Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Memetik Hikmah dari Kewafatan Lora Imy

Rahman Bayu Saksono • Selasa, 16 November 2021 | 16:45 WIB
memetik-hikmah-dari-kewafatan-lora-imy
memetik-hikmah-dari-kewafatan-lora-imy

KAMIS itu, tiba-tiba ada pesan singkat dari Kholifah, mahasiswi Unesa yang merupakan simpatisan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah. ”Apa benar informasi ini?” tanya orang tersebut pada saya sambil menyertakan pamflet duka cita perihal kewafatan Lora Muhammad Dhofir Ibrahimy, putra kedua KH R. Ahmad Azaim Ibrahimy.


Saya kaget belum percaya sepenuhnya. Ternyata di grup WhatsApp (WA) yang saya ikuti, berita tersebut sudah menyebar. Saya membalas pesan tersebut dengan voice membenarkan apa yang ditanyakan. Tak terasa air mata jatuh. Ucapan belasungkawa teriring doa seketika langsung menyebar dan berdatangan dari berbagai kalangan. Mulai pondok pesantren, instansi, organisasi, dan sebagainya. Juga dari Menteri Agama Republik Indonesia dan Gubernur Jawa Timur melalui akun media sosialnya.


Saya masih mengalami suasana duka cita. Pertanyaan demi pertanyaan terus berdatangan dalam pikiran. Sakit apa beliau? Sejak kapan? Kapan menjalani masa perawatan di rumah sakit? Pertanyaan itu akhirnya dibiarkan begitu saja. Pikiran fokus untuk menyambut kedatangan jenazah yang saat itu sedang dalam perjalanan dari Jakarta. Video-video berkaitan dengan almarhum beredar secara luas dan begitu cepat di-share.


Sejak pemulangan jenazah, informasi keberadaan rombongan terus-menerus tersampaikan. Alumni maupun simpatisan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah dari berbagai daerah saling berbagi informasi. Mereka tidak mau ketinggalan untuk itu. Sebagian dari mereka langsung bergabung di berbagai titik. Bahkan, ada yang memilih berangkat ke Pesantren Sukorejo dan bermalam di sana. Seakan-akan ada panggilan batin segera memberi penghormatan terakhir. 


Tepat Jumat pagi, jenazah Ra Imy tiba di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah untuk dimakamkan. Bersama salah seorang teman, sejak malam hari saya sudah di Sukorejo dan bermalam di masjid dekat jalan raya. Sepanjang jalan, orang-orang berkerumun menyambut rombongan tiba. Sambil meneteskan air mata dan mengabadikan gambar maupun video di ponsel masing-masing. Kemudian membagikan di media sosial masing-masing.


Keteladanan Kiai Azaim


Yang membuat orang menangis bukan hanya kewafatan Ra Imy. Tapi keteladanan Kiai Azaim menghadapi kenyataan dari apa yang Allah takdirkan pada putra kesayangan tersebut. Sejak Kiai Azaim dan keluarga membawa Ra Imy ke Jakarta untuk melakukan ikhtiar kesembuhan, tak banyak orang yang mengetahuinya. Sehingga ketika ada kabar kalau Ra Imy telah wafat, banyak yang belum percaya bahwa hal itu akan terjadi. Tapi begitulah takdir perihal kematian. Datang begitu mengejutkan. Hal itu juga pernah dialami sebagian orang ketika kewafatan KH R. Ahmad Fawaid As’ad, 9 Maret 2012.


Sungguh juga mengejutkan. Bagaimana tidak? Malam Jumat, ada edaran surat undangan dari pengurus pesantren. Bahwa sehabis Jumatan ada rapat dengan Kiai Fawaid. Rapat diikuti oleh Umana’ Ma’had termasuk ketua kamar. Beberapa kali rapat ditunda karena Kiai Fawaid sebagai pengasuh sedang menjalani masa perawatan.


