RADAR BANYUWANGI - Mengoleskan odol atau pasta gigi pada luka bakar masih menjadi kebiasaan sebagian masyarakat. Sensasi dingin dari mint kerap dianggap mampu meredakan panas pada kulit.
Padahal, pasta gigi bukan obat luka bakar. Produk tersebut juga tidak dirancang untuk digunakan pada jaringan kulit yang mengalami cedera.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengingatkan bahwa penggunaan pasta gigi pada luka bakar dapat menyebabkan iritasi dan berpotensi memperburuk kondisi kulit. Pertolongan pertama yang dianjurkan justru jauh lebih sederhana, yakni mengalirkan air bersih pada area yang terkena luka bakar selama sekitar 20 menit.
Air yang digunakan sebaiknya bersuhu sejuk atau normal. Bukan air es.
Sensasi Mint Bukan Tanda Luka Membaik
Salah satu alasan odol masih dipercaya dapat mengatasi luka bakar adalah sensasi dingin setelah dioleskan.
Sensasi tersebut memang bukan sekadar sugesti. Mentol dapat mengaktifkan reseptor TRPM8 pada saraf sensorik yang berperan dalam mendeteksi suhu dingin.
Mekanisme itu antara lain dijelaskan dalam penelitian David D. McKemy, Werner M. Neuhausser, dan David Julius yang dipublikasikan dalam jurnal Nature. Penelitian tersebut mengidentifikasi reseptor yang merespons suhu dingin dan mentol.
Namun, rasa dingin pada kulit tidak berarti proses pendinginan jaringan akibat luka bakar sudah memadai. Sensasi sejuk juga bukan tanda bahwa kerusakan jaringan telah berhenti.
Dokter Saddam Ismail turut mengingatkan agar pasta gigi tidak digunakan pada luka bakar.
“Odol itu tidak dibuat untuk kulit. Apalagi untuk kulit yang sedang terluka karena luka bakar,” kata Saddam seperti dikutip RRI pada 31 Mei 2026.
Menurut dia, sejumlah bahan dalam pasta gigi berpotensi mengiritasi kulit yang telah mengalami kerusakan.
Odol Bukan Produk Perawatan Luka
Komposisi setiap pasta gigi memang dapat berbeda. Namun, pada dasarnya produk tersebut dibuat untuk membersihkan gigi dan rongga mulut, bukan untuk merawat luka terbuka atau kulit yang terbakar.
Kemenkes menyebut bahan abrasif dan sejumlah bahan kimia dalam pasta gigi dapat menambah iritasi pada kulit yang mengalami luka bakar.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga tidak menganjurkan penggunaan pasta atau bahan oles rumahan pada luka bakar. Pendinginan dengan air mengalir menjadi salah satu tindakan awal yang direkomendasikan.
Peringatan serupa pernah disampaikan dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi konsultan RSCM, Aditya Wardhana.
Dalam webinar RSCM yang diberitakan ANTARA, Aditya mengingatkan agar luka bakar tidak diberi odol, mentega, maupun kecap. Ia menganjurkan bagian yang terkena luka bakar dialiri air selama sekitar 20 menit.
Begini Pertolongan Pertama Luka Bakar
Saat terkena luka bakar akibat panas, langkah pertama adalah menjauhkan tubuh dari sumber panas. Setelah itu, segera dinginkan bagian kulit yang terkena.
Pedoman Kemenkes dan National Health Service (NHS) Inggris sama-sama menekankan penggunaan air mengalir sekitar 20 menit.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Lepaskan perhiasan, jam tangan, atau pakaian di sekitar luka jika masih mudah dilepas. Namun, jangan menarik benda atau pakaian yang sudah melekat pada kulit.
Alirkan air bersih pada bagian yang terbakar selama sekitar 20 menit. Hindari penggunaan es atau air yang terlalu dingin karena dapat menyebabkan cedera tambahan pada jaringan.
Setelah didinginkan, luka dapat dilindungi secara longgar menggunakan penutup yang bersih dan tidak mudah menempel pada kulit.
Lepuhan yang muncul juga sebaiknya tidak dipecahkan sendiri karena lapisan tersebut membantu melindungi jaringan di bawahnya dari kontaminasi.
Yang tidak kalah penting, hindari mengoleskan odol, minyak, mentega, kecap, krim, atau bahan rumahan lainnya tanpa anjuran tenaga medis.
Kapan Harus ke Fasilitas Kesehatan?
Tidak semua luka bakar dapat ditangani sendiri di rumah.
Segera cari pertolongan medis jika luka terlihat dalam atau luas, kulit tampak putih, cokelat, kehitaman, atau hangus. Pemeriksaan juga diperlukan apabila luka mengenai wajah, tangan, kaki, alat kelamin, atau persendian utama.
Luka bakar akibat listrik dan bahan kimia juga membutuhkan penanganan medis karena kerusakan yang terjadi dapat lebih serius daripada yang terlihat dari permukaan kulit.
Korban yang mengalami sesak napas setelah menghirup asap atau uap panas juga harus segera mendapatkan pertolongan.
Intinya, rasa dingin bukan ukuran bahwa sebuah bahan aman digunakan pada luka bakar. Mentol dalam pasta gigi memang dapat memberi sensasi sejuk, tetapi odol bukan obat luka bakar.
Saat kulit terkena panas, langkah yang lebih tepat adalah menghentikan paparan sumber panas dan mengalirkan air pada luka selama sekitar 20 menit. Jika luka luas, dalam, mengenai bagian tubuh penting, atau disebabkan listrik dan bahan kimia, segera cari bantuan medis.
Editor : Lugas Rumpakaadi