Diperkuat 3 Dokter Spesialis, RSUD Blambangan Siapkan Layanan Stroke Terpadu

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 01:00 WIB
dr Firman Adi Sanjaya, dr Indah Ari Handayani, serta dr Nizam Fahmi siap memberikan layanan neurointervensi di RSUD Blambangan. (Foto: RSUD Blambangan)
dr Firman Adi Sanjaya, dr Indah Ari Handayani, serta dr Nizam Fahmi siap memberikan layanan neurointervensi di RSUD Blambangan. (Foto: RSUD Blambangan)

RADAR BANYUWANGI – Penanganan stroke berpacu dengan waktu. Untuk mempercepat deteksi hingga terapi, RSUD Blambangan Banyuwangi mengintegrasikan skrining gejala stroke melalui aplikasi Smart Kampung dengan layanan neurointervensi yang diperkuat tiga dokter spesialis serta alur perawatan khusus di Unit Stroke. Sistem ini dirancang membantu masyarakat mengenali risiko lebih dini dan mendorong pasien mendapatkan penanganan sesuai kondisi medis sebelum terlambat.

Layanan tersebut menjadi bagian dari pengembangan inovasi I-CARE (Integrated Cerebrovascular Attack Referral and Early Detection System) milik RSUD Blambangan. Melalui sistem ini, masyarakat dapat melakukan skrining awal secara digital, memperoleh arahan berdasarkan tingkat risiko, dan memahami pentingnya segera menuju fasilitas kesehatan ketika mengalami gejala stroke.

Plt Direktur RSUD Blambangan, Dr. dr. Siti Asiyah Anggraeni, MMRS, FisQua, CHQP, menjelaskan, kekuatan layanan stroke di rumah sakit milik Pemkab Banyuwangi itu terletak pada kolaborasi tenaga medis, dukungan deteksi dini, serta alur pelayanan yang terintegrasi sejak pasien datang ke instalasi gawat darurat (IGD) hingga menjalani rawat inap.

Tiga Dokter Spesialis Bergabung dalam Layanan Neurointervensi

Dukungan layanan neurointervensi RSUD Blambangan diperkuat tiga dokter dengan bidang keahlian berbeda. Mereka adalah dr. Firman Adi Sanjaya, spesialis bedah saraf yang mendalami intervensi; dr. Indah Ari Handayani, spesialis saraf sekaligus fellow intervensi; serta dr. Nizam Fahmi, spesialis radiologi yang juga mendalami radiointervensi.

Ketiganya tergabung dalam satu tim untuk mendukung pelayanan neurointervensi di RSUD Blambangan. Kolaborasi lintas spesialisasi ini menjadi salah satu kekuatan layanan stroke, karena penanganan pasien membutuhkan keahlian yang saling melengkapi sesuai kondisi medisnya.

Asiyah menyebut, model pelayanan dengan menggabungkan ketiga bidang spesialis tersebut belum banyak tersedia di rumah sakit, termasuk di Jawa Timur.

“Tidak semua rumah sakit, mungkin di Jawa Timur hanya beberapa, yang ketiga dokter ini bergabung jadi satu untuk pelayanan neurointervensi,” ungkapnya.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya rumah sakit meningkatkan kesiapan penanganan pasien stroke. Namun, kecepatan pelayanan juga sangat bergantung pada seberapa dini gejala dikenali dan seberapa cepat pasien tiba di fasilitas kesehatan.

Terintegrasi Smart Kampung, Masyarakat Bisa Skrining Gejala Stroke

Upaya memperluas akses deteksi dini dilakukan melalui integrasi I-CARE dengan aplikasi Smart Kampung. Masyarakat Banyuwangi dapat mengakses layanan kesehatan I-CARE melalui aplikasi tersebut untuk melakukan skrining awal gejala stroke.

Skrining membantu mengelompokkan kondisi pengguna berdasarkan tingkat risiko, mulai kategori ringan, sedang, hingga berat. Hasilnya menjadi panduan awal mengenai langkah yang perlu dilakukan, bukan pengganti diagnosis atau pemeriksaan langsung oleh tenaga medis.

