TAK terasa, besok pagi, Jawa Pos Radar Banyuwangi genap berusia 18 tahun. Umur yang tidak muda. Juga tidak terlalu tua. Tapi penuh gairah. Seperti remaja 18 tahun, koran ini juga sedang dalam gairah yang tinggi. Bergairah untuk lebih maju. Bergairah untuk terus berbenah. Bergairah melayani pembaca dengan berita-berita terbaik. Bergairah menjalin kerja sama dengan banyak stake holder lagi. Bergairah membantu para mitra/klien dalam mengembangkan usahanya.
Sekadar catatan, selama 18 tahun koran ini menjadi bagian dari perkembangan Banyuwangi dan Situbondo. Menjadi saksi peristiwa politik, ekonomi, sosial, agama, seni, dan budaya. Berita-berita koran ini banyak dijadikan acuan. Bagi semua kalangan. Rasanya, kata pembaca, belum lengkap hari-hari yang kita lewati tanpa kehadiran koran ini.
Padahal, masih banyak media yang lain. Di luar sana. Terutama media daring yang merebak bak jamur. Mutakhir ini. Tapi tetap saja. Setelah sempat goyah di awal kemunculan media daring, akhirnya mulai banyak pihak kembali ke media mainstream. Kembali mencari Jawa Pos Radar Banyuwangi. Sebagai bacaan utama. Alasannya sederhana: akurasi dan keberimbangan. Lebih bisa dipercaya. Itu kata mereka: pembaca.
Sebagai bagian dari grup koran terbesar di Indonesia, koran ini memang dituntut untuk tidak ‘murtad’ dari kaidah jurnalistik. Yakni mengutamakan akurasi daripada kecepatan dalam memberitakan. Akurasi harga mati. Bagi kami, memberitakan sesuatu dengan kurang akurat dosanya sama dengan menyebarkan hoaks. Pembaca, mungkin, bisa mendapat informasi paling up to date. Tapi, buat apa up to date kalau isinya tidak akurat. Bahkan tidak berimbang. Ibarat pasutri yang sedang bertengkar hebat. Media daring pasti akan memberitakan peristiwa heboh itu. Lebih awal. Apalagi yang bertengkar tokoh publik. Pejabat atau artis. Karena dituntut cepat memberitakan, drama pertengkaran itu langsung diunggah oleh media daring. Soal ada tidaknya konfirmasi pihak yang bertengkar tak jadi soal. Kan bisa dimuat di tulisan-tulisan berikutnya. Begitu kira-kira prinsip mereka. Padahal, tidak semua orang terbiasa dan telaten mengikuti berita bersambung. Atau, tidak semua orang punya kesempatan untuk membuka internet. Setiap saat.
Nah, menunda-tunda konfirmasi tidak akan pernah dilakukan oleh media seperti koran ini. Tanpa komfirmasi yang memadai, beritanya hanyalah sampah yang akan memenuhi halaman koran. Tidak berguna. Dan menyesatkan pembaca. Alhamdulillah, kini mulai banyak pihak yang kembali ke media mainstream. Kembali menjadikan koran jadi bacaan utama. Sekaligus pembanding media daring yang kebetulan dibacanya.
Sungguh tidak mudah melayani pembaca selama 18 tahun. Tapi, kami bersyukur. Tidak hanya melayani pembaca, tapi kami juga menginspirasi kemajuan daerah ini. Patung gandrung di seberang Watu Dodol itu inspirasinya dari koran ini. Ketika itu, koran ini menampilkan gambar grafis patung gandrung berdiri di bibir pantai Watu Dodol sebagai foto utama. Ternyata Bupati Samsul Hadi tertarik. Spontan almarhum memerintahkan pembuatan patung gandrung seperti yang di koran ini. Dibangun persis di posisinya saat ini. Seperti yang terdapat di Radar Banyuwangi edisi saat itu.
Masih banyak lagi ide-ide koran ini yang diadop oleh pemkab. Juga pihak lain. Saya sebut yang terbaru saja: lomba video kreatif. Lomba yang tahun ini memasuki tahun kedua itu telah merangsang kreativitas desa/kelurahan untuk menjual potensinya lewat video pendek. Tidak lebih dari tiga menit Video karya anak desa itu telah menyedot perhatian banyak orang dari banyak negara. Viewer-nya puluhan ribu. Hampir menembus ratusan ribu. Mereka berasal dari 100 negara lebih. Bayangkan, tanpa mengeluarkan biaya promosi sepeser pun, pemkab Banyuwangi merasakan dampak yang luar biasa. Lewat karya anak-anak muda dari desa yang diunggah di you tube (10 besar saja yang diunggah panitia), Banyuwangi sudah bisa dilihat oleh puluhan ribu orang di sekitar 100 negara.
Tentu saja, masih banyak ide kreatif yang sedang digodok oleh tim kreatif koran ini. Tujuannya satu: mendorong Banyuwangi dan Situbondo menjadi lebih dinamis. Termasuk juga di dalamnya para stake holder (yang mau diajak maju).
Menandai perayaan usia ke-18, koran ini telah memilih 27 sosok yang telah menjadi bagian kemajuan daerahnya. Mereka tinggal di Bumi Blambangan dan Kota Santri. Tentu saja, masih banyak yang layak untuk kami beri perhargaan. Tapi, untuk saat ini, kami hanya memilih 27 orang. Angka 27 sama dengan angka 18. Ditotal ketemunya sama-sama 9. Angka terbesar. Yang pasti, kiprah para calon penerima penghargaan itu tidak perlu diragukan. Setidaknya, mereka sudah menginspirasi orang lain. Dengan kegiatan dan profesinya. Apa yang dilakukan bukan hanya bermanfaat bagi diri sendiri. Tapi juga bagi masyarakat. Bahkan, daerah yang ditinggalinya.
Akhirnya, mewakili seluruh keluarga besar koran ini saya mohon maaf. Sangat mungkin selama 18 tahun kami melayani, ada hal yang kurang berkenan. Mohon dimaafkan. Kami juga mohon doa dari seluruh pembaca: mudah-mudahan koran ini bertambah kreatif. Dan yang paling akhir, koran ini ingin terus menjadi inspirasi bagi semua orang. Aamiiin....(@AdlawiSamsudin, kaosing93@gmail.com)
Editor : Ali Sodiqin