SETIAP orang tua pasti menginginkan kehidupan yang terbaik bagi anak-anaknya. Dengan cara meningkatkan kedisiplinan misalnya. Cara mendidik anak, bagi setiap orang tua pun berbeda-beda. Namun realitanya, terkadang dengan berdalih mengajarkan anak mengenai disiplin, orang tua menjadi terlampau tegas sehingga yang muncul adalah tindak kekerasan, baik secara fisik maupun verbal (bentakan). Sesungguhnya tegas dan keras itu berbeda, dan harus bahkan wajib bagi orang tua untuk menyadari hal tersebut.
Anak-anak yang dibesarkan dengan kekerasan kemungkinan besar akan menjadi orang tua pelaku kekerasan pula. Orang dewasa yang sering dipukul ketika remaja oleh orang tuanya cenderung melakukan kasus KDRT pada pasangan 4 kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak pernah dipukul orang tuanya, sehingga yang timbul adalah lingkaran setan kekerasan dalam keluarga. Hal ini biasanya disebabkan salah satu kesalahan orang tua karena kurangnya informasi mengenai cara mendisiplinkan anak dengan baik tanpa kekerasan.
Selain itu, seorang anak yang terbiasa menerima kekerasan dari lingkungan keluarga akan mengalami trauma, mengalami cedera psikis, bahkan cedera fisik. Juga menciptakan persepsi dalam diri anak, bahwa kekerasan boleh dilakukan dan bisa dijadikan alat mengungkapkan emosi. Sehingga dia akan bersikap agresif dan memiliki kecenderungan memukul teman sebaya saat ada masalah.
Kekerasan yang sudah terekam dalam ingatannya, perlahan menggerus harga dan kepercayaan diri. Selanjutnya mereka cenderung menjadi orang yang mudah berbohong dan tidak memahami nilai baik dan buruk pada dirinya. Serta memberi kesan, anak tidak cukup berharga untuk sekadar dicintai orang tuanya.
Salah satu kesalahan orang tua adalah ketidakseimbangan peran ayah atau ibu dalam mengaplikasikan cara mendidik anak dengan benar. Kita pun menyadari hal itu, bahwa peran ibu lebih dominan daripada peran ayah. Komisi Perlindungan Anak (KPAI) pada 2015 lalu pernah menyurvei, kualitas ayah dalam mengasuh anak hanya berkisar 3,8 dari 5. Sehingga ketimpangan angka ini masih cukup jauh berbeda.
Dari data tersebut, orang tua seharusnya lebih aware agar bisa menyeimbangkan keduanya dalam mendidik anak dengan baik dan benar. Karena ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, sedang ayah adalah role model bagi anak-anaknya.
Nah, berikut adalah tips mendidik anak dengan baik.
Pertama, berikan arahan, bukan tuntutan. Orang tua tidak harus menuntut anak sesuai keinginan. Cukup mengarahkan apabila anak mengalami penyimpangan. Arahkan dengan sopan, tutur kata lembut, dan tanpa bentakan.
Kedua, hindari bersikap buruk di depan anak. Jika sikap buruk diperlihatkan, maka anak akan meniru sikap tersebut. Sebaliknya, jika sikap baik yang diperlihatkan, anak juga akan meniru sikap tersebut. Karena sejatinya, memori anak akan merekam kuat apa yang dilakukan orang tuanya untuk kemudian ditiru.
Ketiga, menjadi teman bermain anak. Hal ini akan meningkatkan kualitas mental anak serta membangun konektivitas orang tua dengan anak secara optimal.
Keempat, sebagai pendidik. Ajak anak bicara, mempersilakan anak menyampaikan pendapatnya, mengetahui keinginan anak, sekaligus membersamai anak dalam memenuhi rasa keingintahuan yang tinggi, dan yang tak kalah penting adalah membangun pola pikir yang terus bertumbuh (growth mindset).
Kelima, sebagai rekan terbaik. Jadilah orang tua, teman, sahabat, kritikus, serta banyak hal lain sesuai dengan kondisi dan situasi. Dengan cara menjadi rekan terbaik bagi sang anak, orang tua akan mampu meminimalkan setidaknya 43% permasalahan agresif yang sering terjadi pada anak. Tanamkan sebisa mungkin di dalam pikiran mereka bahwa “Orang tua adalah tempat ternyaman pertama untuk anak”.
Namun, sebagian orang tua melontarkan sebuah pertanyaan “bagaimana jika dipisahkan oleh jarak? Orang tua bekerja di luar kota misalnya, dan hanya bisa bertemu sebentar?
Dalam hal ini, coba memanfaatkan teknologi sebaik mungkin. Dengan adanya teknologi, perkembangan anak bisa ditangani dengan baik, dengan via video call misalnya, sekadar menanyakan keadaan anak di jam tersebut sedang apa? Bercanda bersama, bertanya sudah makan atau belum? Deep talk secara lebih intens, mengungkapkan perasaan sayang, merencanakan liburan keluarga, memberikan motivasi atau wejangan lainnya. Sehingga walaupun antara orang tua dan anak mengalami masa Long Distance Relationship (LDR) tapi kekuatan emosionalnya masih tetap terbangun, orang tua dan anak akan merasa tetap dekat.
Lantas bagaimana cara mendidik anak yang bandel? Nah, untuk kasus ini usahakan sebisa mungkin bagaimana seorang ayah atau ibu mendidik tanpa perlu memarahi. Berikut tipsnya:
Pertama, ambil napas 10 detik agar merasa tetap tenang ketika kita merasa mulai sebal dalam menangani anak bandel tersebut.
Kedua, daripada menggunakan kekerasan fisik atau bentakan, coba untuk memberikan konsekuensi dan penghargaan sebagai bentuk tanggung jawab atas pilihan baik buruknya sang buah hati.
Ketiga, tetap berikan ucapan positif ketika menasihati sang buah hati.
Keempat, berbicara dengan nada suara rendah, sebagai orang tua perlu melatih diri untuk mengungkapkan amarah tidak dengan cara membentak. Karena dengan cara membentak, anak tidak akan mengerti maksud orang tua, justru hal itu akan menjadikan kurang hangatnya hubungan anak dengan orang tua, serta membuang-buang energi. Sebenarnya, cukup katakan “bunda marah, bunda tidak suka” sudah membuat anak mengerti daripada membentak.
Kelima, hargai dan beri pujian jika anak melakukan sesuatu yang baik dan sesuai arahan orang tua. Sebaliknya, jika anak belum mau untuk melakukan hal yang disarankan, berikan hukuman yang masuk akal. Namun kasih dulu waktu anak untuk menjawab, bukan melawan. Hargai perasaan anak, dengan memberi kesempatan, anak akan melihat bahwa orang tua memberi respect padanya serta membuat dirinya merasa dihargai oleh orang tuanya.
Oleh karena itu, apa pun alasannya, kekerasan tidak akan membuat anak menjadi anak baik dalam waktu sekejap. Pukulan yang diterima anak, akan menciptakan jurang antara anak dan orang tua, juga menimbulkan masyarakat yang tidak ramah anak. Anak berhak untuk tumbuh di lingkungan yang membuatnya sehat secara mental maupun fisik. Hentikan kebiasaan memberi pukulan saat anak berbuat nakal, atau sebagai cara untuk mendisiplinkan mereka. Banyak penelitian yang telah membuktikan, kekerasan tidak akan berhasil menciptakan kebaikan. Jadi, jangan lagi memukul anak ya, parents. (*)
*) Mahasiswa Tadris/Pendidikan Bahasa Indonesia, IAI Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin