RADAR BANYUWANGI - Menyeruput kopi atau teh saat masih mengepul memang terasa nikmat. Apalagi ketika cuaca dingin. Namun, kebiasaan mengonsumsi minuman yang terlalu panas ternyata perlu diwaspadai. Paparan panas berulang dikaitkan dengan meningkatnya risiko kanker kerongkongan atau esofagus.
Badan Internasional untuk Riset Kanker (IARC), lembaga di bawah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengategorikan minuman bersuhu di atas 65 derajat Celsius sebagai kemungkinan karsinogenik bagi manusia.
Artinya, terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan kemungkinan hubungan antara konsumsi minuman sangat panas dan kanker esofagus. Meski demikian, bukan berarti setiap orang yang meminum kopi atau teh panas akan terkena kanker.
Bukan Kopi atau Tehnya, tetapi Suhunya
Risiko mengonsumsi minuman terlalu panas pernah dibahas dokter spesialis gizi klinik, dr. Christopher Andrian, M.Gizi, Sp.GK, dalam podcast YouTube Raditya Dika bertajuk Yang Butuh Gizi Nonton Ini! yang tayang pada 27 Juni 2024.
Christopher menjelaskan bahwa minuman bersuhu tinggi berpotensi merusak jaringan apabila langsung dikonsumsi.
"Kalau langsung diminum atau makan, bisa merusak sel yang ada di tenggorokan," ujar Christopher sebagaimana dikutip Okezone dalam pemberitaan 8 Juli 2024.
Penjelasan tersebut sejalan dengan perhatian para peneliti terhadap cedera akibat panas pada lapisan kerongkongan.
Dalam evaluasi yang diumumkan pada 15 Juni 2016, IARC mengklasifikasikan konsumsi minuman di atas 65 derajat Celsius sebagai kemungkinan karsinogenik bagi manusia atau Grup 2A.
Christopher Wild, yang saat itu menjabat Direktur IARC, menegaskan bahwa suhu menjadi faktor penting.
"Suhunya, bukan jenis minumannya, yang tampaknya bertanggung jawab," kata Wild dalam siaran pers IARC.
IARC juga menegaskan bahwa klasifikasi tersebut tidak menunjukkan besarnya risiko kanker pada setiap individu.
Penelitian terhadap 50 Ribu Orang Ungkap Peningkatan Risiko
Hubungan antara suhu minuman dan kanker esofagus turut diperkuat penelitian yang dipublikasikan secara daring dalam International Journal of Cancer pada 20 Maret 2019.
Penelitian tersebut melibatkan 50.045 orang berusia 40–75 tahun di Iran. Para peserta diikuti selama sekitar 10 tahun untuk mengamati hubungan kebiasaan minum teh dengan risiko kanker.
Selama masa pengamatan, peneliti mencatat 317 kasus baru karsinoma sel skuamosa esofagus, yakni kanker yang muncul pada sel pelapis kerongkongan.
Hasilnya, kelompok yang mengonsumsi sedikitnya 700 mililiter teh per hari pada suhu 60 derajat Celsius atau lebih memiliki risiko sekitar 90 persen lebih tinggi dibandingkan kelompok yang minum kurang dari 700 mililiter teh per hari pada suhu di bawah 60 derajat Celsius.
Angka tersebut menunjukkan peningkatan risiko relatif dalam kelompok penelitian, bukan berarti 90 persen peminum teh panas akan terkena kanker.
Selain itu, penelitian ini bersifat observasional. Hasilnya memperlihatkan hubungan antara kebiasaan minum teh panas dan risiko kanker, bukan membuktikan bahwa setiap paparan panas langsung menyebabkan kanker.
Penulis utama penelitian tersebut, Farhad Islami dari American Cancer Society, menyarankan masyarakat tidak terburu-buru menikmati minuman panas.
"Sebaiknya tunggu hingga minuman panas mendingin sebelum diminum," ujarnya dalam pernyataan yang diterbitkan Wiley pada 20 Maret 2019.
Jangan Abaikan Faktor Risiko Lain
Kebiasaan mengonsumsi minuman sangat panas bukan satu-satunya faktor yang berkaitan dengan kanker esofagus.
Menurut National Cancer Institute Amerika Serikat, merokok dan mengonsumsi alkohol merupakan faktor risiko penting karsinoma sel skuamosa esofagus.
Sementara itu, hubungan antara konsumsi minuman sangat panas dan kanker terutama diteliti pada paparan berulang dalam jangka panjang.
Keluhan seperti sulit menelan, nyeri saat menelan, atau penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas juga perlu diperiksakan kepada dokter.
Tunggu Minuman Mendingin Sebelum Diseruput
Lantas, bagaimana cara menikmati kopi atau teh dengan lebih aman?
Cara paling sederhana adalah membiarkan minuman mendingin terlebih dahulu. Hindari langsung menyeruput kopi, teh, atau kuah makanan yang masih terasa menyengat atau membakar mulut.
Minuman tidak harus dikonsumsi dalam keadaan dingin. Namun, sebaiknya hindari suhu yang sangat tinggi, terutama jika kebiasaan tersebut dilakukan setiap hari.
Suhu 65 derajat Celsius merupakan acuan klasifikasi IARC, sedangkan penelitian di Iran menemukan hubungan peningkatan risiko pada suhu mulai 60 derajat Celsius. Keduanya memiliki konteks ilmiah yang berbeda.
Jadi, bagi penikmat kopi dan teh, tidak perlu buru-buru menyeruput minuman yang baru diseduh. Membiarkannya sedikit mendingin menjadi langkah sederhana untuk mengurangi paparan panas berlebihan pada kerongkongan.
Editor : Lugas Rumpakaadi