Benarkah Stres Bisa Bikin Kolesterol Naik? Ini Penjelasan dr. Tirta

Rizki Anindiya Putri • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 08:44 WIB
Tekanan pekerjaan dan stres berkepanjangan dapat memengaruhi kondisi fisik serta kebiasaan sehari-hari. (Vitaly Gariev/Unsplash)
Tekanan pekerjaan dan stres berkepanjangan dapat memengaruhi kondisi fisik serta kebiasaan sehari-hari. (Vitaly Gariev/Unsplash)

RADAR BANYUWANGI - Stres akibat pekerjaan atau tekanan psikologis berkepanjangan bukan hanya berdampak pada kesehatan mental. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi keseimbangan hormon dan metabolisme tubuh, termasuk proses yang berkaitan dengan kadar kolesterol dalam darah.

Dokter Tirta Mandira Hudhi atau dr. Tirta mengingatkan bahwa stres yang berlangsung terus-menerus dapat mengganggu keseimbangan tubuh.

"Stres kerja terus menerus ini akan mengakibatkan ketidakseimbangan hormon di dalam tubuh," ujar dr. Tirta, sebagaimana dikutip PRFM News dari tayangan YouTube miliknya pada 12 Februari 2025.

Lantas, bagaimana stres dapat memengaruhi kolesterol? Apakah seseorang yang sering mengalami tekanan pekerjaan otomatis berisiko memiliki kolesterol tinggi?

Bagaimana Stres Memengaruhi Kolesterol?

Ketika seseorang mengalami stres, tubuh mengaktifkan respons untuk menghadapi tekanan. Kelenjar adrenal kemudian melepaskan hormon, antara lain kortisol dan adrenalin.

Kortisol membantu menyediakan energi dengan meningkatkan ketersediaan glukosa dalam darah. Respons stres juga dapat meningkatkan pemecahan lemak menjadi asam lemak bebas.

Jika berlangsung berkepanjangan, perubahan hormon dan metabolisme tersebut berpotensi memengaruhi pengaturan lemak dalam darah.

National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI) Amerika Serikat menjelaskan bahwa stres dapat meningkatkan kadar hormon tertentu yang berperan dalam metabolisme. Namun, kolesterol tinggi juga dipengaruhi pola makan, aktivitas fisik, faktor keturunan, kondisi kesehatan, dan penggunaan obat tertentu.

Karena itu, stres tidak bisa disebut sebagai satu-satunya penyebab meningkatnya kolesterol.

Stres Kronis Juga Berkaitan dengan Resistensi Insulin

Hubungan stres dan metabolisme turut menjadi perhatian peneliti.

Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan dalam jurnal Diabetology & Metabolic Syndrome pada 27 Juni 2026 menganalisis 30 penelitian dengan total 12.491 peserta.

Hasilnya menunjukkan adanya hubungan antara tingkat stres yang dirasakan dan resistensi insulin. Namun, peneliti menegaskan bahwa temuan tersebut masih bersifat eksploratif dan belum membuktikan hubungan sebab-akibat.

Untuk kolesterol total dan kolesterol baik (HDL), hubungan yang ditemukan belum mencapai tingkat signifikansi statistik konvensional. Bukti terkait kolesterol jahat (LDL) juga masih terbatas.

Artinya, stres mungkin berperan dalam perubahan metabolisme, tetapi tidak dapat dipastikan bahwa setiap orang yang mengalami stres akan mengalami kenaikan kolesterol.

Kebiasaan Saat Stres Bisa Memperburuk Kondisi

Selain perubahan hormon, stres berkepanjangan sering disertai kebiasaan yang kurang sehat.

Seseorang yang menghadapi tekanan pekerjaan mungkin menjadi kurang tidur, jarang berolahraga, atau lebih sering mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh.

Dokter Muliaman Mansyur pernah menjelaskan bahwa hubungan stres dan kolesterol juga dapat terjadi secara tidak langsung melalui perubahan kebiasaan makan.

Dalam pemberitaan detikHealth pada 17 September 2019, ia menyebut stres terkait secara positif dengan kebiasaan makan yang kurang sehat, berat badan berlebihan, dan diet yang kurang sehat.

Kondisi tersebut penting diperhatikan karena pola makan dan kurangnya aktivitas fisik merupakan faktor yang dapat memengaruhi kadar kolesterol.

Kapan Perlu Memeriksa Kolesterol?

Kolesterol tinggi umumnya tidak menimbulkan gejala khas. Karena itu, seseorang tidak dapat mengetahui kadar kolesterolnya hanya berdasarkan keluhan fisik.

Pemeriksaan profil lipid melalui tes darah diperlukan untuk mengetahui kadar kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliserida.

Frekuensi pemeriksaan dapat disesuaikan dengan usia, riwayat kesehatan keluarga, serta faktor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.

Di sisi lain, pengelolaan stres tetap penting untuk menjaga kesehatan secara menyeluruh. Upayanya dapat dilakukan dengan tidur cukup, rutin beraktivitas fisik, membatasi makanan tinggi lemak jenuh, dan mengatur waktu istirahat.

dr. Tirta juga pernah menekankan manfaat olahraga terhadap kondisi psikologis dan kualitas tidur.

"Olahraga itu akan justru mengurangi rasa stres, meningkatkan rasa happy, dan meningkatkan kualitas tidur Anda," ujarnya dalam konten yang dipublikasikan StarHits pada Januari 2023.

Meski demikian, mengelola stres bukan pengganti pengobatan kolesterol. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kadar lemak darah tidak normal, konsultasi dengan dokter tetap diperlukan untuk menentukan penanganan yang sesuai.

Editor : Lugas Rumpakaadi
hormon kortisol dr. Tirta stres kerja kolesterol tinggi pemeriksaan profil lipid