Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kampungku Keren

Ali Sodiqin • Rabu, 6 Januari 2021 | 20:40 WIB
kampungku-keren
kampungku-keren

Ketika aku masih kecil, pernah diajak ke Pantai Pulau Merah. Suasananya sepi, hanya deburan ombak tak henti-henti melambai kedatangan kami. Dengan sabar ombak putih menyapu beberapa sampah yang terbawa hingga ke tengah laut. Sampai di tepi pantai pun seakan tak ada yang peduli, sampah itu seakan membuat garis sejajar dengan pantai.

Saat ini sampah tak ada lagi di garis pantai. Ombak hanya membelai anak-anak yang bermain pasir di pantai. Kadang-kadang juga nakal dengan meratakan mainan pasir yang dibuat anak-anak. Atau kadang bermain dengan peselancar yang sedang berduel dengan dirinya sendiri.

Kini pantai itu seakan tak pernah sepi dari sorot mata pengunjung menikmati permainan ombak yang mendendangkan nada indah tanpa harus mengantarkan sampah. Pulau kecil sebagai ikon pantai ini masih tetap seperti yang dulu, keindahannya tak ada yang berubah. Kita masih tetap dapat mendekatinya ketika laut sedang surut. Beberapa ikan kecil yang terjebak dalam kubangan masih dapat kita lihat, begitu juga dengan beberapa tumbuhan dan hewan laut di sela bebatuan dari ujung pantai menuju pulau tersebut.

Pantai dan Pulau Merah masih tetap seperti yang dulu, ketika aku diajak ayahku di waktu kecil. Hanya suasananya yang berbeda. Dulu pantai ini sepi tanpa banyak pengunjung, sekarang nyaris tak pernah sepi. Beberapa payung sebagai tempat santai hampir selalu penuh dengan orang-orang yang menikmati indahnya alam dengan bersantai. Beberapa pengunjung dengan penampilan berbeda yang tampaknya bukan orang Indonesia dengan perasaan aman dan nyaman menikmati alam pantaiku.

Dulu, ketika beberapa lembaga kursus bahasa Inggris ingin menguji kemampuan siswanya, mereka membawa ke Pulau Bali untuk bertemu dengan orang-orang luar negeri untuk melakukan uji percakapan. Sekarang hal itu dapat dilakukan di pantai ini, karena di sini tidak sedikit turis mancanegara yang dengan senang hati melayani percakapan dengan anak-anak yang sedang belajar bahasa Inggris tersebut.

Kini Pulau Merah menjadi ikon wisata di Kabupaten Banyuwangi. Hal ini tidak terlepas dari peran Bupati Banyuwangi yang menjadikan wisata alam nan indah di Kabupaten Banyuwangi dikenal hingga ke mancanegara. Karena itu, kini semakin banyak orang yang berkunjung menikmati wisata di Banyuwangi.

Kampungku kini semakin keren. Di Balai Desa terlihat asri dengan tanaman hias warna-warni. Kini aku tak perlu jauh-jauh berwisata ke luar kota, karena sebenarnya di wilayahku sendiri masih banyak tempat keren yang wajib dikunjungi. Jadi, aneh jika ada rekan atau saudara kita dari luar kota yang ingin  berwisata ke Banyuwangi terlebih di wilayah dekat rumah kita, tapi kita sendiri belum pernah mengunjunginya. Bagaimana kita menjadi guide yang baik jika kita belum pernah tahu tempat tersebut?

Ide kreatif penuh inovasi dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi telah menjadikan kampungku semakin keren. Aku yang bertempat tinggal di Kecamatan Muncar juga mempunyai tempat keren yang tidak kalah pesonanya dengan tempat lainnya.

Kalau dulu Muncar hanya terkenal dengan pelabuhan penghasil ikan dengan beberapa pabrik pengalengan ikan yang banyak menyerap tenaga kerja. Kini, ada tempat jujugan wisata alam pantai terutama bagi yang ingin tahu lebih dekat dengan hutan mangrove. Karena di kampungku kini juga dibuka tempat wisata pantai di Teluk Pangpang. Anda akan memasuki tepi pantai penuh dengan hutan bakau beraturan.

Para penggiat wisata membuat jembatan dari bambu tanpa merusak pohon mangrove. Sehingga kita dapat melewati jembatan di atas air laut di sela hutan mangrove tersebut hingga ke pantai. Ketika air sedang pasang, kita akan berjalan di jembatan di atas air laut di sela hutan mangrove. Jika air sedang surut, kita dapat turun ke pantai tanpa pasir yang jauhnya hingga beberapa ratus meter. Biasanya banyak orang mencari kerang atau kepiting di pantai tersebut.

Jalan menuju pantai mangrove yang diberi nama Pantai Cemara tersebut tidaklah terlalu lebar. Kita harus melewati jalan di antara tambak udang yang jika berpapasan dua mobil harus saling mengalah. Maklumlah bahwa tempat ini dulu tidak dikhususkan untuk wisata. Tetapi tempat ini untuk tambak udang yang dulu pernah mengalami kejayaan. Beberapa tambak kini sudah tutup dan diratakan kembali menjadi perkebunan atau pertanian.

Kalau dulu menuju tempat ini harus melalui Pasar Sumberayu, kini sudah dapat langsung melalui Kota Muncar. Karena sudah dibangun jembatan penghubung antara Desa Kedungringin dan Desa Wringinputih yang cukup besar.

Hutan mangrove yang kini menjadi tempat wisata andalan di kampungku juga relatif baru. Sebelum memasuki hutan mangrove, kita memasuki hutan cemara di sekitar hutan mangrove. Dorongan dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk menjadikan wisata sebagai salah satu cara peningkatan perekonomian warga menjadi penyemangat bagi pemuda mengembangkan wisata alam di desanya.

Inovasi yang dilakukan telah mampu memberikan lapangan kerja baru bagi warga sekitar. Beberapa warga berjualan makanan dan minuman, terutama makanan khas tepi pantai Kecamatan Muncar berupa rujak kelang yang banyak dijual di tempat ini. Rujak kelang terdiri dari potongan buah mangga, ketimun, pepaya, bengkuang, dan beberapa buah lainnya. Bumbunya juga seperti rujak buah pada umumnya, namun yang khas dari rujak kelang ini adalah kuah yang terbuat dari petis ikan asli yang berwarna cokelat agak cair, dituang dalam mangkuk.

Mangrove atau masyarakat setempat menyebut dengan tanjang mempunyai banyak manfaat. Pohon yang tumbuh di tepian pantai berlumpur tersebut bukan hanya berfungsi untuk menahan abrasi. Hutan mangrove memiliki peran penting dan manfaat bagi ekosistem pantai, menjadi tempat berkembang biak habitat kepiting, ikan kecil, dan berbagai burung laut seperti camar dan bangau (blekok) yang dapat kita lihat ketika musim berkembang biak sekitar bulan Desember sampai Mei, atau Januari sampai Agustus.

Ketika musim berkembang biak tersebut, kita dapat melihat dari dekat burung-burung tersebut dengan anak anaknya yang masih kecil. Suaranya kemriyek dapat digunakan sebagai wisata edukasi bagi anak-anak. Meskipun di tempat burung ini bau kotorannya agak menyengat. (*)

*) Mahasiswa Fakultas MIPA Universitas Jember.

Editor : Ali Sodiqin
#Pantai Cemara #kolom #wisata #opini