Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

”Bunga Desa” Penegasan Eksistensi Sosok Pemimpin Perempuan

Ali Sodiqin • Kamis, 3 Juni 2021 | 19:00 WIB
bunga-desa-penegasan-eksistensi-sosok-pemimpin-perempuan
bunga-desa-penegasan-eksistensi-sosok-pemimpin-perempuan


MENJADI pemimpin itu bukan perkara mudah, apalagi pemimpin tersebut seorang perempuan yang berkecimpung dalam bidang yang didominasi oleh pria. Dan tidak mudahnya lagi, Ipuk Fiestiandani memimpin setelah suaminya, Abdullah Azwar Anas, menjadi bupati selama sepuluh tahun dengan segudang prestasi. Meskipun kita semua tahu, arah jalan politik keduanya ibarat simbiosis mutualisme, namun besar perkiraan saya bahwa masing-masing individu termasuk Ibu Bupati ingin memiliki prestasinya sendiri, tidak dicap ”mengekor atau numpang” prestasi suaminya.



Dalam tulisan ini, saya tidak akan bercerita panjang lebar tentang teori feminisme atau mengkritisi jalan politiknya. Tulisan ini hanya sekelumit tentang ”woman in leadership” dan usaha saya memberikan informasi pengetahuan tentang bidang tersebut.



Kamis, 27 Mei 2021 saya dikabari ibu saya bahwa Bupati beserta jajarannya melaksanakan ”Bunga Desa” di SDN 1 Kumendung, Kecamatan Muncar, tempat ibu saya mengajar. ”Bunga Desa” merupakan akronim dari Bupati Ngantor di Desa. Seketika saya ingat bahwa tempat saya mengajar di Surabaya juga pernah menerima kunjungan Bapak Presiden beserta istri untuk meresmikan suatu unit lembaga keuangan syariah. Tentu keduanya memiliki konteks yang berbeda dan tidak bisa disamakan, namun secara umum gaya kepemimpinan antara RI 1 dan P 1 memiliki kemiripan, sama-sama blusukan. Bukankah ”Bunga Desa” bentuk lain dari blusukan?



Dari beberapa sumber yang pernah saya pelajari, salah satu gaya pemimpin perempuan adalah tidak menyukai ”self-branding”, yang artinya mereka terlihat rendah hati dan cenderung diam atas capaian-capaian yang dimiliki, mereka tidak pandai untuk sengaja membuat ”branding” atas dirinya sendiri. Namun, sepertinya teori ini tidak berlaku bagi Ipuk Fiestiandani, melalui program ”Bunga Desa” atau ”Blusukan formal” Ipuk tampaknya mencoba membuat kepemimpinannya eksis dan nyata, bukan ”mengekor”. Satu kali langkah, tiga hal tercapai.Pertama untuk penyelesaian masalah-masalah dalam masyarakat desa tersebut, kedua implementasi pemimpin yang memang harus dekat dengan masyarakatnya, ketiga ”create a brand for herself”.



Ipuk dan program kerja ”Bunga Desa” adalah dua hal yang lumrah dan wajar. Jika dia lebih menyukai gaya kepemimpinan seperti itu, maka sejatinya hal tersebut memang gaya yang khas dari sosok pemimpin perempuan yang jarang dimiliki oleh pemimpin laki-laki karena merupakan ciri khas feminin.



Dalam teori disebutkan bahwa pemimpin perempuan cenderung menyukai untuk menerapkan ”promote cooperation and collaboration”. Artinya, perempuan-perempuan lebih menyukai bekerja sama dan berkolaborasi, namun masing-masing individu dalam timnya harus jelas peran dan tanggung jawabnya, sehingga tidak ada yang ongkang-ongkang, semua harus bekerja sesuai dengan tanggung jawabnya masing-masing.



Kondisi pemimpin perempuan memiliki manfaat yang berbeda dengan pemimpin pria. Para perempuan diberkahi dengan kualitas alami seperti kolaborasi, empati, dan perhatian yang telah menjadi tren yang harus dimiliki oleh para pemimpin saat ini. Namun, keadaan lain menjadi penghalang untuk para perempuan menorehkan prestasi-prestasinya menjadi pemimpin. Keadaan yang menjadi penghalang seperti kurangnya pemahaman masyarakat, keluarga, kolega, bahkan lingkungan kerja/organisasi. Nampaknya melalui program ”Bunga Desa” Ipuk juga berusaha menghapus bias gender yang masih ada dalam masyarakat. Banyak masyarakat bahkan dari kalangan maskulin meremehkan peran-peran perempuan yang menjadi pemimpin atau memiliki jabatan dalam organisasi yang didominasi oleh pria.



Saya pribadi sebagai seorang ibu dan pendidik tidak mempermasalahkan ketika seorang perempuan menjadi pemimpin. Asalkan pemimpin perempuan tersebut telah teredukasi secara agama dan ilmu pengetahuan, hingga dia tahu dan paham kodratnya sebagai seorang perempuan. Pendidikan agama untuk pembentukan spiritual dan akhlakul karimah, ilmu pengetahuan umum untuk membentuk kemampuan soft skill dan hard skill yang berguna untuk karirnya. Seluruh proses pendidikan tersebut harus ditempuh dan miliki oleh seorang perempuan sehingga dia tidak melangkahi kodratnya baik dalam hal agama dan budaya yang telah mengakar hingga menjadi komponen jati diri seorang perempuan.



Jika diamati dan dibandingkan dengan teori-teori kepemimpinan perempuan, tampaknya program ”Bunga Desa” akan terus berjalan hingga akhir masa jabatan pasangan Bupati Ipuk dan wakilnya, Sugirah. Sebagai warga Banyuwangi tentu doa-doa terbaik untuk seluruh program kerja yang telah direncanakan guna kemajuan bumi Banyuwangi. Sebagai penutup izinkan saya mengutip sebuah kalimat dari Eleanor Roosevelt, ”A woman is like a tea bag – you can’t tell how strong she is until you put her in hot water”. Selamat bekerja! (*)



 



*) Dosen Prodi PGMI STAI Al-Fithrah Surabaya.


Editor : Ali Sodiqin
#kolom #bunga desa #artikel #opini