RADAR BANYUWANGI - Mengurangi porsi nasi putih kerap menjadi tantangan saat menjalani diet. Maklum, bagi sebagian orang Indonesia, makan belum terasa lengkap tanpa nasi. Beras shirataki dan beras porang pun dilirik sebagai alternatif. Namun, apakah keduanya benar-benar berbeda?
Jawabannya tidak sesederhana nama pada kemasan. Shirataki merupakan olahan berbahan konjak yang dapat dibentuk menyerupai mi atau butiran beras. Sementara itu, porang (Amorphophallus muelleri) merupakan tanaman umbi yang tumbuh di Indonesia dan bisa diolah menjadi tepung glukomanan, bahan baku produk shirataki.
Bahkan, produksi beras porang shirataki telah dikembangkan di Madiun, Jawa Timur. Artinya, produk yang dijual sebagai beras porang bisa saja memiliki bahan dasar serupa dengan produk berlabel shirataki. Perbedaan nyata justru perlu dilihat dari komposisi dan cara pengolahannya.
Baca Juga: Bansos Triwulan IV 2026 Disiapkan, Ada Beras 10 Kg hingga BSU Rp300 Ribu
Shirataki dan Porang, Mana yang Lebih Rendah Kalori?
Glukomanan adalah serat larut air yang dapat membentuk gel ketika bertemu cairan. Sifat tersebut membuat makanan berbahan konjak berpotensi membantu memberikan rasa kenyang lebih lama.
Mengutip Cleveland Clinic, shirataki tergolong makanan rendah kalori. Namun, produk tersebut bukan sumber utama protein, vitamin, atau mineral.
Jangan langsung percaya pada angka glukomanan atau klaim kalori yang beredar. Penelitian tim Universitas Brawijaya dalam jurnal Trends in Sciences edisi Februari 2025 menunjukkan bahwa metode ekstraksi memengaruhi karakteristik glukomanan porang.
Karena itu, konsumen perlu membandingkan informasi nilai gizi pada kemasan, terutama energi, karbohidrat total, serat, dan takaran saji. Periksa pula apakah produk berupa butiran basah siap makan atau beras kering yang harus dimasak. Nilai gizi kedua bentuk tersebut tidak bisa langsung dibandingkan.
Tekstur juga tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan namanya. Shirataki basah umumnya cenderung kenyal karena kandungan airnya tinggi.
Sementara itu, beras analog berbahan porang dapat memiliki tekstur berbeda apabila dicampur pati atau bahan pangan lainnya. Penambahan pati juga dapat meningkatkan kandungan karbohidrat.
Guru Besar Ilmu Rekayasa Pangan IPB University, Prof. Dede Robiatul Adawiyah, menjelaskan bahwa beras analog dapat dibuat dari berbagai bahan pangan.
"Mengingat sumber pati kita banyak, karbohidrat kita banyak, itu bisa dipakai untuk menghasilkan beras nonpadi," ujar Dede sebagaimana dikutip ANTARA, 17 April 2023.
Baca Juga: Indonesia Produksi 34,69 Juta Ton Beras, Mengapa Impor Ilegal Tetap Dikhawatirkan?
Beras Porang, Alternatif Pangan Lokal Indonesia
Porang juga memiliki potensi sebagai komoditas pangan lokal.
Pada 31 Agustus 2026, Pemerintah Kota Jakarta Barat memasukkan porang dalam gerakan penanaman pangan pendamping beras. Komoditas tersebut ditanam bersama singkong, pisang, dan jagung.
Langkah tersebut menunjukkan peluang pengembangan porang sebagai bagian dari diversifikasi pangan. Meski demikian, potensi tanaman lokal tidak berarti setiap produk olahannya mempunyai nilai gizi yang sama.
Baca Juga: Dilaporkan sebagai Bahan Kimia, Bea Cukai Temukan Hampir 400 Ton Beras
Bagaimana dengan Penderita Diabetes?
Mengganti nasi putih bukan satu-satunya langkah penting bagi penyandang diabetes. Jumlah karbohidrat yang dikonsumsi tetap perlu diperhatikan.
"Faktanya, orang dengan diabetes tetap boleh makan nasi asalkan memperhatikan berapa banyak karbohidrat yang mereka makan," tulis Fredy Estofany dari RSUP Fatmawati Jakarta melalui laman Kementerian Kesehatan, 30 Juli 2022.
Artinya, beras shirataki atau porang bukan jaminan gula darah langsung terkendali. Pola makan harus tetap disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan masing-masing.
Baca Juga: Powerbank Berasap di KA Argo Semeru, Ini yang Harus Dilakukan Penumpang Kereta
Tips Memilih dan Mengonsumsi Beras Pengganti Nasi
Bagi yang baru mencoba, mulailah dengan porsi kecil. Nasi putih dapat dicampur dengan produk shirataki atau porang, misalnya menggunakan perbandingan 50:50 sesuai selera. Cara ini merupakan pilihan adaptasi, bukan aturan medis.
Ikuti petunjuk memasak pada kemasan. Padukan nasi dengan sayuran serta lauk berprotein, seperti ikan, telur, tahu, atau tempe.
Perhatikan juga harga berdasarkan berat produk dan jumlah porsi yang dihasilkan. Produk berharga lebih murah belum tentu lebih hemat apabila ukuran saji atau cara pengolahannya berbeda.
Hindari meningkatkan asupan serat secara mendadak karena dapat memicu kembung, diare, atau gangguan pencernaan lainnya. Cukupi kebutuhan air minum.
Bagi pengguna obat diabetes atau mereka yang memiliki gangguan pencernaan, konsultasikan perubahan pola makan dengan tenaga kesehatan.
Editor : Lugas Rumpakaadi