Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Bayar 2,5% Untung 97,5%

Ali Sodiqin • Rabu, 23 Mei 2018 | 00:04 WIB
bayar-25-untung-975
bayar-25-untung-975

INI beberapa peristiwa yang terus terulang. Setiap tahun. Setiap Ramadan. Entah sampai kapan. Tidak ada yang bisa memastikan. Kapan peristiwa-peristiwa itu tidak terulang.

Peristiwa pertama terjadi di awal Ramadan. Tepatnya pada malam pertama. Saat salat tarawih. Orang berbondong-bondong ke masjid/musala. Laki-laki dan perempuan. Tua dan muda. Juga anak-anak. Masjid/musala pun full. Mbludak. Jamaahnya meluber sampai ke luar. Bersaf-saf di selasar. Bahkan, sampai halaman.

Fenomena itu unik. Lebih banyak wajah-wajah baru. Jamaah asing itu sangat mendominasi. Persentasenya bisa mencapai 99 persen. Jamaah lama hanya 1 persenan. Mereka yang saban hari jamaah di masjid/musala setempat tenggelam. Padahal, sehari-hari merekalah yang memakmurkan masjid. Salat berjamaah. Dalam lima waktu: Subuh, Duhur, Asar, Magrib, dan Isya. Tapi khusus di malam pertama Ramadan, mereka seolah hilang. Lenyap. Tenggelam di tengah lautan jamaah baru.

Tak sulit membedakan jamaah baru dan lama. Yang baru tampil lebih perlente. Songkok/pecinya baru. Baju kokonya baru. Sarungnya baru. Entah pakaian itu benar-benar baru. Baru beli. Sekalian untuk Lebaran. Atau sebenarnya itu pakaian lama. Yang dipakai setahun sekali. Saat Ramadan. Untuk salat tarawih. Entahlah.

Kehadiran jamaah baru itu cukup menggembirakan. Sekaligus memprihatinkan. Siapa yang tidak gembira. Melihat masjid/musala penuh. Padahal pada hari-hari biasa salat jamaah maksimal dua saf. Itu pun saf  keduanya tidak terisi semua. Jamaah baru itu sangat bersemangat. Sebelum azan, sudah berdatangan. Saya yang biasa berangkat ke musala dekat rumah saat kumandang azan, pada tarawih hari kedua terpaksa mengungsi. Ke masjid. Tidak dapat tempat. Tempat langganan saya salat, di belakang imam, sudah dikuasai jamaah baru. Sebenarnya mau salat di belakang. Tapi sudah tak ada space. Jamaah meluber sampai teras.

Pada tarawih malam ketiga baru lega. Bisa bernapas bebas. Meski masih banyak, musala/masjid sudah tidak sesak lagi. Jamaah yang baru mulai berguguran. Satu per satu protol. Mulai kelihatan. Siapa yang lebih istikamah. Ternyata jamaah lama. Pada malam kelima kemarin, jamaah lama salat di kanan-kiri dan belakang saya. Jamaah baru yang mendominasi pada malam-malam sebelumnya mulai bertanggalan. Tak tampak batang hidungnya. Mengaca pengalaman tahun-tahun sebelumnya, memasuki akhir pekan kedua jamaah baru itu benar-benar akan punah. Tidak bersisa. Sama sekali. Mereka akan muncul kembali sehari setelah Ramadan. Tampil mendominasi lagi. Yakni, saat salat Idul Fitri.

Ke mana kira-kira lenyapnya jamaah baru itu. Tak sulit mencarinya. Ternyata mereka pindah. ’Tarawih’ di pusat-pusat perbelanjaan. Bahkan tidak sekadar ’tarawih’. Tapi diimbuhi tawaf. Mengelilingi seisi toko. Berputar-putar mencari kebutuhuhan Lebaran: kue, pakaian, dlsb. Tapi tarawih yang istikamah dipastikan tidak akan menemukan mereka. Sebab, mereka tidak ada waktu untuk ke toko-toko. Usai tarawih mereka masih menambahnya dengan tadarus. Ketika siangnya mereka ke toko-toko, justru protolan jamaah tarawih yang tidak tampak. Tertidur pulas. Supaya tidak terlalu merasakan haus dan laparnya puasa.

Fenomena kedua yang juga terus terulang: orang cenderung ingat mall daripada zakat mal. Saat Ramadan menjelang akhir orang bersemangat pergi ke mall. Menghabiskan hartanya. Untuk memenuhi syahwat kemegahan. Sebaliknya mereka malas mendatangi rumah-rumah atau kantor zakat mal. Saat Lebaran banyak orang bangga memakai pakaian baru. Dan mewah. Sebaliknya mereka tidak menyesal ketika tidak membayar zakat mal. Padahal, zakat mal merupakan kewajiban. Bagi muslimin yang sudah memenuhi syara’. Punya harta yang sudah lebih dari cukup. Untuk makan diri sendiri dan keluarga.

Fakta: saat ini masih rendah kesadaran membayar zakat mal. Zakat atas harta. Rendahnya kesadaran itu boleh jadi disebabkan ketidaktahuan. Tidak paham. Masih banyak yang beranggapan, kewajiban zakat itu hanya zakat fitrah. Berupa beras 2,5 kg. Setiap setahun. Sekali saja. Di akhir Ramadan. Tidak melebihi waktu salat Idul Fitri.

Itu saja pemahaman yang sampai kepadanya. Mereka bergelimang harta. Tapi tidak tahu kalau di timbunan harta itu sebenarnya ada hak orang duafa. Tidak banyak. Hanya 2,5%.  Tapi wajib dikeluarkan. Dibayarkan lewat amil. Pihak yang kompeten mengelola dana zakat. Sebagai komisioner Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), saya bersama para komisioner lainnya terus sosialisasi. Menyadarkan mereka yang belum sadar. Orang kaya yang masih enggan berzakat mal. Mengingatkan bahaya tidak mengeluarkan zakat 2,5% dari harta yang dimiliki. Kami selalu menegaskan: 2,5% hak orang fakir miskin yang ada dalam harta kita jika tidak dikeluarkan akan merusak 97,5% keberkahan harta kita. Sudah banyak contoh. Mulai dari sinetron di tv-tv. Sampai dalam kehidupan nyata. Bagaimana hidup dalam gelimangan harta tapi tidak berkah. Rumah tangga tidak harmonis. Boros. Terus-terus didatangi cobaan dan ujian. Masalah datang silih berganti. Sehingga tak sempat menikmati gelimang harta yang dimilikinya. Kalaupun merasakan nikmat hanyalah kenikmatan semu. Yang tidak benar-benar membuat hati gulana dan tidak hidup tenteram.

Kalau Anda sering mengalami yang seperti itu, sebaiknya mulai muhasabah. Mengingat-ingat kembali. Sudahkah mengeluarkan 2,5% zakat mal dari rezeki yang Anda terima selama ini. Setidaknya dalam setahun terakhir. Atau bahkan dalam sebulan terakhir.

Atau mungkin Anda sudah tahu kewajiban mengeluarkan zakat dari harta yang dimiliki. Hanya saja belum menunaikan kewajiban itu, Karena masih ragu. Masih ada rasa eman. Atau bahkan takut akan habis hartanya.

Percayalah. Belum pernah ada ceritanya orang yang berzakat dengan ikhlas hartanya habis atau berkurang. Belum ada. Yang ada justru sebaliknya. Banyak orang memberi testimoni. Setelah menunaikan zakat mal hatinya plong. Usahanya berkembang. Itu sesuai dengan arti zakat. Secara bahasa, zakat punya beberapa arti. Salah satunya adalah an-namaa: pertumbuhan atau perkembangan. Tidak sekadar berkembang, tapi harta kita akan ath-thahara (suci) dan al-barakah (penuh keberkahan).

Mau mencoba?
(@AdlawiSamsudin)

Editor : Ali Sodiqin
#man nahnu #samsudin adlawi