RADAR BANYUWANGI - Nasi hangat dengan taburan cabai kering menjadi pilihan praktis bagi pencinta pedas. Namun, bagaimana dampaknya jika kebiasaan tersebut dilakukan setiap hari, apalagi tanpa lauk dan sayuran?
Bagi sebagian orang, makan nasi tanpa sambal terasa kurang lengkap. Bahkan, ada yang lebih memilih sambal tabur kemasan karena praktis dan memiliki rasa pedas sekaligus gurih.
Aisyah termasuk salah satunya. Dia mengaku hampir selalu menambahkan sambal tabur, khususnya BonCabe, setiap kali makan.
“Aku kan suka pedas ya, jadi kayak tiap makan aku tuh harus naburin BonCabe gitu,” ujar Aisyah.
Menurut dia, sambal tabur lebih menarik dibandingkan saus sambal karena teksturnya.
“Rasanya udah asin, pedas, enak lah pokoknya,” tambahnya.
Meski menggugah selera, kebiasaan mengandalkan nasi dan sambal tabur sebagai menu utama perlu diperhatikan. Persoalannya bukan semata-mata rasa pedas, melainkan kecukupan zat gizi dan jumlah bumbu yang dikonsumsi.
Nasi dan Sambal Tabur Saja Belum Cukup
Sambal tabur merupakan pelengkap makanan, bukan pengganti lauk. Nasi menyediakan karbohidrat, sementara kebutuhan protein, lemak, vitamin, dan mineral harus dipenuhi melalui makanan lain.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui pedoman Isi Piringku menganjurkan konsumsi makanan beragam dengan proporsi seimbang.
“50 persen piring diisi dengan sayur dan buah,” demikian salah satu panduan Kemenkes.
Separuh piring lainnya diisi makanan pokok dan lauk-pauk.
Artinya, nasi dengan sambal tabur saja belum memenuhi anjuran tersebut jika terus-menerus dijadikan menu utama tanpa makanan pendamping.
Dokter sekaligus ahli gizi masyarakat, Tan Shot Yen, pernah menyoroti persoalan serupa ketika membahas kebiasaan mengonsumsi seblak sebagai pengganti makanan bergizi.
“Jadi akumulasi pangan amburadul membuat masalah gizi jangka panjang,” kata Tan sebagaimana diberitakan detikHealth pada 4 September 2025.
Pernyataan itu disampaikan dalam konteks konsumsi seblak, bukan penelitian khusus mengenai sambal tabur. Namun, pesannya relevan, pola makan yang tidak beragam berisiko membuat kebutuhan gizi tidak terpenuhi.
Apakah Sambal Tabur Bisa Memicu Asam Lambung?
Rasa pedas pada cabai berasal dari kapsaisin (capsaicin), senyawa yang menimbulkan sensasi panas ketika berinteraksi dengan reseptor saraf.
Pada sebagian orang, makanan pedas dapat memicu ketidaknyamanan pencernaan, seperti perut mulas, sensasi terbakar, atau diare. Makanan pedas juga dapat memperburuk gejala penyakit refluks gastroesofageal (GERD) pada individu tertentu.
Namun, anggapan bahwa makanan pedas pasti mengikis dinding lambung dan menyebabkan gastritis tidak sepenuhnya tepat.
Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), penyebab gastritis antara lain infeksi bakteri Helicobacter pylori, penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid, dan kondisi autoimun tertentu.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekaligus dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi dan hepatologi, Ari Fahrial Syam, juga mengingatkan pentingnya membatasi makanan yang mengganggu pencernaan.
“Pada saat sahur, usahakan menghindari makanan yang terlalu pedas, berlemak, dan membuat perut kita nggak nyaman pada saat siang harinya,” ujarnya kepada detikHealth dalam pemberitaan 29 Maret 2025.
Saran tersebut disampaikan dalam konteks sahur. Bagi orang yang mudah mengalami keluhan pencernaan, mengenali makanan pemicu tetap penting dalam keseharian.
Perhatikan Kandungan Garamnya
Selain kepedasan, kandungan natrium dalam sambal tabur perlu diperhatikan. Bumbu kemasan dapat mengandung garam dan bahan penambah rasa, dengan komposisi yang berbeda pada setiap produk.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan asupan natrium orang dewasa kurang dari 2.000 miligram per hari, setara dengan kurang dari 5 gram garam.
Konsumsi natrium berlebihan secara terus-menerus dapat meningkatkan tekanan darah dan risiko penyakit kardiovaskular.
Produsen BonCabe menyatakan bahwa sambal taburnya dibuat tanpa bahan pengawet dan pewarna buatan serta memiliki sertifikasi halal. Meski demikian, informasi keamanan produk tidak boleh disamakan dengan kecukupan gizi suatu menu.
Konsumen tetap perlu memeriksa komposisi, informasi nilai gizi, dan izin edar pada kemasan.
Tetap Bisa Makan Pedas, Asal Seimbang
Penggemar sambal tabur tidak harus menghindari makanan favoritnya sepenuhnya. Yang terpenting adalah menyesuaikan jumlahnya dengan toleransi tubuh dan menjaga variasi menu harian.
Nasi bisa dipadukan dengan telur, ikan, ayam, tahu, atau tempe sebagai sumber protein. Tambahkan sayuran dan buah agar asupan serat, vitamin, serta mineral lebih beragam.
Jika makanan pedas berulang kali menimbulkan nyeri ulu hati, rasa panas di dada, atau diare, sebaiknya kurangi konsumsinya dan konsultasikan kepada tenaga medis bila keluhan menetap.
Sebab, rasa pedas memang bisa membuat makanan lebih nikmat. Namun, kelezatan tidak seharusnya mengorbankan keseimbangan gizi.
Editor : Lugas Rumpakaadi