benar, mencetak kader intelektual muslim tidak hanya sekadar mengikuti lomba, karena lomba bukanlah tujuan akhir. Mana mungkin dari sekian banyaknya waktu yang digunakan untuk menghafal setiap syair nadzom, menelaah maksud dari setiap gramatikal bahasa Arab, mengkhatamkan banyak kitab, atau pun memecahkan masalah, serta menganalisis berbagai perbedaan argumen, hanya ditentukan dengan tiga sampai lima pertanyaan.
Atau mungkin sekadar hoki dari keberuntungan. Tentu saja tidak. Namun, lomba antarpondok pesantren dapat digunakan sebagai media memotivasi santri, untuk selalu konsisten dalam memperdalam ilmu agama. Baik dalam ranah kognitif maupun praktik dengan sanad keilmuan yang jelas di tengah kurikulum pendidikan agama nasional yang terasa sangat hambar.
Berbeda dengan peperangan Ukraina dan Rusia yang kalah menangnya mengakibatkan derita dan trauma. Maka, partisipasi santri dalam lomba RMI antar pondok pesantren di Banyuwangi, kalah atau pun menangnya adalah sama-sama prestasi dan manfaat untuk kedamaian negeri. (*)
*) Warga Tegalpare, Muncar, Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin