SAAT ini, banyak generasi era globalisasi yang kurang mengembangkan kemampuan pola pikirnya. Empati seperti apa yang harus dimiliki oleh generasi muda saat ini. Empati untuk menciptakan kesadaran untuk generasi yang akan datang. Generasi Millennial atau generasi era globalisasi adalah terminologi generasi yang saat ini banyak diperbincangkan oleh banyak kalangan di dunia diberbagai bidang, apa dan siapa gerangan generasi millennial itu?
Millennials (juga dikenal sebagai Generasi Millenial atau Generasi Y) adalah kelompok demografis (cohort) setelah Generasi X. Peneliti sosial sering mengelompokkan generasi yang lahir di antara tahun 1980-an sampai 2000-an sebagai generasi millennial. Jadi bisa dikatakan generasi millennial adalah generasi muda masa kini yang saat ini berusia di kisaran 15 tahun sampai 34 tahun.
Dibanding generasi sebelum, generasi millennial memang unik, hasil riset yang dirilis oleh Pew Research Center misalnya, secara gamblang menjelaskan keunikan generasi millennial dibanding generasi-generasi sebelumnya. Yang menyolok dari generasi millennial ini dibanding generasi sebelumnya adalah soal penggunaan teknologi.
Kehidupan generasi era globalisasi tidak bisa dilepaskan dari teknologi terutama internet, entertainment/hiburan sudah menjadi kebutuhan pokok bagi generasi ini Alvara Research Center tahun 2014 menunjukkan, generasi yang lebih muda, 15 tahun sampai 24 tahun lebih menyukai topik pembicaraan yang terkait musik, film, olahraga, dan teknologi. Sementara generasi yang berusia 25 tahun hingga 34 tahun lebih variatif dalam menyukai topik yang mereka perbincangkan. Termasuk di dalamnya sosial politik, ekonomi, dan keagamaan.
Konsumsi internet penduduk kelompok usia 15 tahun hingga 34 tahun juga jauh lebih tinggi dibanding dengan kelompok penduduk yang usianya lebih tua. Hal ini menunjukkan ketergantungan mereka terhadap koneksi internet sangat tinggi.
Di era globalisasi saat ini, bisa kita lihat pada kasus-kasus remaja yang terlibat kasus penganiayaan, kekerasan seksual, pembulian, bahkan berujung pembunuhan, dan sangat memprihatinkan lagi tersangka masih berstatus pelajar. Masa remaja merupakan masa peralihan, di mana seorang remaja tumbuh menuju kematangan. Kematangan yang dimaksud merupakan kematangan dari segi emosi, cara berpikir dan bertingkah laku.
Bagi remaja fase kematangan tersebut yaitu fase yang memasuki lingkungan masyarakat yang sesungguhnya. Namun, globalisasi telah banyak mempengaruhi bukan hanya kaum remaja saja melainkan, mahasiswa yang pada dasarnya dituntut untuk menjalankan tugas-tugas dan kewajiban yang harus dijalani. Tetapi, malah sibuk dengan bermedia sosial. Seperti bermain game yang tak kenal waktu, terlalu aktif di sosmed mulai bangun tidur sampai tidur lagi itu pun diunggah. Herannya lagi, mereka lebih condong mementingkan urusan pribadi dari pada beribadah untuk akhirat nanti.
Remaja saat ini merupakan generasi era globalisasi yang sudah dikelilingi dengan kemajuan-kemajuan teknologi sejak dini. Bahkan tak heran lagi apabila di usia balita sudag pegang alat komunikasi, handphone contohnya. Maka, tak jarang banyak dari remaja sekarang yang mempunyai sikap asosial. Yaitu mementingkan masalah pribadi, tanpa mementingkan orang di sekeliling mereka, di mana mereka kurang termotivasi untuk terlibat interaksi dengan individu atau kelompok individu lain yang berakibat minimnya rasa empati dan kepedulian.
Selain itu kurang memiliki empati sosial, tidak sedikit dari mereka yang bertingkah laku sesuai dengan anak-anak pada umumnya yang acuh tanpa mempedulikan orang lain dan lingkungan di sekitarnya. kehendaknya dengan mementingkan diri sendiri dan terkadang hal tersebut dapat menimbulkan permasalahan antar seseorang yang berakibat kecemburuan sosial bahkan sampai pembunuhan yang akan memakan korban.
Mari kita ubah diri kita mulai dari hal kecil atau kebiasaan-kebiasaan negatif yang memang patut dihilangkan. Kurangi penggunaan media sosial, memperbanyak belajar, bersosialisasi dengan orang lain, atau orang di sekitar kita. Mulai bersikap empati dan peduli dengan keadaan orang-orang atau pun lingkungan di sekitar kita. Dengan adanya tolong menolong, gotong royong, itu bisa menjadi solusi untuk membentuk karakter di era globalisasi saat ini.
Seseorang yang memiliki sikap empati sosial yang tinggi, akan mudah menyadari dan memahami adanya reaksi-reaksi tertentu. Jadi, orang yang memiliki sikap empati sosial, pasti akan mudah dalam bergaul dan dapat bersikap secara tepat terhadap orang lain di sekitarnya.
Sikap empati dapat diwujudkan dengan dua cara, yaitu secara lisan dan berperilaku. Empati secara lisan adalah bagian dari rasa kepedulian yang diungkapkan langsung secara lisan terhadap suatu keadaan atau kejadian tertentu. Sehingga merasakan apa yang dilihat, didengar, dan dilihat.
Sedangkan empati secara perilaku, merupakan perwujudan empati sosial secara spontanitas atau terorganisasi yang dilakukan dalam bentuk sikap dan perilaku yang konkret terhadap suatu keadaan atau kejadian tertentu baik secara visual, audio dan audiovisual.
Mari kita simak tips untuk tumbuhkan rasa empati. Narendra membahas cara menumbuhkan empati. Menurutnya, empati bisa tumbuh dari pengalaman dan masa lalu. Dikatakan, orang yang paling bisa peduli pada orang lain adalah orang yang pernah mengalami hal yang tidak enak tersebut.
Menurutnya, empati juga bisa ditumbuhkan dengan cara keluar dari zona nyaman. Coba masuk ke lingkaran yang berbeda dengan lingkaran biasa. Dia mengaku mendapat kepekaan karena keluar dari zona nyaman yang menimbulkan rasa untuk membantu. Pelajaran bisa di dapat di luar, coba masuk ke lingkungan lain yang berbeda. Coba lihat lingkungan sekitar.
Cara selanjutnya, untuk menumbuhkan empati, adalah dengan menggoda diri sendiri. Cara membuat peka tidak harus melihat orang yang sangat kekurangan. Contoh, misalnya teman yang sedang stres bisa membuat kita tergoda untuk membantunya. Jadi, godalah diri Anda untuk bisa peka terhadap orang lain. Kalau ingin berbagi, doing something. Melakukan sesuatu yang baru, coba buat lingkungan menggoda.
Semangat itu tidak akan hadir kalau kita tidak punya kepekaan. Kalau kita punya empati, kita juga akan semangat menjadikan orang lain sebagai sumber gerakan kita. (*)
*) Mahasiswa Jurusan Tadris/ Pendidikan Bahasa Indonesia, Institut Agama Islam Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin