Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Bahasa Osing yang Semakin Asing

Rahman Bayu Saksono • Senin, 21 Februari 2022 | 16:26 WIB
bahasa-osing-yang-semakin-asing
bahasa-osing-yang-semakin-asing

BANYUWANGI merupakan salah satu kabupaten yang berada di Jawa Timur. Terletak di ujung Pulau Jawa, bersebelahan langsung dengan Pulau Bali. Daerah ini adalah salah satu dari sekian banyak kabupaten di Indonesia, yang juga memiliki berbagai macam budaya dan suku di dalamnya.


Dikutip dari Wikipedia, Banyuwangi merupakan salah satu kabupaten yang terbentuk oleh tiga elemen masyarakat, yaitu suku Osing atau suku asli Banyuwangi, Suku Jawa Mataraman, dan Suku Madura. Suku Osing sebagai suku asli Banyuwangi memiliki ciri khas tersendiri baik dari segi bahasa maupun budaya.


Dilansir dari Wikipedia, persebaran penduduk yang mayoritas berasal dari suku Osing asli berada di bagian Banyuwangi tengah dan timur yang meliputi wilayah Kecamatan Srono, Rogojampi, Blimbingsari, Singojuruh, Songgon, Licin, Sempu, Giri, Glagah, dan sebagian di Banyuwangi kota.


Maka dengan begitu, mayoritas penduduk di sana seharusnya menggunakan bahasa Osing dalam kegiatan sehari-harinya, meskipun saat ini mungkin telah bercampur dengan suku lain seperti Jawa atau Madura yang migrasi ke tempat-tempat tersebut.


Ciri khas yang dimiliki oleh suatu daerah sudah seharusnya dijaga serta dilestarikan eksistensinya supaya ciri khas tersebut masih bisa eksis seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi. Salah satu ciri khas yang perlu dilestarikan adalah bahasa daerah yang menjadikan suatu daerah bisa dikenal oleh banyak orang dari daerah lain karena memiliki keunikan tersendiri di bidang bahasanya.


Keunikan yang dimiliki dari setiap bahasa yang berbeda, menurut daerahnya masing-masing, itulah yang kemudian menjadikan daerah kita semakin dikenal oleh masyarakat luas. Sehingga berbahasa daerah bukanlah sebuah hal yang mengerikan dan patut dihindari. Akan tetapi, berbahasa daerah dijadikan sebagai ajang untuk membanggakan diri. Mengenalkan daerah supaya orang lebih mengenal kita dari segi bahasa.


Bahasa Osing yang juga seharusnya dijaga dan dilestarikan oleh pemiliknya, kini terasa hilang dan tidak terjaga eksistensinya, bahkan di daerahnya sendiri. Dikutip dari Wikipedia, Banyuwangi selain memiliki julukan ”The Sunrise of Java”, ia juga memiliki julukan ”Kota Osing” yang diambil dari nama suku asli di Banyuwangi. Hal ini juga menjadi alasan mengapa kita perlu menjaga dan melestarikan bahasa Osing.


Bangga dan tidak malu untuk menggunakan bahasa Osing sebagai bahasa sehari-hari, merupakan langkah yang baik untuk terus menghidupkan bahasa Osing di Banyuwangi. Minimal di daerah-daerah yang penduduknya mayoritas suku Osing.


Menyertakan bahasa Osing sebagai salah satu pelajaran yang diajarkan kepada siswa-siswi sekolah dasar, merupakan hal yang baik sebagai ajang untuk lebih mengenalkan bahasa Osing sejak dini kepada anak-anak. Tetapi sangat disayangkan, program tersebut hanya berhenti di tingkat sekolah dasar. Sehingga bahasa Osing yang dipelajari hanya sampai tahap pengenalan saja. Belum sampai ke tahap praktik secara utuh dalam kehidupan sehari-sehari.


Bahasa Osing yang sudah menjadi jati diri dari masyarakat Banyuwangi, sudah seharusnya dipelajari secara mendalam. Meskipun bukan tergolong masyarakat yang lahir dari keturunan suku Osing asli, tapi setidaknya dengan kita mempelajari dan mampu berbahasa Osing, hal tersebut dapat meningkatkan kembali tren untuk berbahasa Osing. Apalagi, di kalangan anak muda.


Miris sekali ketika melihat penduduk Banyuwangi tapi tidak bisa berbahasa Osing. Atau bahkan menganggap bahwa bahasa Osing adalah bahasa yang memalukan untuk digunakan. Padahal, dengan kita berbahasa Osing, berarti kita ikut andil dalam menjaga warisan leluhur agar tidak sampai punah.


Sangat tidak bisa dibayangkan ketika seluruh penduduk Banyuwangi sudah enggan lagi menggunakan bahasa Osing dalam kehidupan setiap hari. Atau hanya sekadar mempelajari saja tidak mau. Sudah sangat bisa dipastikan generasi berikutnya akan semakin merasa asing dengan bahasa Osing. Atau bahkan sama sekali tidak tahu apa itu bahasa Osing dan bagaimana bentuk bahasanya.


Kesadaran berbahasa Osing sudah sepatutnya dimulai dari diri sendiri sebagai penduduk asli Banyuwangi, mungkin juga dengan dorongan pemerintah sebagai pemegang kebijakan. Sangat sayang sekali jika Banyuwangi yang terkenal dengan julukan ”Kota Festival”, namun tidak menyertakan bahasa Osing di dalamnya, atau hanya sekadar membuat acara-acara kecil yang dapat meningkatkan kecintaan kita terhadap bahasa Osing.


Kesadaran serta kecintaan terhadap bahasa Osing yang sudah mulai pudar ini sudah seharusnya dipikirkan. Mengingat bahasa Osing merupakan aset berharga yang dimiliki oleh Kabupaten Banyuwangi. Mungkin kita bisa mengatakan bahwa ciri khas dari Banyuwangi bukan hanya soal bahasa saja. Melainkan masih banyak yang lainnya, sehingga ketika orang-orang sudah tidak lagi menggunakan bahasa Osing masih ada ciri khas yang lainnya seperti tari gandrung, seblang, petik laut, dan lain sebagainya.


Tapi satu hal yang kita perlu perhatikan dalam pengenalan suatu daerah, yang paling mudah adalah dengan bahasa daerah. Kita bisa tahu bahwa seseorang itu berasal dari Madura karena cara bicara dan bahasanya berbeda. Kita bisa tahu bahwa seseorang berasal dari daerah timur NTT, NTB, atau bahkan Papua, juga dari cara bicara dan gaya bahasa yang digunakannya.


Oleh karena itu, bahasa menjadi hal yang sangat penting untuk tetap dijaga kelestariannya. Sebagai ciri khas yang paling dominan bagi setiap suku di Indonesia. (*)


 


*) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, Institut Agama Islam Ibrahimy, Genteng, Banyuwangi.

Editor : Rahman Bayu Saksono
#artikel #banyuwangi #opini