FENOMENA tulisan maupun gambar pada bak truk sering kita jumpai di jalan raya. Gambar dan tulisan pada bak truk yang dibuat oleh pengemudi merupakan bentuk ekspresi sosial terhadap kondisi dan fenomena yang mereka lihat dan jalani dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan yang disampaikan dalam bentuk tulisan bisa menggunakan bahasa daerah, bahasa Indonesia, maupun bahasa Inggris yang direkayasa dengan begitu cerdas, lucu, nakal, bahkan binal. Sehingga siapa saja yang membaca dibuat geli, tertawa, dan kadang tersenyum sendiri.
Kita sering menemukan kata seperti: ”Ora usah dolanan barang nylempit. Enake sak menit, rekosone sundul langit,” yang maknanya, jangan main-main dengan perbuatan zina. Nikmatnya tak sebanding dengan aib yang diterima.
Pesan dengan menggunakan bahasa Indonesia misalnya; ”Pergi dicari, pulang dimarahi. Cintamu tak seberat muatanku”. Sedangkan pesan yang menggunakan bahasa Inggris biasanya berupa rangkaian kata yang jika diartikan secara harfiah, kalimat tersebut memang tak bermakna alias ”ngaco”, akan tetapi jika dilafalkan akan menjadi ucapan bahasa Jawa yang lucu, misalnya: ”New fear the me is 3”. Yang maksudnya bekerja sebagai sopir untuk menafkahi istri.
Untuk memperkuat pesan yang disampaikan lewat tulisan biasanya disertakan simbol-simbol atau gambar-gambar, namun umumnya berupa gambar wanita cantik. Hal itu tentunya mempunyai tujuan sebagai motivasi, sugesti, penghibur diri, dan bahkan sebagai pengingat saat mereka bekerja di jalanan.
Sebagai pemerhati bahasa Inggris, paling tidak kami menemukan dua fakta bahwa pesan yang disampaikan dalam bahasa Inggris tersebut tidak hanya berupa permainan kata-kata seperti pada umumnya. Namun, berupa pesan yang ternyata berupa nasihat yang sangat bijak nan luhur yang tidak pernah kita duga sebelumnya.
Pesan tersebut berbunyi: ”Initial honesty of success”. Dibutuhkan analisis yang agak mendalam untuk memahami pesan tersebut. Ternyata tujuan pesan tersebut adalah berbicara tentang kejujuran yaitu ”Kejujuran awal dari kesuksesan”. Pesan ini berbentuk kalimat yang asalnya ”Kejujuran (adalah) awal dari kesuksesan.”
Namun dalam pesan tersebut berupa frasa, yang seharusnya berbunyi ”Honesty is the beginning of success”. Satu lagi pesan berbunyi, ”Loyalty is smart with patience”. Dalam pesan ini dua kata pada pelengkap kalimat seharusnya sejajar yaitu kata benda dengan kata benda.
Smart bukanlah kata benda melainkan kata sifat, sehingga dapat disempurnakan ”Loyalty is because of intelligence and patience”. Meskipun secara gramatikal dua pesan tersebut kurang berterima (not acceptable), informasi yang disampaikan lewat pesan tersebut dapat dicerna dan dimengerti secara utuh oleh pembaca yaitu masalah kejujuran dan kesetiaan.
Berdasar fakta, bahwa sopir adalah pekerjaan yang bersifat berpindah-pindah (kendaraannya) dari satu tempat ke tempat lain, dan tahu berbagai tempat singgah yang memungkinkan menjadi rentan terhadap perilaku yang menyimpang dengan norma-norma sosial maupun agama.
Dua pesan di atas menyiratkan bahwa kejujuran dan kesetiaan bisa menjadi pengingat dan pegangan di kala mereka menjalankan tugas yang penuh dengan risiko, gangguan, dan bahkan godaan. Kejujuran mengacu pada aspek karakter, moral, dan berkonotasi atribut positif dan berbudi luhur seperti integritas dan keterus-terangan pada perilaku dan beriringan dengan tidak adanya kebohongan, penipuan, perselingkuhan, dan lain-lain.
Menurut pesan di atas, kesetiaan ditentukan oleh dua hal yaitu kecakapan dan kesabaran. Ibarat dua sisi pada mata uang, kesetiaan menjadi tidak bermakna kalau salah satu dari dua hal tersebut hilang. Kecerdasan tidak disertai dengan kesabaran maka akan cenderung memanipulasi, merekayasa, dan bahkan mendominasi yang lain. Kesabaran tanpa kecerdasan atau kecakapan akan cenderung menjadi fatalisme yaitu menyerah pada nasib dan tidak bisa mengubahnya.
Sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Jeffrey Lang dalam pidatonya tentang The Purpose of Life bahwa ada tiga elemen dalam drama kehidupan yaitu: intellect (kecerdasan), choice (pilihan), dan suffering (penderitaan).
Dalam konteks kehidupan sopir, kesetiaan membutuhkan suffering yaitu penderitaan atau pengorbanan karena kesetiaan tidak cukup diucapkan secara lisan. Namun juga membutuhkan pembuktian tingkah laku seperti terbuka, konsisten tehadap perilakunya, memberikan usaha yang terbaik, intim secara emosional, dan terbuka pada pasangannya. Walaupun kadang saling berjauhan di kala sedang pergi melaksanakan tugas.
Kecerdasan dalam mengemudi sangat dibutuhkan antara lain pandai membaca peluang yaitu tidak merasa kesulitan untuk mengemudikan mobilnya, sekalipun ia dalam posisi terjepit atau dalam parkiran yang sempit. Begitu juga memiliki sikap tenang dalam mengemudi memungkinkan penumpangnya merasa aman dan nyaman.
Sedangkan choice atau pilihan adalah sikap sabar untuk memilih dan menentukan jalan yang benar yang diridai Sang Khalik meskipun beraneka macam godaan mereka temui di jalanan.
Profesi seorang sopir sering dikaitkan dengan jargon ”nek ngaso terus mampir” dan distigmatisasi sebagai orang yang berperilaku buruk. Terutama soal hubungannya dengan wanita. Berkaca dari dua pesan berbahasa Inggris di atas, sebagai orang yang literat, kita seharusnya tidak menggeneralisasi atau gebyah uyah bahwa semua sopir mempunyai konotasi perilaku yang negatif.
Bahkan sebaliknya, banyak kita temui sopir yang berperilaku santun, jujur, dan berintegritas. Tutur kata maupun kecerdasan spiritualnya kadang melampaui atribut maupun profesi yang mereka sandang.
Memandang kesalehan seseorang secara simbolik, yaitu sesuatu yang tampak secara fisik atributif tanpa memperhatikan kesalehan substantif. Yakni keseluruhan sikap dan tindakan yang dilandasi oleh keimanan dan dibalut dengan keikhlasan membuat kita tertipu.
Tulisan maupun gambar yang santun dan inspiratif pada bak truk, bisa menjadi media hiburan sekaligus edukasi. Baik bagi pembaca maupun pengemudinya. Teruslah semangat bekerja dan berkreasi Bapak Sopir. Semoga kejujuran dan kesetiaanmu sebanding dengan muatanmu. (*)
*) Staf pengajar Bahasa Inggris MTsN 3 Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin