Di tengah pandemi Covid-19, melakukan segala bentuk aktivitas menjadi serba terbatas. Terlebih lagi di sebagian besar kota di Indonesia yang masih memberlakukan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Segala bentuk aktivitas masyarakat mulai diperketat dengan kebijakan di masing-masing daerah. Seperti belum diperbolehkannya sekolah tatap muka, larangan aktivitas di RTH, aturan ganjil genap, serta pembatasan melakukan kegiatan di tempat- tempat ibadah.
Adapun hal yang paling membuat situasi pandemi ini menjadi begitu berat, khususnya bagi masyarakat Indonesia adalah keadaan ekonomi keluarga yang semakin melemah karena penghasilan yang menurun. Serta sulitnya mendapatkan pekerjaan kembali akibat kena PHK, sehingga banyak keluarga yang kesusahan menjalani kehidupan sehari-hari.
Pandemi Covid-19 kadang juga masih disalahartikan sebagian besar orang sebagai sebuah bencana yang menghambat kehidupan. Banyak orang mulai mengeluh dan hidupnya mulai tak terarah. Padahal jika kita mampu paham atas situasi seperti ini, dapat menjadikan kualitas kehidupan kita jauh lebih baik dari kehidupan kita sebelumnya.
Kita dituntut untuk menguatkan imun tubuh agar bisa terhindar dari paparan virus Covid-19, seperti menaati protokol kesehatan, mengatur pola makan, dan istirahat dengan cukup. Selain imun tetap terjaga, iman pun menjadi landasan utama untuk kita bisa menjaga keadaan tubuh di dalam situasi pandemi ini. Sebab, modal abadi dalam menghadapi kematian adalah dengan iman. Jangan salah artikan imun lebih kuat dari iman, justru imun yang kuat berdampingan dengan adanya iman yang tebal.
Menurut pendapat Ibn Hajar bahwa iman secara bahasa, berarti tashdiq. Sedangkan secara syar’i, iman adalah membenarkan semua yang dibawa oleh Rasul dari Rabb-nya. Iman sendiri meliputi perkataan dan perbuatan. Iman diyakini dalam hati, yaitu dengan mempercayai dan meyakini dengan sepenuh hati adanya alam semesta dan seisinya.
Kita harus percaya bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu di muka bumi ini pasti ada manfaatnya. Pandemi Covid-19 mengajarkan kepada seluruh umat manusia yang jauh dari Tuhannya, untuk bisa kembali mendekat. Yang biasanya kehidupan normal kita disibukkan dengan berbagai macam aktivitas penuh, hingga membuat kita lupa akan segalanya, seperti keluarga dan kesehatan diri sendiri. Namun, di tengah situasi dengan keterbatasan melakukan segala sesuatu, tentunya pikiran dan hati kita hanya tertuju kepada satu hal, adalah fokus kepada diri sendiri dan berserah kepada Tuhan.
Lantas bagaimana cara kita, agar musibah Covid-19 ini digunakan sebagai ajang untuk mempertebal atau meningkatkan keimanan kita kepada Tuhan atas segala macam ujian atau cobaan yang dihadapi sehingga meningkatkan imun tubuh kita di masa pandemi ini? Sebagai umat Islam, kita telah diajarkan bagaimana caranya berhusnuzan, artinya selalu berprasangka baik atas segala bentuk ujian dan cobaan yang telah Tuhan berikan kepada kita, seperti pandemi Covid-19 ini.
Adapun bentuk sikap husnuzan yang dapat kita lakukan terhadap diri sendiri, sebagaimana yang dikatakan oleh Buya Yahya pimpinan Ponpes Al-Bahjaj adalah dengan berprasangka baik dan meyakini bahwa musibah Covid-19 ini adalah bentuk pengajaran atau pendidikan yang diberikan oleh Allah SWT kepada seluruh umat manusia terkhusus umat Islam yang ada di dunia.
Dengan adanya Covid-19 ini, Allah telah mendidik kita untuk bisa menjaga kebersihan, lebih berhati-hati, termasuk dalam urusan perekonomian. Walaupun keadaannya serba terbatas, Allah telah mengajarkan kita untuk tetap kuat dan ikhlas menghadapi situasi dengan segala keterbatasan.
Jika kita hitung musibah yang sedang kita alami saat ini tentunya tidak sebanding dengan segala bentuk kenikmatan yang telah Tuhan berikan kepada kita sepanjang menjalani kehidupan di dunia. Kesehatan jasmani, kesempurnaan fisik, limpahan rizki, bahkan napas yang masih bisa kita rasakan hingga detik ini adalah bentuk kenikmatan besar yang setiap hari Tuhan limpahkan kepada kita.
Dalam Alquran surah Al-Baqarah ayat 155–156 Allah berfirman yang artiya, ”Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”.
Ayat di atas telah mengisyaratkan kepada kita sebagai seorang yang berhamba, bahwa jagat raya termasuk bumi ini tidak akan pernah dalam kondisi utuh dan aman dari kerusakan (bencana). Karena sesungguhnya kebaikan dan kerusakan akan selalu mengiringi perjalanan kehidupan manusia sebagai ujian kesabaran atas kualitas amal baik. Barang siapa yang lolos dalam ujian kesabaran maka dialah benar-benar orang yang beriman.
Selain dengan selalu berprasangka baik kepada Allah, meningkatkan ibadah dan memperkuat doa menjadi salah satu cara terbaik bagaimana kita mempertebal keimanan di tengah situasi pandemi ini. Walaupun iman yang kita miliki kadang masih naik turun, namun apa salahnya kita belajar untuk bisa konsisten dan teguh dalam keimanan, serta istikamah dalam beribadah. Pertama yang bisa kita lakukan adalah dengan menjadikan bentuk syukur kita adalah dengan beribadah. Jadi munculkan selalu rasa syukur iman dan ibadah sebagai wujud syukur kita.
Kedua, kita harus sadari bahwa ibadah itu bukan kebutuhan Allah, melainkan untuk diri kita sendiri, untuk memenuhi kebutuhan spiritual rohani. Kebutuhan-kebutuhan tersebut dipenuhi melalui iman yang kokoh dan dengan ibadah yang baik.
Ketiga, kita harus menyadari bahwa dengan istikamah beribadah, manfaatnya adalah bagi diri kita sendiri. Antara lain keadaan mental kita menjadi damai dan tenang, apalagi di tengah situasi pandemi seperti ini. Pikiran dan keadaan yang kacau dapat kita netralisasi dengan istikamah beribadah.
Salah satu kunci agar kita bisa mencapai tingkat keimanan yang seutuhnya, adalah dengan tetap konsisten menjalankan segala bentuk kebaikan dan menghindari diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Serta menjadikan situasi pandemi ini sebagai ajang untuk mendapatkan sangu akhirat, karena kita tidak pernah tau kapan kematian akan berpihak kepada kita. (*)
*) Siswa Kelas XII MAN 2 Banyuwangi
Editor : Ali Sodiqin