Pada saat itu, saya masih diberi kesempatan menjadi ketua kamar. Sehabis Jumatan, ketika hendak berangkat ke Pendopo Pengasuh untuk mengikuti rapat. Tiba-tiba ada pengumuman kalau semua santri diminta untuk berkumpul di Musala Ibrahimy untuk membaca Salawat Syifa’ dengan tujuan mendoakan kesembuhan Kiai Fawaid. Waktu itu Kiai Fawaid pergi ke Surabaya untuk menjalani ikhtiar penyembuhan. Tak lama berselang, Kiai Muzakki Ridwan berdiri dan mengumumkan kewafatan Kiai Fawaid. Tangisan pecah seketika itu juga. Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun.


Keteladanan Kiai Azaim terlihat jelas bagaimana kecintaan beliau pada putranya. Hingga apa yang beliau lakukan begitu totalitas dalam memberikan penghormatan terakhir kepada Lora Imy. Sejak masih berada di Jakarta hingga sampai di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah. Bagaimana beliau ikut terlibat mengusung peti jenazah ke mobil. Bagaimana beliau mengangkat jenazah putranya sendirian untuk disalati di Masjid Jamik Ibrahimy. Bagaimana beliau mengusung keranda di barisan depan sewaktu jenazah dibawa ke tempat pemakaman keluarga Ahlul Bait Sukorejo. Bagaimana beliau turun langsung untuk mengumandangkan azan di kuburan. Bagaimana beliau secara langsung memberikan nasihat kematian kepada para petakziah.


Kecintaan yang totalitas benar-benar telah dibuktikan. Bukan hanya dalam mengurusi jenazah dari awal hingga selesai pemakaman. Tapi bagaimana kesabaran, ketabahan, kesadaran, ketegaran, dan keikhlasan dalam menghadapi kenyataan yang memilukan tersebut. Dari video yang beredar, tak terlihat ada air mata yang diteteskan, tak terlihat ada wajah yang menampakkan kepiluan, tak terdengar ada suara jeritan.


Semua seperti berjalan stabil. Bukan berarti beliau tidak bersedih dan kehilangan. Tapi menyembunyikan kesedihan dan rasa kehilangan. Itulah cara terbaik yang sedang diperlihatkan sebagai tanda menerima apa yang Allah takdirkan. Beliau bersabar, karena Allah menjanjikan kabar gembira bagi yang sabar menerima ujian. Beliau sadar, bahwa apa yang Allah takdirkan lebih baik dari apa yang manusia harapkan.


Sadar bahwa kehidupan hanyalah titipan yang harus dikembalikan. Beliau tegar, barang kali tersemai keyakinan bahwa harapan Ahlul Barzah lebih kuat daripada harapan yang ada. Beliau ikhlas dan mengikhlaskan. Karena merasa bahwa putranya sedang dimondokkan kepada Nabi Ibrahim Alaihis Salam. Sedang dipersiapkan menjadi tabungan amal orang tuanya. Sedang menikmati anugerah yang Allah berikan. Di antara dawuh Kiai Azaim yang melekat ingatan.


Kalau selama ini, kita mendengar beliau menyampaikan perihal kesabaran dan keikhlasan. Pada kewafatan, Ra Imy, kita melihat secara langsung bagaimana Kiai Azaim membuktikan apa yang beliau sampaikan. Di samping menyembunyikan kesedihan, Kiai Azaim telah menampakkan keceriaan di tengah suasana duka cita yang tidak terelakkan.


Kepergian Ra Imy yang tergolong masih sangat belia, memberi pelajaran bahwa kematian tidak memandang usia. Meski tidak lama di dunia dan belum terlihat perannya dalam kehidupan. Bisa jadi derajatnya lebih mulia dari kita di hadapan Allah SWT. Selamat jalan polisi Allah bertemu dengan para kekasih Allah. (*)


 


*) Alumnus Pondok Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo.

Editor : Rahman Bayu Saksono
#kolom #artikel #opini