ALBERT Einstein, sang fisikawan dunia pernah mengungkapkan, ‘’Setiap orang itu jenius, namun jika Anda menilai ikan dari kemampuannya memanjat pohon, dia akan meyakini sepanjang hidupnya bahwa dia itu bodoh”.
Dari kalimat Einstein tersebut, kita bisa membuat imajinasi bahwa, suatu ketika di hutan rimba terdapat sekolah alam yang murid-murid di sana terdiri dari ikan, burung, monyet, gajah, kancil, tupai, dan ayam hutan. Suatu ketika sang guru memberikan tes bagi semua muridnya untuk memanjat pohon, maka seketika itu monyet bergembira dan dengan mudahnya dia memanjat pohon sampai puncaknya, demikian pula si tupai juga dengan mudah memanjat sampai pucuk ranting. Sedangkan si ikan sangat gelisah dan berpikir keras bagaimana dia akan sampai ke puncak tertinggi pohon?
Dari pesan Einstein yang kita imajinasikan tersebut, kita paham bahwa pendidikan bagi setiap peserta didik tidak bisa disamaratakan. Monyet diberikan bakat alamiah dan didesain oleh Tuhan untuk bisa memanjat pohon. Jari-jari monyet didesain dengan ukuran yang relatif lebih panjang dari manusia, sehingga dengan mudah dapat memegang ranting-ranting pohon. Pun demikian juga dengan jari kakinya. Sehingga dengan desain fisik tersebut, memudahkan monyet memanjat pohon. Hal tersebut jelas berbeda dengan potensi dan desain fisik yang dimiliki oleh ikan.
Dengan kejelian melihat dan mempelajari alam, Einstein memberikan sebuah pesan penting untuk dunia pendidikan. Bahwa setiap anak yang berada di bangku sekolah mempunyai keunikan, bakat, dan kecerdasan yang bermacam-macam. Tuhan sudah menciptakan benih potensi dan mendesain setiap anak dengan kelebihannya masing-masing, tinggal orang tua, guru, dan pendidik meningkatkan potensi yang sudah dianugerahkan kepada anak tersebut.
Dengan bekal kesadaran ini, ke depan jangan ada lagi penyama-rataan kurikulum bagi semua anak didik yang malah akan mematikan minat, bakat, dan potensi anak didik yang beragam. Jangan karena ego orang tua, anak di didik hanya untuk mengikuti minat orang tua. Jangan hanya karena asas kepraktisan, anak-anak di dalam kelas disamaratakan perlakuannya oleh guru. Karena model pendidikan seperti ini, anak-anak tidak bisa menikmati pendidikan yang mereka jalani dan juga menyebabkan tekanan mental bagi anak. Tidak ada anak bodoh
Dalam dunia sekolah contohnya, sewaktu kita sekolah dasar sampai sekolah menengah atas pasti kita punya teman yang dianggap nakal atau biang keonaran di dalam kelas. Tetapi, di bidang lain anak-anak tersebut ternyata sangat mahir, misalnya ternyata si anak tersebut mahir dalam sepak bola, pandai bermain basket, dan bahkan paham sekali otak-atik handphone dan komputer. Padahal mereka tidak diwadahi dalam sekolah untuk bidang tersebut. Hal tersebut merupakan bukti sederhana bahwa ternyata dalam sistem pendidikan kita belum bisa mengakomodasi minat, bakat dan potensi anak-anak didik yang ada di dalamnya dan bahkan malah mematikan potensi anak. Dengan kesadaran tersebut, kita tidak akan dengan mudah men-judged si anak bodoh, hanya kita sebagai orang tua, guru, dan pendidik yang gagal menemukan dan mengembangkan minat, bakat, dan potensi si anak.
Sebagai evaluasi ke depan, kita sebagai orang tua, guru dan pendidik, hanya perlu membantu si anak untuk menemukan passion mereka, menemani dan mengarahkan mereka untuk mengembangkan minat, bakat dan potensi mereka, serta membuat mereka ahli dalam bidangnya masing-masing. Dengan cara tersebut anak-anak akan menikmati dunia pendidikan mereka dan pada gilirannya keahlian mereka akan berguna untuk membantu masyarakat yang lebih luas. (*)
*) Wakil Dekan FISIP Untag 1945 Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin