Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Berbuka Air Mata

Ali Sodiqin • Rabu, 13 Juni 2018 | 00:25 WIB
berbuka-air-mata
berbuka-air-mata

BAGI shaimin, tak ada yang bisa mengalahkan kenikmatan saat berbuka. Wajar. Mereka baru saja menahan haus dan lapar. Selama 12 jam. Bahkan, ada yang sampai 16 jam. Seperti dialami muslimin di belahan negara lain.

Meski para guru ngaji sudah ngasih trik: kalau niatnya benar, puasa sehari penuh tidak akan terasa. Tapi masih ada saja yang menderita. Menahan lapar-haus seharian. Seperti kecil kita dulu. Saat tengah hari berlama-lama di kamar mandi. Atau sungai. Berendam. Supaya tidak terlalu haus. Ba’da asar, bolak-balik ke meja makan. Mengintip menu buka. Yang mulai dihidangkan ibu. Tidak sampai menyentuhnya. Cukup mendekatkan hidung. Menangkap asap lauk yang kebul-kebul. Maklum. Anak kecil. Masih belajar puasa.

Saya yakin, tidak ada orang dewasa yang seperti itu. Kecuali yang puasanya seperti anak kecil. Yang baca niat puasanya kenceng di akhir salat tarawih-witir. Tapi niatnya itu hanya di mulut. Tidak tembus ke hati. Yang seperti itu dijamin suka balas dendam. Begitu sirine tanda buka puasa meraung, langsung main serbu. Semua dimakan. Sampai-sampai salat Magrib-nya mendekati limit.

Shaimin yang seperti itu biasanya gemar datang di acara buka bersama. Di masjid maupun tempat lain. Terutama buka bersama di kantor-kantor. Pemerintah maupun swasta. Beda dengan masjid, buka bersama di kantor umumnya menyajikan buka dalam bentuk prasmanan. Tinggal pilih tinggal ambil. Ambil semua juga tak masalah. Asal kuat malu saja. Dan, kelebihan buka bersama di kantor/instansi adalah: menu makanannya enak-enak. Minumnya juga bukan sekadar air mineral. Tapi ada es buahnya juga. Dawet. Kalau mujur juga dapat macam-macam buah.

Beberapa kalangan malah membuat acara buka bersama lebih heboh. Mereka berkumpul di restoran terkenal. Di hotel. Pesan menu makanan mahal-mahal. Maklum. Kelompok yang satu itu orang kaya-kaya. Atau merasa kaya. Atau baru kaya. Atau pura-pura kaya. Yang pasti buka bersamanya sangat eksklusif. Untuk memperkuat pertemanan. Yang sudah terjalin lama.

Bagi mereka, buka bersama masal seperti di kantor-kantor atau lingkungan tidak seru. Makannya saling berebut dengan undangan lain. Makanya menggelar sendiri. Lebih eksklusif. Tidak ada undangan lain kecuali keluarga mereka sendiri. Masing-masing mengajak serta suami/istri dan anaknya. Mereka biasanya tidak mempersoalkan tempat. Di luar kota pun akan dihadiri. Eman kalau sampai absen. Bahkan, bisa jadi yang tidak bisa hadir akan merasa sangat sedih. Hatinya remuk. Maklum. Mereka sudah seperti keluarga. Yang maniak untuk kumpul-kumpul. Bukan hanya buka bersama. Tapi juga sering ngelencer bareng. Makan bareng. Belanja bareng. Kumpul-kumpulnya bukan kumpul biasa. Sebab, setiap kumpul selalu pakai dress code khusus. Warnanya selalu berubah-ubah. Sesuai tema dan tempat.

Kembali ke buka bersama. Di awal Ramadan kemarin saya menerima pesan WA. Dari teman kuliah sekaligus guru saya. Putra seorang kiai besar di Malang. WA-nya tentang puasa. Tentang buka puasa. Yakni kisah Imam Malik. Pendiri Mazab Maliki itu menangis ketika hendak berbuka puasa. Kisah itu sangat terkenal. Tapi sering dilupakan. Padahal, sangat bagus untuk perenungan. Untuk mengetahui seperti apa puasa kita. Lebih banyak makan atau ibadah.

Alkisah, suatu ketika saat hendak buka puasa Imam Malik bin Anas (pendiri Mazab Maliki) menangis. Deras sekali air matanya berbulir. Sampai membasahi jenggotnya. Ada apa gerangan. Tidak sukakah dia dengan makanan enak yang disajikan para muridnya. ”Kenapa tuan menangis? Tidak enakkah masakan kami? Kurang memuaskankah pelayanan kami?” tanya sang murid.

Ternyata tangisan itu tidak ada kaitannya dengan pelayanan muridnya. Apalagi masakannya yang lezat-lezat. Tangis Imam Malik dipicu oleh ingatannya. Pada gurunya. Imam Ja’far Shodiq bin Muhammad Al Baqir. Peristiwa dalam rekaman ingatan Imam Malik itu juga terjadi saat Ramadan. Ketika gurunya juga melakukan hal yang sama: menangis tersedu-sedu. Air matanya juga sampai membasahi jenggotnya. Lalu Imam Malik bertanya: ”Guru, kenapa Anda menangis? Bukankah seharusnya kita senang karena berbuka puasa?”

Imam Ja’far mengaku, dirinya teringat Nabi Muhammad SAW. Dulu, Nabi sering berbuka puasa hanya dengan tiga buah kurma. Bahkan tak jarang karena tidak ada makanan sedikit pun, Nabi hanya berbuka dengan satu kurma. Itu pun masih dibagi dengan istri tercinta sayyidatuna Aisyah RA. Tapi Nabi tetap merasakan nikmatnya berbuka puasa.

Dalam riwayat lain diceritakan, sambil menahan tangis Imam Malik berkata kepada muridnya: ”Aku sedih melihat makanan yang banyak ini. Karena teringat Rasulullah SAW. Baginda Nabi berbuka dengan makanan yang sedikit. Tapi ibadahnya banyak. Sedangkan aku, berbuka dengan makanan yang banyak. Tapi ibadahku sedikit”.

Wa ba’du: kisah tangisan Imam Malik saat berbuka itu patut dijadikan renungan. Wabilkhusus, ketika menghadapi hidangan buka puasa seliar apakah nafsu makan kita. Idealnya, merunut kisah itu, makan kita (terutama saat berbuka) harus lebih sedikit dari ibadah Ramadan kita. Bukan sebaliknya. Foya-foya dalam berbuka setelah itu tidur mlungker sampai parak imsak. Karena perut kekenyangan.

Alhamdulillah. Selama Ramadan ini saya selalu teringat kisah Imam Malik itu. Saya pun membatasi diri. Menahan diri untuk menghadiri undangan buka bersama. Dan buka bersama di rumah. Bersama istri dan anak. Dengan menu seadanya. Tapi nikmatnya luar biasa. Mengalahkan menu-menu hotel bintang yang pernah saya cicipi.

Selamat Idul Fitri. Happy Eid Mubarak 1439 H. Minal aidin walfaidzin. Mohon maaf lahir dan batin. (@AdlawiSamsudin)

Editor : Ali Sodiqin
#man nahnu #samsudin adlawi