BANYAK orang yang menganggap matematika sebagai salah satu pelajaran yang ‘menakutkan’. Ilmu eksak yang sudah ditemukan sejak 2000 SM ini memang sering menjadi momok menakutkan bagi pelajar di semua tingkatan. Mereka sudah menanamkan pernyataan bahwa ‘Matematika itu sulit’ sedari awal sehingga terisolasinya pikiran dan enggan untuk belajar matematika. Paradigma di atas tentu akan bisa menghambat proses pembelajaran matematika itu sendiri.
Banyak alasannya kenapa matematika dianggap ‘menakutkan’. Mulai dari bentuk matematika yang diidentikkan dengan angka-angka, simbol-simbol, banyak rumusnya dan berbagai alasan klasik lain yang membuat pelajar sulit paham. Mereka menganggap matematika hanya membuat pusing dan tanpa berusaha untuk mencoba memecahkan masalahnya.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim dalam Mandiri Investment Forum 2021, Nadiem bicara blak-blakan soal sumber daya manusia (SDM) di Indonesia. skor PISA (Program for International Student Assessment) atau Program Penilaian Pelajar Internasional. "Indonesia konsisten menjadi salah satu negara dengan peringkat hasil PISA terendah, di mana hasil skor PISA Indonesia stagnan dalam 10-15 tahun terakhir," ujar mas Menteri.
Berdasar data PISA 2018, terlihat bahwa kemampuan matematika Indonesia berada di peringkat yang rendah. Indonesia berada pada posisi 72 dari 78 negara di dunia dengan skor 379. Dengan peringkat ini Indonesia tertinggal jauh dari negara ASEAN lain seperti Singapura di peringkat 2 dengan skor 569 dan bahkan Malaysia di peringkat 47 dengan skor 440.
Lantas kenapa hal di atas bisa terjadi? Tentu banyak faktor pemicunya dan akan bisa banyak perdebatan yang terjadi. Tapi dari segi yang paling dasar dari siswa itu sendiri. Apakah para pelajar sekarang malas untuk belajar matematika? Jika Anda seorang pelajar, dan menjawab: “ya, saya malas dan bahkan mau berhenti saja untuk belajar matematika”. Sebaiknya pikirkan ulang jawaban Anda tersebut.
Karena Sebuah riset terbaru yang dipimpin oleh Roi Cohen Kadosh, Profesor Ilmu Saraf Kognitif di Universitas Oxford yang berjudul, “The impact of a lack of mathematical education on brain development and future attainment”, yang dipublikasikan di The Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) pada 15 Juni 2021 menjelaskan bahwa berhenti belajar matematika pada usia 16 tahun memberikan dampak negatif pada perkembangan otak dan kognitif.
Tak seperti kebanyakan negara, siswa di Inggris dapat memilih dapat memilih subjek mata pelajaran yang mereka mau. Sistem pendidikan seperti itu membuat tak sedikit siswa SMA di Inggris yang memutuskan untuk tidak lagi mengambil mata pelajaran matematika. Dari fenomena ini, para peneliti Universitas Oxford hendak mencari tahu apa dampaknya bagi otak manusia.
Para peneliti melibatkan 133 siswa dengan rentang usia 14-18 sebagai bagian objek eksperimen mereka. Hasilnya, para peneliti menemukan bahwa siswa yang berhenti belajar matematika mempunyai senyawa kimia otak penting yang lebih rendah ketimbang siswa yang terus belajar matematika.
Senyawa kimia yang dirujuk oleh para peneliti adalah gamma-aminobutyric acid (GABA). Senyawa kimia ini berada di area otak yang disebut korteks prefrontal, dan punya fungsi kognitif penting, seperti penalaran, pemecahan masalah, matematika, memori dan belajar. Kemampuan kognitif adalah keterampilan berbasis otak yang diperlukan untuk melakukan tugas apa pun dari yang sederhana hingga yang paling kompleks.
Terlepas dari kemampuan kognitif siswa, para peneliti dapat membedakan antara remaja yang masih belajar matematika dan yang tidak hanya dari jumlah senyawa kimia GABA di otak. Padahal, sebelum para siswa berhenti belajar matematika, para peneliti tak menemukan perubahan senyawa GABA di otak mereka. Perubahan senyawa kimia GABA di otak terbukti dalam dunia nyata, catat peneliti. Dalam kurun waktu 19 bulan, siswa yang punya senyawa GABA lebih tinggi dapat mengerjakan soal matematika lebih baik ketimbang yang lebih rendah.
Roi Cohen Kadosh, Profesor Ilmu Saraf Kognitif di Universitas Oxford, yang juga memimpin penelitian tersebut berkata: “Keterampilan matematika dikaitkan dengan berbagai manfaat di dunia kerja, status sosial ekonomi, serta kesehatan mental dan fisik. Masa remaja adalah periode penting dalam kehidupan yang terkait dengan perubahan otak dan perkembangan kognitif.
Sayang sekali, kesempatan untuk berhenti belajar matematika pada usia ini tampaknya menyebabkan kesenjangan antara mereka yang berhenti belajar matematika dan yang melanjutkan mempelajarinya. Penelitian kami memberikan tingkat pemahaman biologis baru tentang dampak pendidikan pada otak yang sedang berkembang”.
Ternyata begitu pentingnya untuk belajar matematika. Tetapi minat yang terjadi mungkin malah sebaliknya. Para pelajar enggan atau malah berhenti untuk belajar matematika karena merasa mata pelajaran ini tidak bermanfaat. Memang pada kenyataannya, banyak materi yang dipelajari di sekolah itu tidak akan dipakai dalam kehidupan sehari-hari.
Akhirnya, banyak yang juga bertanya-tanya, pintar matematika buat apa? Atau mengatakan matematika bukanlah passion saya. Dengan alibi-alibi tersebut mereka merasa tidak perlu lagi untuk belajar matematika.
Padahal belajar Matematika tak melulu tentang apa hasil akhirnya. Tetapi yang juga penting adalah prosesnya. Proses belajar matematika itu ada tantangan, membutuhkan ketelitian dan cermat dalam menyelesaikannya. Terutama dalam proses menyelesaikan soal yang rumit dan panjang. jika terjadi sedikit kesalahan, kita harus bersabar dan bahkan memulainya dari awal lagi.
Dengan demikian belajar Matematika juga akan melatih diri kita menjadi pribadi yang teliti, cermat dan sabar.
Matematika juga melatih kemampuan untuk berpikir logis dan memecahkan masalah. Akshay dalam Life Hacks menjelaskan, “Ketika kita mengerjakan soal matematika: mengumpulkan data, memecah premisnya, mengobservasi keterkaitannya atau secara sistematis menyelesaikan masalah dengan cara yang rasional. Jika kita bisa memahami matematika dan datang dengan solusi yang logis, kita akan bisa menyiapkan otak kita untuk menyelesaikan masalah yang nyata. Kita akan mencari logika terbaik, melihat solusi yang mungkin dan menghubungkan data yang kita miliki untuk menarik kesimpulan.”
Matematika mengajarkan berpikir logis terlebih dahulu dalam mengetahui kebenaran dengan berbasis bukti, bukan emosi. Matematika bukan hanya berhitung saja, tetapi matematika adalah proses berpikir. Jadi belajar matematika juga mempunyai manfaat bagi perkembangan otak dan kognitif manusia.
Maka, khususnya bagi para remaja, janganlah sampai berhenti untuk belajar matematika. Jangan malas apalagi takut dan mulai mencintai pelajaran matematika. Niscaya kita akan menikmati saat mempelajari, dan memperoleh manfaat yang bahkan tanpa kita sadari. (*)
*) Guru Matematika MAN 2 Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin