Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Mengenali Software dan Hardware dari Tuhan untuk Pendidikan Anak

Ali Sodiqin • Sabtu, 3 Juli 2021 | 04:00 WIB
mengenali-software-dan-hardware-dari-tuhan-untuk-pendidikan-anak
mengenali-software-dan-hardware-dari-tuhan-untuk-pendidikan-anak


ANAK merupakan anugerah dan kehendak dari Tuhan. Sehingga anak yang lahir tidak bisa memilih dari siapa dia dilahirkan. Dari orang tua yang kaya atau orang miskin? Dari orang tua pejabat atau rakyat? Dari orang tua selebritis atau orang biasa? Anak juga tidak dapat memilih di mana dilahirkan. Wajah dan fisik pun anak dan kedua orang tua tidak bisa memesan dan menentukan sebelumnya. Jenis kelamin laki atau perempuan, kedua orang tua tidak dapat menentukan. Semua itu mutlak kehendak Tuhan Yang Mahakuasa.



Selain, kondisi fisik (hardware) seperti warna kulit, bentuk tubuh, bentuk rupa, jenis rambut, jenis kelamin yang merupakan kehendak Tuhan. Ia juga memberikan software bagi si anak. Software merupakan sifat-sifat bawaan lahir pada anak seperti, bakat dan minat si anak, tingkat kecerdasan atau IQ si anak, dan kecenderungan-kecenderungan si anak.



Oleh karena itu, dalam mendidik anak, orang tua harus menyadari bahwa ada potensi fisik (hardware) dan nonfisik (software) yang merupakan kehendak Tuhan. Maka, dalam mendidik anak, orang tua harus berjalan dengan kesadaran bahwa ada aspek yang Tuhan titipkan kepada anak, yang orang tua tidak bisa mengubahnya. Maka, salah jika pendidikan mengansumsikan bahwa si anak adalah kertas kosong yang siap ditulisi apa pun sesuai kemauan orang tua atau guru atau dosen.



Dengan kesadaran ini, orang tua dan guru pada tahap pendidikan awal terutama, harus bertugas mendampingi anak untuk mengenal minat, bakat, dan kecenderungan dirinya yang telah diberikan Tuhan. Jangan sampai malah orang tua memaksakan sesuatu yang bukan merupakan minat, bakat, dan kecenderungan pada anak.



Sebagai contoh, ayah sangat minat dan bakat dalam sepak bola, maka anak diarahkan bahkan dipaksa untuk menjadi pemain sepak bola, yang belum tentu anak memiliki minat dan bakat sama dengan ayah. Kalau tujuan awal ayah hanya mengenalkan anak terhadap sepak bola, itu sangat bagus. Sambil dilihat, apakah anak punya minat dan bakat sepak bola. Kalau anak memiliki minat dan bakat yang sama dengan ayah, silakan dilanjutkan. Namun, jika anak tidak memiliki minat dan bakat sepak bola, maka selayaknya orang tua mengenalkan si anak terhadap bidang-bidang lain.



Selanjutnya, orang tua dalam mendidik anak harus diselaraskan dengan minat, bakat, dan kecenderungan anak yang itu merupakan titipan Tuhan. Bukan menyelaraskan dengan minat, bakat dan kecenderungan orang tua. Sehingga jika pendidikan disesuaikan dengan minat, bakat, dan kecenderungan si anak, anak-anak akan menikmati proses belajar dan hasilnya akan lebih maksimal. Jangan sampai orang tua, guru atau pendidik, menghapus software yang telah dianugerahkan Allah kepada anak. Sehingga anak kehilangan jati dirinya.



Bukankah sudah banyak contoh kasus anak dipaksa menjalani proses pendidikan, sehingga dia tidak bisa menikmati prosesnya? Bahkan sampai tingkat pendidikan perguruan tinggi masih banyak mahasiswa yang salah mengambil jurusan kuliah, dan pindah jurusan lain yang lebih diminati. Hal ini terjadi, karena orang tua dan guru, sejak pendidikan balita telah gagal mengenalkan dan mendeteksi minat, bakat, dan potensi mahasiswa.



Lantas bagaimana mendeteksi minat, bakat, dan potensi anak? Sejak dini orang tua perlu mendukung dan mendorong anak agar si kecil mengeksplorasi berbagai macam kegiatan. Sehingga anak akan mengenal berbagai macam aktivitas baik yang terkait dengan pengembangan otak dan fisik. Setelah anak mengenal aktivitas-aktivitas, selanjutnya orang tua meneliti, mana aktivitas yang anak paling mahir dan cepat bisa dalam mempelajari. Sehingga benih inilah yang akan ditumbuhkan orang tua dalam pendidikan di rumah dan disuburkan dalam pendidikan sekolah. (*)



 



*) Wakil Dekan FISIP Untag Banyuwangi.


Editor : Ali Sodiqin
#kolom #artikel #opini