Dulu Jadi Transit Toilet, Sekarang Jadi Transit Wisata

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Selasa, 19 Januari 2021 | 00:35 WIB
dulu-jadi-transit-toilet-sekarang-jadi-transit-wisata
dulu-jadi-transit-toilet-sekarang-jadi-transit-wisata

SATU dasawarsa sudah kepemimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas dalam menakhodai kabupaten yang dijuluki the Sunrise of Java ini. Tentu capaian-capaian yang diperoleh oleh daerah yang memiliki kekhasan budaya dan bahasa Osing ini, tidak serta-merta tampak dan terlihat seperti saat sekarang ini. Banyak tantangan dan perjuangan yang harus diselesaikan antara pemerintah daerah dan masyarakat, termasuk bagaimana menghilangkan anggapan-anggapan minor yang dicapkan kepada kabupaten yang berbatasan dengan Provinsi Bali tersebut.

Bagaimana Kabupaten Banyuwangi yang saat itu, masih dianggap daerah yang menyeramkan bagi pendatang atau pun pelancong yang ingin datang ke kabupaten paling ujung timur di Pulau Jawa ini. Karena dianggap sebagai gudang ilmu santet dan berbagai unsur mistik lainnya, mereka merasa waswas dan malas untuk datang berkunjung.

Suatu ketika, saya pernah baca komentar Pak Anas saat diwawancarai media online medio 2015, menjelang akhir jabatan periode pertamanya. Bahwa ”Banyuwangi dulu itu tidak terkenal dan jauh dari mana-mana. Banyuwangi itu tempat transit. Orang ke Bali, turun kencing naik bus lagi”.  

Dari kutipan tersebut, ada sebuah keinginan dan harapan yang besar dari seorang Pak Anas sebagai orang nomor satu di Banyuwangi saat itu, untuk dapat mengonstruksi daerah yang dulu dianggap menakutkan, kumuh, dan kotor, berubah menjadi daerah yang nyaman, indah, serta aman dan dapat disinggahi lebih lama lagi. Dengan menikmati segala pesona dan keindahan alam yang dimiliki, ditambah dengan sikap serta keramahan penduduknya.

Gerak cepat dan inovasi yang dilakukan Bupati Abdullah Azwar Anas di periode pertama menjabat, dengan satuan kerja dan perangkat-perangkat pendukungnya dalam mengonsep dan menata pemerintahannya, mampu menghasilkan nilai benefit bagi masyarakat.

Tidak hanya itu, Kabupaten Banyuwangi mampu membuktikan sebagai daerah percontohan bagi daerah lain di Indonesia dalam mengelola pemerintahan yang good governance, transparan dengan basis teknologi informasi internet, yang mampu diakses oleh siapa pun.

Selain itu, ditunjang oleh sikap profesional personel mulai jajaran manajerial hingga staf di satuan kerja masing-masing dalam menjalankan tugas pokok fungsinya. Serta ada supporting dari masyarakat yang juga menginginkan perubahan secara sosial maupun ekonominya.

Keberhasilan Pak Azwar Anas dalam mengelola daerahnya tersebut, membuat daerah yang terkenal dengan panorama Kawah Gunung Ijen ini, berkali-kali memperoleh penghargaan dan prestasi hampir di semua aspek kehidupan seperti indeks pembangunan manusianya, ekonomi, pendidikan, sosial, pariwisata, budaya, dan lain-lain. Ini semua berkat sinergi Bupati bersama Forpimda (Forum Pimpinan Daerah) dan rakyatnya yang mampu memformulasikan segala ide dan gagasan ke dalam bentuk kebijakan yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masyarakat Banyuwangi.

Saya melihat ada tiga hal yang dilakukan Pak Anas dalam melakukan maintenance Kabupaten Banyuwangi. Yang pertama adalah melakukan Re-Position, di mana setiap SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) dipimpin dan diisi oleh orang-orang yang mempunyai kemampuan dan kapasitas di bidangnya, berdasar aktivitas serta target pekerjaan yang dibebankan. Di samping itu, ada sistem lelang jabatan yang memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk ikut dan berkompetisi menduduki berdasar fit dan proper yang dimiliki.

Sehingga setiap satuan kerja itu, benar-benar dihandel oleh orang yang tepat dan dijalankan dengan profesional dan mandiri. Yang kedua adalah Re-Organization, dalam periode kepemimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas ini, semua aturan, kebijakan, atau birokrasi yang selama ini rumit, dipangkas dan dibuat lebih sederhana, efektif, dan efisien seperti halnya kebijakan pembukaan pelayanan Mal Pelayanan Publik yang sangat dirasakan efeknya bagi masyarakat. Selain itu, dengan tidak berbelitnya aturan birokrasi tersebut membuat para pengusaha atau investor yang ingin menancapkan modal usahanya ke Banyuwangi tidak merasa khawatir dan cemas serta rugi.

Dapat kita lihat saat ini, bagaimana pembangunan sarana prasarana serta infrastruktur berkembang sangat pesat karena adanya aturan-aturan yang tidak njelimet. Sehingga ujungnya, Pendapatan Asli Daerah (PAD) semakin meningkat dan membuat serapan APBD daerah menjadi tinggi tiap tahunnya karena putaran roda ekonomi berjalan dengan dinamis dan lancar.

Dan yang ketiga adalah Re-Opportunity, ini sangat penting bagaimana seorang pemimpin mampu memanfaatkan dan melakukan set up segala potensi yang dimiliki agar daerahnya menjadi wilayah yang berkembang dan maju. Sepuluh tahun memimpin Kabupaten Banyuwangi, Pak Anas jeli dalam melihat segala peluang sekecil apa pun dalam mengangkat Kabupaten Banyuwangi menjadi daerah yang sangat tersohor baik di kancah nasional bahkan internasional. Di bawah kepemimpinannya, semua stakeholder mulai dari top level hingga bottom level sangat komunikatif dan mampu menjadi marketing dan promotor bagi Kabupaten dengan julukan Kabupaten Festival ini.

Hal ini terbukti, dengan kondisi pariwisata Kabupaten Banyuwangi yang ”naik kelas”, yang awalnya bukan apa-apa sekarang sudah mendunia. Dan ini berimbas terhadap sektor industri usaha baik barang maupun jasa, mulai bermunculan industri usaha baru khususnya skala mikro dan home industry. Tentu ini memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat Banyuwangi yang semakin kuat dan bergairah, di mana lapangan kerja tumbuh dan tingkat pengangguran menurun.

Apalagi di tengah kondisi pandemi saat ini, Kabupaten Banyuwangi dinilai merupakan daerah yang paling siap menerapkan dan menjalankan protokol kesehatan oleh pemerintah pusat. Sekali lagi terima kasih buat Bupati Abdullah Azwar Anas yang telah membuat inovasi dan perubahan yang gradual bagi Kabupaten Banyuwangi, sehingga sebagai warga saya merasa bangga karena Banyuwangi, yang dulu hanya jadi transit toilet, sekarang sudah menjadi transit wisata budaya dan tempat studi banding bagi daerah lain yang ingin belajar dari keberhasilan kabupaten yang terkenal dengan rujak sotonya ini. (*)   

*) Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
kolom artikel opini