BULAN Desember ini hujan telah datang. Setelah sekian lama kita diterpa panas yang menyengat. Masyarakat Jawa mengatakan Desember adalah bulan gede-gedene sumber atau bila diartikan bulan melimpahnya sumber air. Desember selalu dikaitkan dengan melimpahnya mata air, di bulan Desember hujan turun terus-menerus maka sumber air akan melimpah.
Kedatangan hujan sangat ditunggu-tunggu, terlebih setelah lama dilanda musim kemarau yang cukup panjang. Dengan datangnya hujan masyarakat merasa lega. Meskipun turunnya hujan tidak merata, misal Banyuwangi Selatan hujan lebat dan di Banyuwangi utara panas. Atau pagi cerah, sore harinya hujan.
Turunnya hujan ditanggapi berbeda oleh beberapa masyarakat. Ada yang merasa senang dengan turunnya hujan. Ada juga yang merasa aktivitasnya terganggu dengan datangnya hujan. Seperti para petani, mereka merasa senang dengan turunnya hujan karena aliran air yang menuju pertaniannya kembali normal, setelah sekian lama dilanda kekeringan.
Sebaliknya, bagi yang bekerja kantoran atau bersekolah, dengan turunnya hujan mereka merasa terganggu, terlebih jika hujan turun di pagi hari. Aktivitas mereka berangkat ke kantor atau sekolah sedikit terhambat. Meski demikian, datangnya hujan patut kita syukuri, karena hujan adalah sebuah berkah yang diturunkan oleh Allah SWT.
Datangnya musim hujan tidak selalu membawa berkah bagi masyarakat yang tinggal di daerah padat penduduk. Terlebih di daerah dataran rendah. Setiap musim hujan tiba, terlebih saat hujan turun dengan intensitas lebat, maka dipastikan rumah-rumah mereka akan terkena banjir.
Seperti yang sering terjadi di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro. Juga seperti terjadi di daerah dataran rendah seperti Kelurahan Karangrejo, Kelurahan Kertosari, di Kecamatan Banyuwangi. Di daerah rendah itu sering menjadi langganan banjir bila hujan turun dengan lebat. Hal ini diakibatkan karena saluran drainase tidak berfungsi secara normal, sehingga tidak dapat menampung debit air dan air naik ke permukaan dan masuk ke rumah-rumah warga.
Selain drainase yang terlalu kecil untuk menampung air hujan yang begitu deras juga disebabkan kurangnya kesadaran masyarakat. Sering kita jumpai saat banjir terjadi, petugas terkait membersihkan drainase. Di situ banyak dijumpai sampah rumah tangga yang ada di drainase tersebut. Kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya sangat rendah. Sampah-sampah yang dibuang pada saluran air akan mengendap dan bila air datang dengan derasnya karena hujan, maka sampah rumah tangga tadi akan menutup saluran air, sudah bisa dipastikan banjir akan terjadi.
Masih ingat dalam ingatan, ketika hujan datang dengan lebat dengan waktu satu malam, aliran Sungai Bagong yang ada di Jalan S. Parman, Kelurahan Pakis, Banyuwangi menjadi besar. Air hujan pun meluap hingga ke jalan raya. Padahal Sungai Bagong sebagaimana kita ketahui kedalamannya sudah cukup. Lebar sungai itu juga sudah sangat memadai. Tetapi setelah sampah menghambat aliran sungai tersebut, maka banjir tidak bisa dibendung lagi.
Musim tidak bisa kita cegah dan perkirakan datangnya, seperti musim hujan ini. Banyak orang memperkirakan hujan akan turun rasio bulan Januari, tapi hujan sudah datang sejak bulan November. Kita sebagai manusia tidak bisa mencegahnya, yang bisa kita lakukan adalah meminimalkan dampaknya.
Seperti setiap hujan selalu ada banjir, yang harus kita lakukan adalah merawat drainase atau aliran air atau gorong-gorong. Dengan cara membebaskan dari kotoran yang dapat menghambat aliran air. Hal itu harus dilakukan sejak dari hulu hingga hilir. Jangan membuang sampah sembarangan. Buanglah sampah rumah tangga pada tempatnya seperti di TPA.
Di setiap desa atau lingkup RT, gerakkan untuk selalu kerja bakti, khususnya membersihkan saluran drainase. Bila dari hulu hingga hilir saluran air lancar, bebas dari sumbatan sampah rumah tangga, maka bila hujan turun akan terbebas dari banjir. Jadi hujan identik dengan banjir sudah tidak ada lagi. Karena saluran air sudah bersih, aman, dan lancar. (*)
*) Warga Bulusari, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin