Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Liburan Maulid saat Santri ”Tidak Dipulangkan”

Rahman Bayu Saksono • Selasa, 9 November 2021 | 19:15 WIB
liburan-maulid-saat-santri-tidak-dipulangkan
liburan-maulid-saat-santri-tidak-dipulangkan

SAYA akan sedikit bercerita mengenai kehidupan yang sering diperbincangkan oleh masyarakat awam. Padahal banyak sekali yang belum pernah menginjakkan kaki di kehidupan spiritual yang satu ini, setidaknya receh atau pun doa lebih baik jika sampai di catatan sebagai bantuan untuk segala model pembangunan demi majunya pendidikan, Islam Nusantara ke depan.


Santri, adalah saya, adalah kami, di antara ribuan pejuang lainnya yang hidup di dunia kepesantrenan. Jangan bilang Anda tidak tahu apa itu pesantren? Wah, tidak masalah. Maka akan saya jelaskan, sedikit saja. Agar mudah dicerna, para santri menyebut pesantren adalah penjara suci.


Disebut penjara, ya karena memang pada dasarnya siapa pun santri yang menetap di pesantren tidak akan diizinkan untuk keluar masuk gerbang tanpa izin dan tanpa kepentingan yang jelas. Dikatakan suci bukan berarti semua santri yang menetap di pesantren adalah orang-orang yang tidak berdosa, yaitu karena pesantren adalah tempat di mana mengajarkan ilmu-ilmu yang sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Tuhan Pencipta Alam, Allah SWT.


Santri tidak akan selamanya hidup di pesantren, ada kalanya ngendeng, asal tidak sampai gendeng.  Ada kalanya liburan untuk mencari hiburan, merehatkan pikiran dari hafalan-hafalan, dan lain-lain. Liburan pun tidak seperti masyarakat yang biasanya bisa mantai ketika weekend. Jika di pesantren yang menjadi tempat berjuang saya saat ini yaitu salah satu Pondok Pesantren yang ada di ujung Provinsi Jawa Timur tepatnya di Kabupaten Banyuwangi, dengan nama Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, liburan panjang hanya ada di dua momen penting yaitu liburan dalam rangka Lebaran Idul Fitri dan ketika Maulid Nabi Muhammad SAW.


Waktu ternyata cepat berputar. Tiba saatnya bulan yang sangat dinanti oleh saya dan teman-teman, yaitu liburan bulan Maulid. Biasanya, pesantren mana pun akan mengadakan liburan untuk para santrinya yaitu dengan cara holiday in home alias liburan di rumah masing-masing. Begitupun dengan pesantren yang didirikan oleh Imam Al Ghozalinya Tanah Jawa itu, yaitu Hadrotus Syaikh Almukarrom KH Mukhtar Syafa’at Abdul Ghofur.


Menurut tentatif acara pondok, biasanya setelah acara peringatan Kelahiran Nabi Muhammad SAW, keesokan harinya santri akan berada dalam penantian, menunggu kepastian dari orang yang sangat berpengaruh pada kehidupan, yaitu kedatangan orang tua untuk menjemput putra-putrinya. Mengingat saat ini sepertinya sudah diperbolehkan untuk melakukan perjalanan panjang asal sudah memiliki kartu vaksinasi Covid-19.


Saya beserta ribuan teman lainnya pun berharap adanya kepulangan santri di rumah. Tapi ternyata, semua itu tidak sesuai dengan ekspektasi kami. Dewan pengasuh rupanya belum mengizinkan santri untuk liburan di rumah masing-masing. Terkait alasan, sudah bisa ditebak kemungkinan karena kekhawatiran pengasuh terhadap kondisi daerah luar yang masih belum memungkinkan.


Akhirnya, liburan Maulid pun tetap diadakan dengan menyandang kata ”tidak dipulangkan”. Tidak masalah, gumamku saat itu. Toh aku memang sudah sering liburan di pondok. Bahkan, dari awal nyantri di Mbah Yai pun, aku belum pernah merasakan liburan di rumah sendiri, alias mudik di kota kelahiranku, Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan.


Ternyata, bagaimanapun pengasuh tidak semena-mena mengurung kami di penjara suci ini. Liburan ya hiburan. Di antara banyak hiburan, yang paling membuat saya memunculkan persepsi tersendiri yaitu acara nonton bareng (nobar).


Nobar sebenarnya terdengar receh memang. Bagaimana tidak! Nobar ala santri ini cenderung unik. Tentu berbanding jauh jika nobarnya di bioskop. Jauh sekali. Kuberi tahu khasnya:


Pertama, sederhana. Bukan hanya fasilitas yang terbilang sederhana. Anak-anak muda kalangan santri pun juga ngikut sederhana. Pasalnya, tidak akan ditemukan popcorn yang harga biasanya di bioskop melebihi harga tiketnya itu di lingkup pesantren. Cukup bawa air putih PDAM atau minuman kopi, itung-itung sebagai teman biar tetap melek hingga film selesai.


Kedua, feels so fresh and natural. Ketahuilah, bahwa tidak mungkin santri yang jumlahnya ribuan itu nobar yang ditempatkan di dalam ruangan. Pasti akan terasa sumpek. Tak pelak, nobar yang memang biasanya selalu dilakukan di malam hari itu pun terasa fresh ketika desiran angin malam yang langsung kiriman ori dari Tuhan menyapa dengan lembutnya, aah isis rasanya!


Ketiga, feel fun. Kenapa saya mengatakan feel fun? Karena orang-orang yang ada di sekitar kita atau penonton lainnya adalah teman-teman kita sendiri. Film yang diputar pun bukan hanya film-film religi. Bahkan malam itu adalah film action yang sangat menegangkan. Hingga tak jarang, suara jeritan melengking dengan bebasnya terpadu dengan alam, gak terkurung di ruangan.


Sungguh sampai bisa lupa jalan pulang ke rumah rasanya. Ternyata kehidupan pesantren yang banyak digosipkan membosankan, agamis banget, dan sejenisnya, tidak sama juga dengan realitanya. Saya merasakannya. Tiga malam Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, akan berbulan madu bersama film-film yang kekinian. Dan tentunya hal itu semata-mata untuk hiburan.


Dari awal nyantri di Blokagung, saya belum pernah sekalipun merasakan nobar yang bergenre horor. Paling pol ya film action. Apa mungkin ditakutkan akan memunculkan teriakan yang melolong tak karuan? Entahlah. Yang jelas, jika Anda ingin merasakan sensasi nobar santri di pondok pesantren, saya rasa perlu juga untuk memasukkan daftar pondok pesantren sebagai objek selayang pandang di liburan Maulid tahun depan! Itu pun jika para santri kembali tidak dipulangkan. (*)


 


*) Santri Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.

Editor : Rahman Bayu Saksono
#artikel #opini