Beberapa waktu yang lalu, kemunculan beberapa mural yang menggelindingkan kritik terhadap PPKM, sudah banyak yang dihapus. Di Tangerang, graffiti “Tuhan Aku Lapar” dihapus aparat, malahan pembuatnya didatangi polisi. Sedangkan untuk pembuat mural bergambar wajah Presiden Jokowi dengan mata tertutup dan bertuliskan “404: not found” diburu polisi, karena dianggap menghina simbol negara. Dan di Pasuruan, mural bergambar dua kartun dengan tulisan “Dipaksa sehat di negara yang sakit”, dihapus oleh Satpol PP.
Lantas, yang menimbulkan sebuah pertanyaan sekaligus kegeraman adalah keterlibatan pihak yang berwajib untuk menghapus mural dan memburu pembuat mural. Sedangkan perkara mural ini sesungguhnya hanyalah sebagai sarana curahan hati para rakyat di negeri ini. Curahan hati dari apa yang dirasakan rakyat selama PPKM berlangsung.
Padahal menurut salah satu pelukis mural “Tuhan Aku Lapar”, kalimat Tuhan aku lapar dipilih karena mewakili kondisi mereka saat itu karena pandemi covid-19. "Ini adalah keluhan dan doa kami pada tahun sang pencipta." Jadi, kalimat itu sama sekali tidak punya niatan untuk menyinggung bahkan menyindir pihak mana pun. Hanya sebatas ekspresi dalam bentuk seni.
Graffiti dan mural, seni jalanan tersebut bukanlah hal yang asing lagi bagi kita. Bahkan bagi sejarah Indonesia dan sejarah dunia. Coretan dan gambar di dinding-dinding kota tersebut, merupakan bagian dari penanda bergeraknya zaman. Rekaman rasa gelisah plus rasa geram masyarakat. Dan juga catatan harapan untuk sebuah perubahan
Pada awal-awal kemerdekaan, graffiti dan mural merupakan ungkapan penyampai kabar kemerdekaan dan penyulut semangat kemerdekaan. Bahkan Presiden pertama Republik Indonesia Ir.Soekarno di dalam pidato HUT RI 17 Agustus 1956 mengungkapkan, bahwa seni graffiti mempunyai peran dalam perjuangan awal kemerdekaan. Di dalam pidatonya, Bung Karno berujar ”di tembok-tembok rumah, di tembok-tembok jembatan, orang tuliskan isi hatinya dengan singkat, tetapi tegas: Indonesia Never Again The Lifeblood Of Any Nation. Indonesia tidak lagi akan jadi darah hidupnya sesuatu bangsa asing. We fight for freedom, We have only to win. Kita berjuang untuk kemerdekaan. Kita pasti menang,”.
Bahkan pada masa pasca reformasi, tentu saja kemunculan graffiti dan mural sebagai bagian dari ekspresi seni dan kritik semakin marak di berbagai tempat. Wajah Wiji Thukul, Munir, dan Marsinah komplit dengan kata-kata perlawanan bertebaran di dinding-dinding kota. Dari ibukota Jakarta hingga kota-kota kecil di seluruh Indonesia.
Graffiti dan mural bukanlah spanduk yang berisikan kampanye ataupun iklan dari sebuah perusahaan. Mural dan graffiti merupakan salah satu cara masyarakat untuk merebut ruang publik. Ggraffiti dan mural dibuat tanpa perlu mengurus surat izin pada pihak setempat. Juga tanpa membayar pajak pemasangan reklame atau pemasangan baliho.
Seni jalanan adalah bagian dari ekspresi masyarakat negara yang harus diakomodasi dan diberi ruang untuk tetap berekspresi. Seperti halnya ketika masyarakat menggunakan jalanan dan area publik untuk menggelindingkan curahan hati mereka.
Apalagi baru-baru ini, pemerintah kembali memperpanjang PPKM level 4 di 34 kabupaten/kota luar Jawa Bali dari tanggal 24 agustus 2021 sampai tanggal 6 september 2021. Di wilayah PPKM level 4 luar Jawa-Bali, tempat kerja harus menerapkan work from office 25 persen, dan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Bila terjadi klaster baru, maka tempat kerja akan ditutup sementara selama lima hari.
Sementara kapasitas tempat ibadah hanya 30 orang, restoran dan kafe yang menerapkan makan di tempat dibatasi dua orang per meja dengan jam operasional hingga pukul 20.00. Untuk tempat wisata dan fasilitas umum kapasitasnya hanyalah 25 persen dengan prokes ketat, serta kegiatan seni budaya dan olahraga mencapai 25 persen, kemudian, resepsi pernikahan hanya boleh dihadiri 30 orang, dengan pembatasan kegiatan hajatan. Sedangkan untuk industri ekspor boleh beroperasi 100 persen, bila terjadi klaster baru maka ditutup lima hari.
Akibatnya, ekonomi masih belum bisa optimal. Pergerakan masyarakat masih terbatas karena adanya hambatan mobilitas. Sementara itu, kelas menengah ke bawah tekanan ekonominya kian mencekik.
Nah, dari sinilah para seniman jalanan mencoba untuk mengekspresikan curhatan hatinya perihal kehidupan saat ini. Sesuai dengan empiris di lingkungannya. Bahkan lingkungan orang lain sekalipun. Lewat masterpiece mereka, yaitu seni graffiti dan mural, yang mereka buat di tembok-tembok rumah, dan tembok-tembok jembatan.
“Tuhan Aku Lapar”, “Dipaksa sehat di negara yang sakit”, dan “404: not found” adalah pekerjaan rumah bagi negara. Pemerintah perlu bertindak untuk secepatnya melakukan recovery terhadap perkara-perkara yang terjadi di masyarakat. Khususnya di bidang ekonomi. Apalagi di saat PPKM level 4 ini diperpanjang kembali, bukan hanya PR dari pemerintah dan negara. Akan tetapi pekerjaan rumah bagi kita juga, sebagai penduduk Bumi Pertiwi. (*)
*) Mahasiswa Universitas Ibrahimy Situbondo.
Editor : Ali Sodiqin