Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Orang Jahat Terlahir dari Orang Baik yang Tersakiti, Apa Iya?

Ali Sodiqin • Kamis, 11 Februari 2021 | 23:35 WIB
orang-jahat-terlahir-dari-orang-baik-yang-tersakiti-apa-iya
orang-jahat-terlahir-dari-orang-baik-yang-tersakiti-apa-iya



PERNAHKAH Anda menonton film Joker? Seorang tokoh antagonis yang wajahnya di-makeover seperti badut sirkus. Film Joker ini dirilis pada tahun 2019, merupakan hasil garapan sutradara Todd Phillips yang sudah menghiasi layar kaca Indonesia dan tetap menjadi topik perbincangan hangat. Dalam Joker (2019), dikisahkan pemeran joker, Arthur Fleck, sebagai orang yang menderita penyakit mental yang kerap disakiti di lingkungannya.



Setelah keluar dari rumah sakit jiwa, Arthur yang bercita-cita menjadi seorang komedian harus bekerja menjadi badut untuk menghidupi diri sendiri dan ibunya. Ia sering dipukuli dan hingga akhirnya dipecat sebagai badut sewaan.



Tidak ada satu pun orang yang mau berteman dengannya. Sehingga tidak ada tempat baginya untuk berkeluh kesah. Karena semua orang menganggap dirinya sebagai orang yang aneh.



Sulitnya kehidupan di Kota Gotham, membuat Arthur semakin terpuruk dan menderita. Bahkan, terapi dan pengobatan dari Dinas Sosial setempat juga terpaksa dihentikan. Arthur baru menemukan jati dirinya dan perasaan nyaman bahagia ketika ia membunuh orang. Ketika pribadi-pribadi yang lemah, baik, dan cenderung mengalah seperti cerita Arthur yang tersakiti dan merasa hancur harga dirinya, entah itu berasal dari perkataan dan perilaku orang lain di lingkungannya, maka individu tersebut merasa goyah jiwanya.



Pada akhirnya untuk menetralisasi rasa sakit, kecewa, akibat perlakuan buruk lingkungan, maka orang tersebut melakukan pembenaran atas rasa sakit yang dialaminya. Melakukan pembenaran artinya dia mulai berubah bersikap 180 derajat dari sebelumnya. Dari yang tadi mempunyai sikap yang baik, ramah, berubah mempunyai sikap yang dingin, jahat, bengis, keji, dan tidak punya rasa perikemanusiaan.



Namun terlepas dari itu semua, ramai di dunia jagat maya muncul sebuah kutipan menarik yang menggambarkan kekuatan pandangan terhadap film Joker 2019 ini. Kutipan tersebut berbunyi ”Orang jahat terlahir dari orang baik yang tersakiti”. kutipan ini kian memperkuat nilai terhadap film ini yang memberikan pemakluman atas tindakan-tindakan yang mengerikan yang dilakukan oleh Joker tersebut, karena sejatinya Arthur Fleck sebelumnya digambarkan sebagai seorang yang baik.



Sebagian orang membenarkan dan setuju dari kutipan di atas, namun saya pribadi tidak sependapat. Saya berasumsi dilihat dari dimensi sebenarnya sudah sangat jelas, antara baik dan jahat itu berbeda. Tidak ada warna abu-abu di antara keduanya. Ketika dihadapkan dengan lingkungan dan situasi menguntungkan atau terdesak, lantas apakah membuat kita melakukan hal-hal keji hingga terjadinya sebuah pembunuhan? Menurut saya itu sebuah kelemahan, lemah secara emosi dan pemikirannya. Pertahanan diri perlu diperkuat dan sangat diperlukan.



Kasus yang dialami oleh Joker ini tidak bisa disamaratakan dengan kebanyakan orang. Sekali lagi hal seperti Joker ini terjadi khusus bagi orang mempunyai pribadi yang lemah dan tidak memiliki konsep diri yang kuat. Walau hanya sekadar sebuah film fiksi belaka, tapi bisa juga menimbulkan hal yang buruk di sebagian orang dalam lingkungannya.



Jika seseorang yang mempunyai pikiran lemah dan jiwa yang tidak stabil, apa yang dilakukan oleh Joker bisa menjadi inspirasi di dunia nyata. Perilaku Joker telah terekam ke dalam memori otak pribadi-pribadi yang lemah. Yang sangat dikhawatirkan, jika suatu saat orang tersebut menemui suatu kondisi yang down atau mempunyai konflik dengan pihak lain, maka ingatan tentang Joker akan muncul dan dipraktikkan.



Maka dari itu, kawan jika kalian di posisi yang terjepit dan terpojok, jadilah diri-sendiri, jangan kalian serta-merta menyamakan Anda dengan Joker. Tidak ada yang jahat terhadap Anda. Anda yang sebenarnya berbuat jahat pada diri sendiri. Maka cintailah diri sendiri, karena dengan kita mencintai diri sendiri kita akan terus belajar memilih dan memilah semua tindakan yang kita lakukan dan dengan tindakan tersebut apakah dapat merugikan atau menguntungkan untuk diri-sendiri, terlepas apa pun situasi dan kondisinya. Pertanyaannya, sudahkah Anda mencintai diri sendiri?



Ada tiga cara untuk belajar mencintai diri sendiri agar kalian bisa menghargai diri Anda dan bisa memproteksi diri dalam keinginan melakukan tindakan-tindakan jahat dan keji yang bisa merugikan diri sendiri ke depannya.



Pertama, peduli terhadap diri sendiri sebagaimana kamu peduli terhadap orang lain. Memang kedengaran merupakan hal yang sepele, tapi banyak orang yang tidak melakukannya. Penyebabnya mungkin takut dibilang egois dan merasa bahwa kebahagiaan diri sendiri itu tidak penting. Padahal peduli terhadap diri sendiri itu sama sekali bukan hal yang egois. Diri Anda itu sama pentingnya dengan orang yang kamu sayangi dan cintai, jika kamu sendiri tidak bahagia lalu bagaimana mungkin kamu bisa membahagiakan orang lain, terlebih lagi membahagiakan orang yang kamu cintai.



Kedua, tentukan sebuah batasan-batasan. Mulai membuat sebuah list misalnya tentang; Apa yang penting bagi Anda, Apa yang Anda butuhkan, Apa yang bisa menyakiti atau membuat kecewa apabila diri Anda diabaikan atau dilanggar. Dengan list tersebut, maka kita semakin tahu apa yang penting bagi diri kita dan beserta kita tahu jawabannya. Apa pun yang penting bagi diri Anda itu penting dan jika seseorang melewati batasan itu kamu akan tahu karena itu menyakitkan. Jangan abaikan karena perasaanmu itu ada untuk mengatakan kepadamu mana hal yang benar dan mana hal yang salah.



Ketiga, lakukan hal yang bisa kamu lakukan agar kamu jadi diri sendiri. Temukan sebuah kegiatan yang bisa membuat Anda bahagia, apa pun itu tidak masalah asalkan tidak melanggar norma-norma yang berlaku. Lakukanlah sebanyak mungkin dan sesering mungkin, karena semakin sering kamu lakukan maka Anda akan menjadi semakin bahagia. Jika hal tersebut memerlukan pengorbanan, maka tetap lakukan karena memang harus ada yang dikorbankan.



Itulah tadi tiga hal yang dapat membantu mengembangkan rasa puas terhadap pencapaian, rasa bangga pada apa yang kamu lakukan, siapa Anda, dan kesadaran bahwa Anda adalah orang yang berharga, berbakat, mampu, dan pantas untuk dicintai serta orang yang paling penting untuk dipercayai adalah diri sendiri. (*)



 



*) Guru PJOK MAN 2 Banyuwangi.



Editor : Ali Sodiqin
#man 2 banyuwangi #kolom #artikel #opini