Rutin Minum Banyak Suplemen? Kenali Risiko bagi Ginjal dan Hati

Shinta Ayu Rahma Wardani • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 05:15 WIB
Berbagai jenis suplemen vitamin dapat memiliki kandungan yang saling tumpang tindih. Konsumsinya perlu disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. (Jonathan Borba/Pexels)
Berbagai jenis suplemen vitamin dapat memiliki kandungan yang saling tumpang tindih. Konsumsinya perlu disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. (Jonathan Borba/Pexels)

RADAR BANYUWANGI - Mengawali pagi dengan segelas air dan beberapa butir suplemen mungkin sudah menjadi rutinitas sebagian orang. Ada vitamin C untuk daya tahan tubuh, vitamin D untuk kesehatan tulang, kolagen untuk kulit, hingga multivitamin yang diklaim mampu menjaga kebugaran.

Semuanya dianggap sebagai investasi kesehatan. Apalagi, berbagai produk tersebut mudah ditemukan di toko daring dengan sederet klaim manfaat yang menggiurkan.

Namun, pernahkah terpikir bahwa kebiasaan mengonsumsi banyak suplemen sekaligus justru bisa mendatangkan masalah?

Alih-alih membuat tubuh semakin sehat, konsumsi suplemen yang tidak sesuai kebutuhan berpotensi menimbulkan efek samping. Bahkan, dalam kondisi tertentu, penggunaan dosis berlebihan dapat membahayakan ginjal dan hati.

Baca Juga: Lansia Tak Selalu Perlu Minum Suplemen, dr Tirta: Cek Kondisi Kesehatan Dulu

Banyak Suplemen Belum Tentu Lebih Sehat

Ahli gizi yang menjadi konsultan National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat, Carol Haggans, mengingatkan bahwa kebutuhan nutrisi setiap orang tidak sama.

"Lebih banyak belum tentu lebih baik, dan alami belum tentu berarti aman," tegasnya dalam publikasi NIH News in Health.

Artinya, mengonsumsi lebih banyak suplemen belum tentu memberikan manfaat lebih besar. Produk berbahan alami pun tidak otomatis aman.

Menurut NIH, kebutuhan suplemen dipengaruhi usia, kondisi kesehatan, dan pola makan. Karena itu, mengonsumsi berbagai vitamin tanpa mengetahui kebutuhan tubuh bukan langkah yang tepat.

Masalahnya, beberapa produk dapat mengandung zat gizi serupa. Seseorang yang mengonsumsi multivitamin sekaligus vitamin C, vitamin D, dan suplemen kecantikan mungkin tidak menyadari bahwa sebagian kandungannya saling tumpang tindih.

Akibatnya, jumlah zat gizi yang masuk bisa melampaui kebutuhan harian.

Baca Juga: Tim Pemulasaraan Minta Tambahan Suplemen Vitamin

Bagaimana Suplemen Memengaruhi Ginjal dan Hati?

Ginjal berfungsi menyaring darah serta membuang zat sisa melalui urine. Sementara itu, hati berperan dalam metabolisme berbagai zat, termasuk sebagian kandungan suplemen.

Namun, bukan berarti semakin banyak kapsul yang diminum, kedua organ tersebut otomatis mengalami kerusakan.

Risikonya bergantung pada kandungan, dosis, lama konsumsi, interaksi dengan obat, serta kondisi kesehatan seseorang.

Salah satu yang perlu diperhatikan adalah vitamin C dosis tinggi.

Menurut NIH Office of Dietary Supplements, batas atas asupan vitamin C untuk orang dewasa adalah 2.000 miligram per hari. Angka tersebut merupakan batas toleransi, bukan dosis yang dianjurkan untuk dikonsumsi setiap hari.

Asupan berlebihan dapat menyebabkan diare, mual, dan kram perut. Dosis tinggi juga berpotensi meningkatkan oksalat dalam urine yang dapat berkontribusi terhadap pembentukan batu ginjal, terutama pada kelompok berisiko. Meski demikian, bukti hubungan tersebut pada orang sehat belum sepenuhnya konsisten.

Risiko lain muncul dari vitamin D yang dikonsumsi berlebihan.

Vitamin ini membantu penyerapan kalsium. Namun, kelebihan vitamin D yang berat dapat menyebabkan hiperkalsemia atau meningkatnya kadar kalsium dalam darah.

Dampaknya bisa berupa mual, muntah, gangguan ginjal, hingga gangguan irama jantung. Dalam kasus keracunan berat, gagal ginjal juga dapat terjadi.

NIH menetapkan batas atas asupan vitamin D untuk orang dewasa sebesar 4.000 IU per hari. Dosis lebih tinggi pada kondisi tertentu harus mengikuti pengawasan medis.

Baca Juga: Suplemen Iman di Tengah Pandemi

Vitamin Larut Lemak Juga Perlu Diwaspadai

Tidak semua vitamin diproses dengan cara yang sama.

Vitamin C termasuk vitamin larut air. Sementara itu, vitamin A, D, E, dan K tergolong vitamin larut lemak yang dapat disimpan dalam tubuh.

Konsumsi vitamin A dosis tinggi secara berkepanjangan, misalnya, dapat menyebabkan gangguan hati dan masalah kesehatan tulang.

Vitamin E dosis tinggi juga dapat meningkatkan risiko perdarahan, terutama apabila dikonsumsi bersama obat pengencer darah tertentu.

Adapun vitamin K dapat memengaruhi efektivitas warfarin, obat yang digunakan untuk mencegah pembekuan darah. Perubahan asupan vitamin K secara mendadak bisa mengganggu pengendalian efek obat tersebut.

Interaksi juga bisa terjadi antarsuplemen. Kalsium, misalnya, dapat menghambat penyerapan zat besi jika dikonsumsi bersamaan.

Karena itu, menggabungkan beberapa produk tanpa memahami komposisinya bukan kebiasaan yang disarankan.

Baca Juga: Teh Dioplos Alkohol dan Suplemen

BPOM Temukan Suplemen Ilegal Mengandung Bahan Kimia Obat

Persoalan suplemen tidak berhenti pada dosis berlebihan. Keamanan dan legalitas produk juga perlu diperhatikan.

Berdasarkan hasil pengawasan Mei–Juni 2026 yang diumumkan pada September 2026, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan 31 produk obat bahan alam dan suplemen kesehatan ilegal.

Dari jumlah tersebut, tiga merupakan produk suplemen kesehatan. Dua di antaranya mengandung bahan kimia obat, sedangkan satu produk tidak memenuhi persyaratan mutu mikrobiologi.

"Masyarakat jangan terkecoh oleh klaim alami, khasiat instan, atau promosi yang berlebihan," kata Kepala BPOM Taruna Ikrar.

Temuan tersebut menunjukkan pentingnya memastikan legalitas dan mutu produk sebelum mengonsumsinya.

Baca Juga: Tolak Minuman Suplemen, Pilih Jamu Tradisional

Siapa yang Membutuhkan Suplemen?

Meski memiliki risiko, suplemen bukan berarti harus dihindari seluruhnya.

Suplemen tetap bermanfaat bagi orang dengan kebutuhan gizi tertentu. Misalnya, ibu hamil yang membutuhkan asam folat, pelaku pola makan vegan yang berisiko kekurangan vitamin B12, atau pasien dengan defisiensi zat gizi yang telah dievaluasi tenaga kesehatan.

Dokter spesialis penyakit dalam dr. Sukamto Koesnoe, sebagaimana diberitakan ANTARA pada Februari 2025, menekankan pentingnya pendekatan menyeluruh.

"Perbaikan status gizi membutuhkan pendekatan menyeluruh. Tidak cukup hanya dengan makan lebih banyak atau mengonsumsi suplemen," ujarnya.

Baca Juga: Makan Semangka Setelah Minum Susu Berbahaya? Ini Penjelasan Ahli Gizi

Lima Langkah agar Tidak Salah Mengonsumsi Suplemen

Sebelum menambah koleksi vitamin di rumah, ada beberapa langkah yang patut diperhatikan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
suplemen kesehatan efek samping suplemen ginjal hati vitamin d