Menurut Asiyah, pengguna dengan hasil skrining kategori ringan dan sedang diarahkan untuk menjalani pemeriksaan ke rumah sakit. Sementara itu, pengguna yang masuk kategori berat diarahkan segera menuju instalasi gawat darurat (IGD).

“Untuk kondisi ringan dan sedang, pengguna diarahkan mendapatkan pemeriksaan ke rumah sakit. Sementara kondisi yang masuk kategori berat diarahkan segera menuju Instalasi Gawat Darurat (IGD),” imbuhnya.

Sistem I-CARE juga memberikan peringatan terkait batas waktu penanganan. Fitur tersebut diharapkan meningkatkan pemahaman masyarakat bahwa menunda pemeriksaan saat mengalami gejala stroke dapat memperbesar risiko dampak serius, termasuk kecacatan.

“Di situ sudah langsung dikasih warning, ‘Anda punya waktu sekian jam untuk datang ke Rumah Sakit Blambangan’. Sehingga masyarakat tahu, oh, kalau saya melebihi ini nanti akan menimbulkan kecacatan,” jelas Asiyah.

Meski tersedia skrining digital, masyarakat yang mengalami gejala stroke berat tetap perlu segera mencari pertolongan medis. Skrining melalui aplikasi tidak boleh menjadi alasan untuk menunda penanganan darurat.

Time Is Brain, Setiap Menit Berarti bagi Pasien Stroke

Dalam penanganan stroke, dikenal istilah time is brain, yang menekankan pentingnya waktu karena keterlambatan dapat memengaruhi peluang pemulihan dan meningkatkan risiko kerusakan otak.

Asiyah mengingatkan, pasien yang datang pada periode penanganan yang tepat memiliki peluang memperoleh terapi sesuai kondisi medisnya. Karena itu, pengenalan gejala, keputusan mencari pertolongan, dan proses rujukan menjadi mata rantai penting dalam layanan stroke.

“Kalau dia datang pada saat golden period, karena time is brain istilahnya. Jadi waktu ini sangat penting untuk penderita stroke,” kata Asiyah.

Melalui I-CARE yang terhubung dengan Smart Kampung, RSUD Blambangan berupaya menjangkau masyarakat sejak tahap awal, sebelum pasien tiba di rumah sakit. Harapannya, warga lebih tanggap terhadap gejala stroke dan tidak menunggu kondisi memburuk untuk mencari pertolongan.

Unit Stroke, Perawatan Khusus dari IGD hingga Rawat Inap

Setelah pasien tiba di RSUD Blambangan, penanganan dilanjutkan melalui alur pelayanan yang terintegrasi. Prosesnya mencakup penanganan awal di IGD hingga perawatan lanjutan selama pasien menjalani rawat inap.

Rumah sakit juga menyediakan Unit Stroke, ruang rawat khusus bagi pasien stroke. Berbeda dengan ruang rawat umum yang menangani beragam penyakit, unit ini difokuskan untuk pasien stroke agar pemantauan dan pelayanan dapat lebih terarah.

“Karena kita langsung melakukan terapi, mulai IGD sampai rawat inap itu semua sudah terkoneksi. Kami sekarang punya rawat inap, namanya Unit Stroke. Di situ seluruhnya adalah pasien stroke. Jadi layanan stroke tidak kami gabung dengan penyakit lainnya,” pungkas Asiyah.

Kombinasi tim neurointervensi, skrining digital melalui Smart Kampung, dan Unit Stroke memperkuat rangkaian pelayanan stroke RSUD Blambangan. Tujuan akhirnya adalah membantu masyarakat mengenali gejala lebih dini, mempercepat akses menuju rumah sakit, serta memastikan pasien memperoleh penanganan sesuai kebutuhan medisnya. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Layanan stroke Banyuwangi Aplikasi Smart Kampung Skrining gejala stroke Dokter neurointervensi rsud blambangan