RADAR BANYUWANGI - Tidur tengkurap mungkin terasa paling nyaman bagi sebagian orang. Namun, kebiasaan tersebut bisa menjadi salah satu penyebab leher kaku dan punggung pegal saat bangun pagi.
Saat tidur tengkurap, kepala biasanya harus menoleh ke salah satu sisi agar hidung dan mulut tidak terhalang kasur atau bantal. Jika berlangsung selama berjam-jam, posisi tersebut dapat meningkatkan ketegangan pada otot leher.
Bukan hanya leher, posisi tengkurap juga berpotensi memberikan tekanan tambahan pada punggung bawah dan bahu. Meski demikian, dampaknya tidak selalu sama pada setiap orang.
Dokter Tirta turut menyoroti kebiasaan tersebut karena dinilai dapat memengaruhi posisi alami tubuh ketika beristirahat.
"Tidur tengkurap mengganggu posisi anatomis tubuh," kata dr. Tirta sebagaimana dikutip dalam video yang diunggahnya.
Lantas, apa sebenarnya dampak tidur tengkurap bagi tubuh? Berikut penjelasannya berdasarkan sejumlah sumber medis.
Mengapa Tidur Tengkurap Bisa Membuat Leher Pegal?
Cleveland Clinic dalam artikel kesehatan yang diterbitkan pada 12 Juni 2023 menjelaskan bahwa tidur tengkurap dapat menambah tekanan pada leher, punggung, dan bahu.
Andrew Bang, DC, praktisi kiropraktik di Cleveland Clinic, menerangkan bahwa posisi kepala yang terus menoleh saat tidur membuat otot leher mengalami peregangan dalam waktu lama.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan rasa nyeri atau kaku setelah bangun tidur.
Selain itu, posisi tengkurap dapat mengganggu keselarasan tulang belakang. Bagian pinggul dan perut yang bertumpu pada kasur berpotensi membuat punggung bawah berada dalam posisi yang kurang netral.
Akibatnya, otot dan sendi di sekitar tulang belakang tidak memperoleh posisi istirahat yang optimal.
Masalah serupa juga disoroti dokter dari Kelompok Staf Medis Ortopedi dan Traumatologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Rahyussalim.
"Posisi tidur itu sangat penting, jangan menetap di satu posisi," ujarnya dalam diskusi daring, sebagaimana diberitakan ANTARA pada 29 April 2024.
Menurut dia, penggunaan bantal yang tidak sesuai serta kebiasaan mempertahankan posisi tidur tertentu terlalu lama dapat menimbulkan ketidaknyamanan pada leher.
Bagaimana Pengaruhnya terhadap Pernapasan dan GERD?
Tidur tengkurap juga membuat bagian depan tubuh, termasuk dada dan perut, bertumpu pada kasur.
Pada sebagian orang, kondisi tersebut dapat memengaruhi kenyamanan bernapas. Namun, tidur tengkurap tidak otomatis menyebabkan gangguan pernapasan pada setiap orang.
Begitu pula dengan penyakit refluks gastroesofageal atau gastroesophageal reflux disease (GERD). Belum cukup bukti untuk menyimpulkan bahwa kebiasaan tengkurap secara langsung menyebabkan GERD.
Meski demikian, posisi tidur memang dapat memengaruhi gejala refluks asam lambung, terutama pada malam hari.
Sebuah uji klinis terhadap 100 pasien dengan keluhan refluks pada malam hari, yang dipublikasikan dalam jurnal Clinical Gastroenterology and Hepatology pada 2022, menemukan bahwa terapi posisi tidur yang mendorong pasien berbaring miring ke kiri dapat membantu meredakan gejala dibandingkan kelompok kontrol.
Dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorok dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Niken Ageng Rizki, juga menekankan pentingnya pengaturan posisi tubuh bagi penderita refluks.
"Pada kondisi asam lambung naik, posisi tidur juga harus naik 30 derajat, tidak boleh terlentang rata," ujarnya, sebagaimana diberitakan ANTARA pada 18 November 2021.
Peninggian tersebut perlu menopang tubuh bagian atas, bukan hanya membuat leher tertekuk akibat tumpukan bantal.
Posisi Tidur yang Lebih Nyaman untuk Tubuh
Untuk membantu mengurangi tekanan pada leher dan punggung, tidur miring atau telentang dapat menjadi alternatif.
Ketika tidur miring, gunakan bantal yang mampu menjaga kepala dan leher tetap sejajar dengan tulang belakang. Bantal tambahan juga dapat ditempatkan di antara kedua lutut untuk membantu menjaga posisi pinggul.
Sementara itu, tidur telentang dapat membantu mendistribusikan berat tubuh secara lebih merata. Menempatkan bantal di bawah lutut juga bisa mengurangi ketegangan pada punggung bawah.
Namun, telentang bukan pilihan terbaik bagi semua orang. Cleveland Clinic mengingatkan bahwa posisi tersebut dapat memperburuk gangguan pernapasan saat tidur pada sebagian penderita obstructive sleep apnea.
Karena itu, pemilihan posisi tidur perlu disesuaikan dengan kenyamanan dan kondisi kesehatan masing-masing.
Bagaimana Jika Sudah Terbiasa Tidur Tengkurap?
Mengubah kebiasaan tidur tidak selalu mudah, terutama bagi orang yang telah bertahun-tahun terbiasa tengkurap.
Salah satu cara yang dapat dicoba ialah menempatkan bantal penyangga di samping tubuh agar lebih mudah mempertahankan posisi miring.
Jika masih tidur tengkurap, Cleveland Clinic menyarankan penggunaan bantal kepala yang sangat tipis atau tanpa bantal apabila nyaman. Bantal tipis di bawah panggul juga dapat membantu mengurangi lengkungan berlebihan pada punggung bawah.
Perubahan posisi sebaiknya dilakukan bertahap tanpa memaksakan tubuh berada dalam posisi yang justru menimbulkan nyeri.
Apabila nyeri leher atau punggung terus berulang, semakin berat, atau disertai kesemutan, kelemahan anggota gerak, maupun mati rasa, sebaiknya periksakan diri ke dokter.
Perlu diingat, anjuran ini ditujukan bagi orang dewasa. Untuk bayi, American Academy of Pediatrics merekomendasikan posisi telentang saat tidur guna mengurangi risiko kematian mendadak terkait tidur.
Editor : Lugas Rumpakaadi