Punggung Sakit setelah Berhubungan Intim, Apakah Berbahaya? Ini Penjelasan Medisnya

Rizki Anindiya Putri • Dipublikasikan Sabtu, 10 Oktober 2026 | 20:04 WIB
Ilustrasi nyeri punggung bawah. Keluhan setelah berhubungan intim dapat dipengaruhi ketegangan otot dan posisi tubuh. (Sasun Bughdaryan/Unsplash)
Ilustrasi nyeri punggung bawah. Keluhan setelah berhubungan intim dapat dipengaruhi ketegangan otot dan posisi tubuh. (Sasun Bughdaryan/Unsplash)

RADAR BANYUWANGI - Nyeri punggung setelah berhubungan intim bisa menimbulkan kekhawatiran. Apalagi jika rasa sakit muncul berulang atau membuat tubuh sulit bergerak.

Sebagian orang mengaitkan keluhan tersebut dengan frekuensi hubungan seksual yang terlalu sering. Ada pula yang khawatir nyeri punggung menjadi tanda saraf terjepit atau kerusakan tulang belakang.

Padahal, nyeri punggung setelah aktivitas seksual tidak selalu menandakan cedera serius. Keluhan tersebut dapat dipengaruhi oleh ketegangan otot, posisi tubuh, hingga gerakan yang memperberat kondisi punggung.

Lantas, apa sebenarnya yang menyebabkan punggung sakit setelah berhubungan intim?

1. Otot Punggung Mengalami Ketegangan

Saat berhubungan seksual, sejumlah kelompok otot bekerja untuk membantu gerakan dan menjaga kestabilan tubuh. Otot punggung, perut, dan pinggul ikut berperan selama aktivitas berlangsung.

Gerakan berulang atau posisi yang menuntut kerja otot lebih berat dapat memicu ketegangan. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan rasa pegal, kaku, atau nyeri.

Menurut National Health Service (NHS) Inggris, salah satu penyebab umum nyeri punggung adalah cedera atau ketegangan otot.

Namun, tidak semua nyeri punggung berasal dari otot. Penyebabnya perlu dinilai berdasarkan gejala dan pemeriksaan medis.

2. Posisi Tubuh Bisa Memperberat Nyeri

Penelitian University of Waterloo, Kanada, menunjukkan bahwa posisi tubuh saat berhubungan seksual dapat memengaruhi gerakan tulang belakang.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Spine pada September 2014 itu melibatkan 10 pasangan sehat. Peneliti menggunakan teknologi penangkap gerakan untuk mengamati pergerakan tulang belakang dalam lima variasi posisi hubungan seksual.

Hasilnya menunjukkan bahwa posisi yang dianggap nyaman belum tentu sesuai bagi setiap orang, terutama mereka yang memiliki riwayat nyeri punggung.

"Posisi hubungan seksual yang cocok untuk satu jenis nyeri punggung belum tentu sesuai untuk jenis nyeri punggung yang lain," kata peneliti utama Natalie Sidorkewicz, sebagaimana dikutip dari keterangan resmi University of Waterloo.

Temuan itu menjadi pengingat bahwa pemicu nyeri bisa berbeda pada setiap individu. Kendati demikian, penelitian tersebut berskala kecil dan tidak secara langsung menguji risiko cedera akibat frekuensi hubungan seksual.

3. Gerakan Pinggul Perlu Diperhatikan

Profesor biomekanika tulang belakang University of Waterloo, Stuart McGill, menjelaskan pentingnya memperhatikan pola gerakan tubuh.

Dalam wawancara dengan ABC Science pada 11 September 2014, McGill menyoroti penggunaan pinggul untuk membantu mengurangi gerakan yang membebani tulang belakang.

"Semakin banyak gerakan bertumpu pada pinggul dan semakin sedikit pada tulang belakang, semakin baik bagi punggung," ujar McGill.

Karena itu, seseorang yang memiliki keluhan punggung sebaiknya menghindari gerakan yang memicu atau memperburuk nyeri. Posisi yang terasa nyaman bagi satu orang belum tentu cocok untuk orang lain.

4. Apakah Terlalu Sering Berhubungan Intim Menyebabkan Saraf Terjepit?

Tidak ada dasar untuk menyimpulkan bahwa frekuensi hubungan seksual tertentu secara otomatis menyebabkan saraf terjepit.

NHS menjelaskan bahwa nyeri punggung memiliki berbagai penyebab. Selain ketegangan otot, keluhan dapat berkaitan dengan gangguan bantalan antarruas tulang belakang atau iritasi saraf.

Karena itu, nyeri setelah berhubungan intim tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami gangguan saraf.

Pemeriksaan diperlukan apabila keluhan menetap, berulang, atau disertai gejala lain yang mengganggu.

5. Cara Mengurangi Nyeri Punggung

Jika nyeri tergolong ringan dan tidak disertai tanda bahaya, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan.

Pertama, hentikan sementara aktivitas atau gerakan yang memperberat rasa sakit.

Kedua, tetap lakukan aktivitas ringan sesuai kemampuan. NHS tidak menganjurkan tirah baring berkepanjangan untuk kebanyakan kasus nyeri punggung.

Ketiga, gunakan kompres dingin yang dibungkus kain untuk membantu mengurangi nyeri dan pembengkakan. Kompres hangat juga dapat membantu meredakan kekakuan atau kejang otot.

Selain itu, hindari memaksakan posisi tubuh yang menimbulkan ketidaknyamanan.

6. Kapan Harus Memeriksakan Diri?

Nyeri punggung yang tidak membaik dalam beberapa minggu, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau semakin berat perlu diperiksakan kepada dokter.

Pertolongan medis segera diperlukan apabila nyeri muncul mendadak dengan intensitas berat atau disertai demam dan kondisi tubuh yang memburuk.

Sementara itu, nyeri punggung yang disertai kelemahan atau mati rasa pada kedua kaki, hilangnya sensasi di sekitar selangkangan, maupun gangguan buang air kecil atau besar merupakan tanda bahaya yang membutuhkan penanganan darurat.

Editor : Lugas Rumpakaadi
kesehatan tulang belakang saraf terjepit nyeri punggung setelah berhubungan intim sakit pinggang setelah seks penyebab nyeri punggung