Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Fomo, Media Sosial, dan Jurus Pengendalian Diri

Ali Sodiqin • Senin, 6 September 2021 | 18:15 WIB
fomo-media-sosial-dan-jurus-pengendalian-diri
fomo-media-sosial-dan-jurus-pengendalian-diri


SITUASI pandemi seperti ini, membuat kita sebagai remaja memilih untuk menghabiskan waktu untuk bermain media sosial. Bukan hanya untuk mengisi waktu senggang melainkan untuk mengisi kebingungan karena gak tau mau ngapa-ngapain. Kegiatan normal yang berjalan seharusnya kini berjalan tidak seperti biasanya. Kebanyakan remaja seperti saya, menghabiskan hampir setengah hari untuk mengecek atau pun sekadar meng-scroll laman media sosial di gawai kesayangan.



Kecenderungan bermain media sosial kadang membuat sebagian dari kita bisa merasa stres atau pun sakit hati. Seperti halnya ketika teman-teman kita pergi ke sesuatu pesta tetapi kita tidak diundang atau turut ikut dalam acara tersebut. Atau pun saat sahabat kita, pergi liburan tetapi kita tidak bisa ikut karena acara keluarga atau hal-hal lainnya. Belum lagi jika ternyata yang di-posting teman-teman di dunia maya adalah hal-hal yang menyenangkan, happy-happy, serasa tidak ada sisi kehidupan yang tidak mengenakkan. Semua serba enak dan bahagia. Meskipun saya kurang tahu apakah mereka benar-benar bahagia atau bahagia yang semu.



Keadaan tersebut itulah yang biasa kita kenal dengan Fomo (Fear of Missing Out). Fomo adalah perasaan takut ketika orang lain bersenang-senang tanpa dirimu, memiliki kehidupan yang lebih baik dari kamu, atau mengalami hal-hal yang lebih baik daripada kamu, dan kamu merasa tidak mau ketinggalan atau ingin melebihi dia. Perasaan ini juga mungkin menimbulkan rasa iri, stres, kecewa, dan lain-lain.



Sadar atau tidak, beberapa dari kita mungkin mengalami ini di dalam kehidupan sehari-hari. Namun tahukah Anda, kalau Fomo juga bisa menyebabkan permasalahan psikologis pada diri kita? Fomo sering kali membuat kita ingin selalu terhubung dengan orang lain sehingga kita selalu mengecek laman media sosial untuk mengikuti kegiatan mereka dengan dalih tidak ingin ketinggalan momen bersama mereka. Namun, hal itulah yang semakin membuat kita merasa iri.



Hal ini juga bukan sesuatu yang baik. Karena kita menjadi tidak ”here and now” seperti halnya kita menjadi fokus bermedia sosial dan menjadi kehilangan momen berharga ”in real life” dalam dirimu, teman, sahabat, dan keluarga yang sedang berada di sekitar. Jadi, bagaimana cara kita memfokuskan kehidupan pada ”the real world” bukan pada media sosial dan tidak terus menerus kembali ke media sosial. Jawabannya cukup mudah. Coba luangkan waktu sebentar untuk membayangkan hal-hal di atas, sedih bukan? Apa yang kamu rasakan?



Perasaan iri dan kekhawatiran untuk hal-hal yang sepatutnya tidak perlu kita pikirkan membuat kehidupan menjadi jenuh. Sering iri, serta sakit hati. Perasaan cemas dan iri ketika kita tidak mengikuti keseharian seseorang juga berdampak buruk bagi diri kita sendiri. Seperti halnya ketika teman-teman kita bersenang-senang tanpa kita, kita pasti akan mengalami gejala overthinking untuk hal-hal sepele.



Overthinking adalah situasi ketika kita memikirkan sesuatu hal secara terus-menerus tanpa melakukan tindakan apa pun. Overthinking bisa menyerang siapa saja. Dari tua mau pun muda. Untuk anak muda seperti saya, sering kali terlalu berlebihan dalam berpikir yang menyebabkan kurang percaya diri.



Untuk menghindari Fomo dan overthinking tersebut terjadi, lihatlah sekitar. Mulai mengobrol dengan keluarga, mengerjakan beberapa pekerjaan rumah. Mungkin sering kali beberapa anggota keluarga membutuhkan bantuan akan hal itu dan sering kali kita tidak menyadarinya. Mulailah kerjakan tugas dan beberapa deadline yang terlewat. Hal-hal itulah yang bisa membuat kalian jauh dari media sosial karena kalian sibuk pada diri kalian sendiri bukan pada kehidupan orang lain.



Media sosial kita fungsikan seperti apa agar bermanfaat? Media sosial bisa kita gunakan sebagai media untuk mengeksplorasi hal-hal baru. Untuk mengembangkan skills yang sebelumnya ingin kita kembangkan, seperti content creator, learning language, and soft skill. Bisa juga kita gunakan untuk memperluas relasi pertemanan. Relasi yang luas sangat diperlukan pada situasi seperti ini apalagi untuk remaja seperti saya. Dengan memiliki relasi yang luas kita lebih bisa mengeksplorasi hal-hal yang sebelumnya belum kita ketahui. Contohnya kita dapat mengetahui bagaimana situasi dan kondisi teman kita di daerahnya. Juga bisa kita gunakan untuk mencari materi-materi sekolah dengan informasinya yang lebih luas.



Sebenarnya media sosial sangat bermanfaat tergantung bagaimana cara kita memakainya. Namun, berkegiatan di kehidupan nyata jauh lebih penting. Kita bisa mengembangkan hal-hal yang sebelumnya terbengkalai karena kita sibuk bermedia sosial. Jadi bijaklah dalam bermedia sosial. (*)



 



*) Siswa kelas XII IPA 1, MAN 1 Banyuwangi.



Editor : Ali Sodiqin
#artikel #catatan #opini