ISTILAH tikus berdasi sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Semakin hari, para tikus berdasi menggunakan kecerdikannya demi melakukan pencurian dan melakukan penggelapan dana milik negara. Tikus berdasi, sejatinya adalah pejabat pemerintah atau pun pegawai negeri merupakan penjajah asli di negerinya sendiri. Tikus berdasi yang ada di negeri mana pun merupakan contoh tikus berakal yang sebenarnya.
Kecerdasan dan kelicikan yang dimiliki oleh mereka digunakan untuk penipuan belaka dan tentunya merugikan banyak pihak. Berbagai kebijakan padahal sudah diterapkan untuk mengatasi dan membasmi para tikus berdasi, namun lagi-lagi kasus yang terus bermunculan seolah menunjukkan bahwa bangsa kita kurang sigap dalam membasmi tikus-tikus tersebut.
Pelaku dari korupsi biasanya disebut koruptor, namun di Indonesia koruptor sering disindir dengan istilah tikus berdasi. Mengapa tikus berdasi? Hal tersebut dilatarbelakangi dengan kebanyakan kasus korupsi di Indonesia dilakukan oleh kaum pejabat berdasi yang merupakan orang terhormat, jika dilihat secara hukum, korupsi merupakan perbuatan yang dilakukan dengan maksud memberikan keuntungan yang tidak sesuai dengan tugas resmi dan hak orang lain (Hendry Campbell, Black’s Law Dictionary, 1997: 345).
Tanpa kita sadari, saat ini dunia berada dalam permasalahan besar. Mulai dari munculnya wabah penyakit yang berasal dari virus corona atau lebih akrab di sebut covid19 hingga masalah yang selalu muncul mengiringi. Pandemi Covid-19 yang awal merebak di Indonesia pada akhir 2020 itu ternyata mampu membuat ekonomi Indonesia terjun drastis, interaksi antar sosial menjadi kurang dan masih banyak lagi.
Berbicara mengenai perekonomian yang semakin hari semakin melumpuh, tentunya pemerintah Indonesia tidak hanya diam menyembunyikan tangan, menyumbat telinga dari keluhan, dan lebih tidak mungkin jika pemerintah hanya merebahkan diri di empuknya kasur jabatan. Terutama ketika mengetahui persentase jumlah masyarakat yang dinyatakan positif terserang oleh virus tersebut selalu mengalami kenaikan yang signifikan.
Indonesia adalah negara yang memiliki rasa toleransi tinggi dengan sesama. Sampai saat ini, banyak yang sudah mendapatkan bantuan dari pemerintah dalam bentuk apa pun. Terkait dengan arah jalan bantuan yang di berikan oleh pemerintah, masyarakat kurang lebih hanya menerima. Urusan yang terikat dengan bantuan sosial tidak lepas dari tangan cerdik milik para pejabat yang sudah diberi amanah besar untuk menjalankan dengan baik.
Orang yang telah diberi amanah tentunya memiliki tanggung jawab besar, maka tak heran jika banyak pejabat pemerintahan yang tidak mampu mengemban amanah dengan baik. besarnya ambisi untuk tetap eksis duduk di kursi jabatan, mengenakan setelan jas rapi dengan dasi yang melilit di leher membuat para pejabat melakukan banyak cara demi tercapainya program kerja pemerintah. Sehingga banyak dijumpai para koruptor di negeri ini.
Belum lama kemarin, negeri ini digegerkan dengan kenyataan “Tikus berdasi yang tertangkap KPK.” Anda tahu siapa? Tentunya mereka yang duduk di kursi jabatan. Tidak diduga, tikus berdasi kali ini adalah tokoh yang menduduki sebagai Menteri Sosial. Kedua pejabat Kemensos diduga menyunat bantuan bansos untuk wilayah Jabodetabek sebesar Rp.10 ribu dari nilai paket bantuan sebesar Rp.300 ribu. Aliran dananya diduga sampai ke Juliari dengan total Rp.17 Miliar. KPK menetapkan Joko sebagai tersangka penerima suap. Lalu diduga berkomplot dengan Menteri Juliari dalam pengadaan bansos Covid-19 lewat PT. Rajawali Parama Indonesia, diduga dimiliki Matheus Joko Santoso.
Anggaran bansos Covid19 Kemensos mencapai Rp5,9 triliun dengan 272 kontrak yang akan dilaksanakan ±selama dua periode. Perusahaan milik Joko diduga ditunjuk dalam pengadaan. Jaksa KPK kemudian menuntut Juliari 11 tahun penjara. Namun Juliari meminta agar dirinya divonis bebas karena mengaku menyesal dan meminta Majelis Hakim membebaskannya dari segala tuntutan dengan dalih untuk mengakhiri penderitaan dia beserta keluarganya.
Di luar kenyataan yang menyedihkan itu, masih ada kenyataan yang lebih memprihatinkan. Yaitu tangis batin para masyarakat pecah seketika, tatkala mengetahui orang yang diberi kepercayaan besar oleh negara untuk mengatasi hal yang bersangkut paut dengan keuangan, bantuan sosial, justru malah memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Mengenai penyesalan, itu adalah hal yang biasa terjadi ketika sudah dihadapkan borgol besi dan bui.
Beginilah negeri ini. Dipenuhi para tikus berdasi. Tikus makan darah. Darah jadi daging. Dagingnya daging tumbuh. Maka tak heran jika para tikus berdasi saat ini masih bersantai dan tidur di hotel bintang lima, akhir pekan akan menjelajah keluar negeri bersama keluarga menaiki Lamborgini dan kemewahan-kemewahan lainnya. Para tikus berdasi, lihatlah dengan mata hati bagaimana nasib negeri ini? (*)
*) Mahasiswi IAI Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin