Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Outing Class, Sarana Membawa Peserta Didik ke Dunia Nyata

Rahman Bayu Saksono • Jumat, 18 Februari 2022 | 14:24 WIB
outing-class-sarana-membawa-peserta-didik-ke-dunia-nyata
outing-class-sarana-membawa-peserta-didik-ke-dunia-nyata

SALAH satu hal terpenting dalam pembelajaran adalah membawa peserta didik semakin dekat dengan dunianya. Selama ini, pembelajaran identik dengan ruang kelas, membaca buku-buku teori, atau sekadar berlatih mengerjakan soal-soal ujian. Hal tersebut memang penting dalam dunia pembelajaran, namun mengajak peserta didik untuk merasakan langsung pengalaman terjun di masyarakat, mempelajari berbagai masalah yang timbul, dan bersama-sama mencari solusi juga merupakan hal yang tidak kalah pentingnya.


Metode yang bisa digunakan untuk membawa peserta didik ke luar kelas dan merasakan langsung pengalaman terjun di masyarakat adalah dengan mengadakan kegiatan ‘Outing Class’. Outing Class adalah metode pembelajaran yang membawa peserta didik ke luar kelas agar dapat merasakan pembelajaran di luar kelas. Pembelajaran di luar kelas ini memiliki arti yang luas yaitu bisa dengan membawa peserta didik ke alam, ke tempat-tempat pusat kegiatan sosial ekonomi masyarakat, bahkan ke dinas pemerintahan. Dengan Outing Class maka peserta didik diajak untuk keluar dari dunia yang abstrak sehingga dapat merasakan realitas secara langsung.


Kegiatan Outing Class ini juga sesuai dengan konsep merdeka belajar yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara. Merdeka belajar menjadikan peserta didik sebagai manusia yang berkembang secara utuh dan tidak terlepas dari aspek kemanusiaan. Dengan semakin tingginya aspek kemanusiaan ini maka peserta didik akan semakin cerdas akal, kehalusan budi, dan keterampilannya.


Aspek kemanusiaan dapat dilatih dengan membawa peserta didik belajar melalui pengalaman langsung, bukan sekadar teori. Oleh karena itu guru hendaknya memfasilitasi peserta didik untuk merdeka memperoleh pengalaman yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar. Kegiatan membawa peserta didik melalui pembelajaran yang sesuai dengan pengalamannya juga diharapkan akan memancing kesadaran tentang pentingnya proses belajar.


Pembelajaran juga tidak dapat dilepaskan dari kodrat peserta didik. Salah satu kodrat yang dimaksud adalah keadaan lingkungan sosial di mana peserta didik tersebut tinggal. Ki Hajar Dewantara dalam konsep ‘Tripusat Pendidikan’ mengemukakan bahwa pendidikan tidak hanya didapatkan dari sekolah saja, namun juga dari orang tua/keluarga, dan lingkungan/masyarakat. Pendapat Ki Hajar Dewantara ini lebih lanjut juga tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (pendidikan formal dan informal). Penjelasan ini memberi kita gambaran bahwa kegiatan Outing Class sebenarnya sangat penting agar pembelajaran tidak hanya bersifat tekstual, namun juga kontekstual dan penuh makna (meaningful learning).


Kegiatan Outing Class akan memberikan peserta didik berbagai pilihan sumber belajar yang tidak hanya berupa buku teks. Sebagai contoh, dalam pelajaran geografi, peserta didik dapat belajar langsung mengenai pembentukan bumi ke Museum Geopark, dalam pelajaran sosiologi peserta didik dapat diajak ke pasar untuk melihat interaksi sosial, dalam pelajaran sejarah peserta didik dapat dibawa ke museum, dan dalam pelajaran PPKn peserta didik dapat diajak ke gedung DPR untuk belajar kegiatan legislasi. Peserta didik juga dapat belajar ke ahli geologi, ahli politik, ahli arkeologi, bahkan mereka juga dapat bersama-sama melakukan penelitian langsung mengenai suatu objek dalam mata pelajaran tertentu.


Khusus dalam kondisi pandemi, peserta didik yang mengikuti kegiatan Outing Class tentu harus mematuhi segala protokol kesehatan yang ditentukan. Jika memang belum mampu menghadirkan peserta didik ke lokasi tujuan secara fisik, maka dapat juga dilaksanakan Outing Class secara digital. Sebagai contoh, guru dapat bekerja sama dengan ahli virus dan mendatangkannya ke zoom meeting yang kemudian ahli tersebut memberikan penjelasan mengenai virus dalam pelajaran biologi. Contoh lain, dalam pelajaran sejarah, guru dapat mengajak peserta didik untuk mengunjungi museum virtual serta mendatangkan pemandu museum tersebut secara digital. Apabila kondisi memang tidak memungkinkan karena dampak pandemi, maka Outing Class berbasis digital dapat menjadi salah satu solusi.


Penulis mendapatkan fakta bahwa sudah cukup banyak sekolah di Kabupaten Banyuwangi yang melaksanakan kegiatan Outing Class. Salah satu yang berani membuat inovasi untuk mendorong kegiatan Outing Class ini adalah SMAN 1 Giri. Agar Outing Class dapat menjangkau semua mata pelajaran, SMAN 1 Giri telah mengadakan kerja sama dengan seluruh kedinasan yang ada di Kabupaten Banyuwangi. Hal ini memungkinkan SMAN 1 Giri mengirimkan peserta didiknya untuk belajar langsung di seluruh kedinasan sesuai dengan karakteristik mata pelajarannya masing-masing.


Sebagai contoh kegiatan yang telah dilakukan adalah kunjungan peserta didik SMAN 1 Giri ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan ini ditujukan untuk lebih mengenalkan sejarah Banyuwangi beserta dengan aneka ragam budayanya. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini peserta didik lebih menghargai sejarah dan budaya Banyuwangi.


Kabupaten Banyuwangi sangat kaya akan sumber-sumber belajar yang menanti untuk dipelajari secara langsung oleh peserta didik. Tentu saja kegiatan Outing Class ini akan membawa banyak dampak positif. Beberapa di antara dampak positif tersebut adalah peserta didik tidak akan bosan dalam menerima pembelajaran, merdeka dalam menentukan pilihan sumber belajar, lebih dapat memaknai sebuah pembelajaran, serta akan lebih menyatu dengan dunia ‘kodratnya’ di Kabupaten Banyuwangi. (*)


 


*) Guru Sejarah SMAN 1 Giri, Banyuwangi.

Editor : Rahman Bayu Saksono
#artikel #banyuwangi #opini