INDUSTRI 4.0 telah banyak membawa perubahan pada bidang industri dan pola hidup masyarakat. Di era teknologi yang semakin canggih, manusia semakin dimanjakan dengan segala macam kemudahan untuk melakukan pekerjaan. Kita menjadi terbiasa mendapatkan sesuatu dengan serba cepat.
Sebelum adanya ponsel, orang-orang saling berkomunikasi dengan kerabat yang berjauhan menggunakan bantuan kantor pos. Paling cepat dua hari surat atau paket akan sampai di tujuan. Sangat besar jasa kantor yang identik dengan warna oranye ini pada zaman dahulu. Sekarang, dengan kecanggihan alat komunikasi seperti email, SMS, dan segala macam aplikasi pengirim pesan; cukup sekali klik, pesan yang kita kirim akan sampai hanya dalam hitungan detik. Belum lagi dengan bantuan WhatsApp, Instagram, Twitter, Facebook dan media sosial lainnya membuat kita mudah terhubung dengan teman di negara mana pun. Teknologi membuat dunia menjadi tanpa batas.
Sekarang semua serba cepat dan instan. Ada minuman instan, mi instan, bumbu masak instan, makanan instan dan lain-lain. Bahkan untuk membeli makanan dan barang tidak perlu lagi datang ke toko atau rumah makan, cukup dengan aplikasi tertentu, pesanan yang diinginkan akan diantar pada pemesan. Terbiasa dengan kondisi yang serba cepat, generasi sekarang pun mempunyai kecenderungan untuk mendapatkan segala macam hal yang diinginkan secara langsung. Tidak mau repot, capek, dan ingin semuanya serba cepat tanpa pedulikan bahwa segala sesuatu itu perlu proses dan butuh waktu.
Sebagai contoh, dalam pembuatan makalah. Kemudahan mengakses informasi menyebabkan pengerjaan tugas terkesan asal jadi. Dengan membuka Google, kemudian mengetik apa yang ingin dicari, lalu copy-paste dari sumber mana pun dan tugas selesai. Coba bandingkan saat internet belum berkembang, penyusunan makalah dilakukan dengan susah payah melalui observasi, penelitian dan sebagainya yang membutuhkan usaha, waktu dan biaya.
Sebagian remaja sangat tergantung pada keadaan yang serba cepat dan mudah ini. Mereka menjadi sangat manja terhadap teknologi, terbiasa menerima mentah-mentah informasi yang didapat tanpa diolah dan dibuat solusi baru yang kreatif. Remaja seperti ini akan bermental instan, sulit menghadapi tantangan dan permasalahan. Pemilik mentalitas instan pun kerap mengabaikan kenyataan bahwa ada aturan dan tahap dalam setiap hal. Mereka cenderung selalu berusaha mencari jalan pintas untuk mencapai tujuannya.
Menurut Socrates dalam Bloom (1991), “Then the man who’s going to be a fine and good guardian of the city for us will in nature be philosophic, spirited, swift, and strong”. Kriteria seorang pemimpin yang baik antara lain bersemangat, cepat, dan kuat. Pertanyaannya, bagaimana generasi ini akan membangun Indonesia menjadi negara yang terhormat jika mereka tumbuh dan dibesarkan dalam dunia yang serba instan? Minim proses dan perjuangan? Jarang bergerak dan berkeringat? Kurang tantangan dan tekanan? Sanggupkah?
Generasi milenial saat ini hidup dengan mengenal teknologi lebih baik daripada orang tua mereka. Generasi ini sangat cepat menerima dan mengadopsi informasi. Generasi milenial seharusnya dapat juga terbentuk menjadi generasi cepat, bukan generasi instan. Mereka harus tetap menjalani proses untuk mencapai kesuksesan. Sebagian orang melupakan bahwa taoge itu cepat tumbuh, tetapi tidak kokoh. Berbeda dengan beringin yang menancapkan akarnya terlebih dahulu sehingga lebih kuat menahan tantangan.
Bila tidak diarahkan secara benar, masa depan mereka bisa terancam. Tantangan persaingan antara mereka cukup tinggi. Mereka dituntut untuk memiliki kompetensi yang tinggi. Untuk itu, bekal pengetahuan dan jiwa kreativitas harus mutlak ditanamkan pada generasi milenial tersebut. Di masa depan, Indonesia sangat membutuhkan individu-individu yang kreatif. Tentu saja, pendidikan yang mengedepankan kreativitas butuh proses, tidak bisa instan.
Seorang bayi yang dapat berdiri langsung tanpa melalui tahap merangkak, menurut pakar anak, bukanlah suatu hal yang baik dan membanggakan dalam fase tumbuh kembangnya. Karena justru membuat perkembangannya tidak lancar dan mengakibatkan beberapa kerugian di kemudian hari. Seperti, anak jadi susah konsentrasi, kurang fokus, tulisan tangannya jelek, gampang jatuh, konvergensi mata kurang bagus, serta koordinasi mata dan tangannya kurang bagus. Demikian gambaran hasil yang diperoleh dari sesuatu yang instan dan tergesa-gesa.
Karakteristik menginginkan dan melakukan sesuatu dengan serba cepat merupakan salah satu karakter terkuat dan tak terhindarkan dari generasi ini. Karakteristik serba instan bisa menjadi positif. Asalkan, generasi milenial tidak melupakan aspek proses dan kerja keras yang harus dilalui jika ingin mendapatkan pencapaian terbaik. Perlu dipahami, kecepatan adalah kekuatan, namun ketergesa-gesaan adalah kesia-siaan. (*)
*) Guru SMA Negeri 2 Situbondo.
Editor : Ali Sodiqin