AKHIRNYA saya ke Pulau Merah (PM) lagi. Rabu (27/6) pekan kemarin. Setelah nyoblos di TPS dekat rumah.
Terakhir ke PM beberapa tahun lalu. Saya agak pangling. PM sudah berubah. Meski tak frontal. Dan vulgar. Kini, PM tampak lebih rapi. Pantainya juga bersih. Enak untuk bersantai. Saya memilih tidak tiduran di jajaran kursi santai. Di bawah payung. Tapi memilih menggelar tikar. Tidak sewa. Tapi bawa sendiri. Termasuk bekalnya. Rombongan besar keluarga saya sangat cekatan. Tanpa dikomando. Ada yang bawa tikar. Ada yang menggotong nasi dalam magic jar. Ada yang membungkus tiga ingkung (ayam panggang khas ndeso). Dan segala yang terkait makanan.
Duduk santai di pinggir pantai. Di tikar di atas pasir. Sambil makan berjamaah. Sungguh luar biasa nikmatnya. Meski sederhana menunya. Tapi sensasinya ngalahkan makan di restoran. Restoran di hotel berbintang sekalipun. Jelek-jelek begini saya juga pernah makan di restoran lho. Mulai yang biasa sampai yang berkelas. Malah saya merasa tidak cocok makan di restoran. Sebab, saya makan agar perut terisi. Tidak mengejar prestise. Atau gengsi.
Meski gelaran tikar kami berada di balik tenda-tenda dan kursi fasilitas PM, tetap saja masih bisa menikmati keindahan pantai. Masih bisa melihat lanskap PM. Sambil mendengar debur ombak laut selatan. Sambil melihat petugas PM mengambili sampah. Terutama sampah daun dan batang tanaman pinggir pantai. Pasti mereka anggota Pokmas PM. Yang mengelola destinasi unggulan Banyuwangi itu.
Beruntung saya tiba di PM menjelang tengah hari. Menjelang surut air laut. Benar juga. Tak lama duduk-duduk dan ngobrol, gejala alam mulai tampak. Air laut mulai surut. Gulungan ombak tinggi makin ke tengah. Tak lagi sampai di bibir pantai terluar. Itulah momen terbaik untuk berfoto ria. Spot untuk selfie maupun wefie makin luas. Pantainya makin menjorok ke laut. Foto di atas pasir yang masih basah ditinggal pulang air laut sungguh indah. Bayangan badan tampak di atas pasir. Kalau mau ngalah geser ke selatan kita dapat angle foto luar biasa. Bukan hanya foto dengan latar belakang gumuk PM. Tapi bayangan gumuk yang jatuh di atas pasir sekaligus menjadi frame diri kita.
Setelah hanya melihat anak saya dan para keponakan main di pinggir laut sambil berfoto ria, saya gatal juga. Apalagi setelah diprovokasi announcer. Yang secara berkala mengumumkan:
1. Air laut mulai surut, pengunjung sekarang bisa jalan kaki menuju PM. Tapi harus pakai sandal atau sepatu. Sebab banyak karang. Lancip-lancip. Waktunya hanya dua jam. Hanya sampai jam lima (17.00), ya.
Anak saya paling girang. Sudah lama dia pengin sekali menyeberang ke PM. Jalan kaki. Sambil cari biota laut. Keinginan itu muncul berkat provokasi teman-temannya. Yang pernah ke sana. Dan tidak lupa pamerkan foto-foto: saat jalan kaki menuju PM. Saat air laut surut.
2. Pengunjung juga bisa menikmati pemandangan luar biasa PM dari tengah laut. Silakan jalan ke arah selatan. Cukup bayar Rp 20 ribu. Anda bisa menyaksikan gua kelelawar, gua kalong, dan gua lobster.
Kali ini saya yang penasaran. Terprovokasi. Apalagi hanya bayar Rp 20 ribu. Naiklah saya dan keluarga ke perahu bercadik. Pakai mesin tempel. Setelah dipastikan semua penumpang pakai life jacket warna oranye, perahu bergerak. Menuju ke tengah. Ke seberang barat PM. Saat perahu tepat di utara PM yang hijau, beberapa penumpang mulai gemetaran. Perahu bergoyang hebat. Naik turun. Diterjang ombak besar. Ketepatan, BMKG pekan lalu memang meramal: ombak pantai selatan lumayan tinggi. Antara 2 sampai 6 meter. Saya sih tenang-tenang saja. Anak dan istri saya bisa renang. Saya sendiri tidak terlalu mahir. Tapi waktu lahir kata ibu di-selameti di pinggir sungai. Seperti teman-teman saya di Kedungrejo, Muncar. Tapi ada alasan lain yang menenangkan saya: pengalaman. Kebetulan saya pernah naik kapal sekoci dari Pancer menuju Plengkung. Saya juga pernah menyeberang dari Ketapang menuju Gilimanuk. Juga pakai sekoci. Tengah malam. Saat ombak besar. Nahasnya, dalam dua perjalanan itu sekoci sempat macet. Terombang-ambing di t
engah laut. Ketika itu, teman saya (wartawan Surabaya Post) sampai pucet. Wajahnya putih seperti tembok. Ketakutan. Hahaha...
Perahu terus melaju. Saya menoleh ke kiri. Sambil mengaktifkan video di HP. Terekam gua kelelawar, gua kalong, dan gua lobster. Tentu saja tak begitu sempurna gambarnya. Ombak bergoyang begitu hebat. Sampai akhirnya posisi perahu tepat di barat Pulau Merah. PM tak lagi tampak hijau. Tak ada lagi pohon. Seperti di sisi timur. Yang terlihat dari pantai. Seperti yang dilihat pengunjung selama ini. Yang tampak adalah dinding cadas. Warnanya kuning kemerah-merahan. ”Itulah rahasianya. Kenapa kok disebut Pulau Merah,” teriak pemandu perahu dari belakang. Sambil memegang kemudi.
Ketika perahu berada di selatan PM, penumpang mengira akan segara menepi. Ternyata kami kecele. Perahu balik arah. Menerjang ombak tinggi lagi. ke rute semula. Beberapa penumpang yang saat berangkat sudah pucet, kembali pucet. Tapi perasaan takutnya terobati. Setelah melihat rahasia PM.
Alhamdulillah, hanya membayar Rp 20 ribu bisa melihat rahasia PM. Ada bonusnya lagi: sensasi ditimang ombak laut selatan.
Wa ba’du. Melibatkan nelayan setempat dalam memajukan PM patut diapresiasi. Hanya, kemampuan para nelayan itu perlu ditingkatkan. Terutama bagaimana cara menjelaskan kepada pelancong. Saat memberi penjelasan harusnya berdiri di tengah. Bukan di belakang sambil pegang kemudi. Sehingga pelancong yang duduk di tengah sampai depan tidak mendengar apa-apa. Kecuali deru mesin tempel perahu. Dan debur ombak yang menghantam bodi perahu. Lebih bagus lagi kalau guide-nya di tengah. Pakai mikrofon malah lebih bagus. OK? (@AdlawiSamsudin)